----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk

TIDAK ADA JENDRAL YANG MAMPU PIMPIN KUDETA

        JAKARTA, (TNI Watch!, 26/1/2000). Letjen (pur) Hasnan Habib mengaku
sama sekali tidakpercaya terhadap rumor bahwa militer akan melakukan kudeta.
Sebab, saat ini tidak ada satu pun tokoh militer Indonesia yang punya
pengaruh besar dan bisa diterima semua kelompok militer. Termasuk Wiranto
sekalipun. "Jadi, sulit dipercaya kalau militer melakukan kudeta. Itu hanya
isu yang tidak bertanggung jawab," ujar Hasnan.

        Militer Indonesia menurut Hasnan berbeda dengan dengan militer
negara kecil di Afrika dan Amerika Selatan. Di negara-negara tersebut,
seorang berpangkat kapten atau kolonel bisa melakukan kudeta. Tapi, di
Indonesia, jangan harap itu terjadi meski pelakunya seorang berpangkat
jenderal. Sebab, negara Indonesia terlalu luas. Dengan demikian, bisa saja
seorang jenderal menguasai Jakarta lewat jalan kudeta, tapi belum tentu
dapat dukungan daerah. "Karena itu, saya tidak percaya ada kudeta dari pihak
militer," jelas Hasnan.

        Selain itu, lanjut Hasnan, para prajurit akan berpikir seribu kali
untuk mendukung tokoh militer yang melakukan kudeta. Sebab, taruhannya
sangat besar, menyangkut karier, martabat, dan nasib keluarganya. "Saya
yakin prajurit tidak akan gegabah karena menyangkut karier dan keluarga para
prajurit sendiri," tambahnya.

        Menurut Hasnan, sedikitnya, ada lima alasan yang memungkinkan
militer melakukan kudeta. Pertama, jika eksistensi militer terus dirongrong
dan akan dihilangkan. Kedua, jika pemimpin militer Indonesia beranggapan
negara sudah terancam disintegrasi, tapi tidak ada yang mampu mencegah. Itu
bisa dikatakan faktor pendorong. Ketiga, bila pemimpin militer beranggapan
bahwa masalah fundamental, yakni persatuan dan kesatuan, mulai diotak-atik
atau mau diganti. Keempat, pemimpin militer merasa pemimpin nasional ikut
terlibat memojokkan institusi militer. Kelima, khusus Indonesia, kudeta
hanya bisa dilakukan jika militer Indonesia punya pemimpin yang berbobot dan
berpengaruh besar seperti Panglima Besar Sudirman.

        "Saya kira kelima syarat yang diperlukan tadi tidak ada di Indonesia
saat ini," jelas Hasnan. Logikanya, dari fakta di atas bisa disimpulkan
bahwa kudeta militer yang banyak dikhawatirkan orang, termasuk Amerika, sama
sekali tidak logis. Hasnan tidak sependapat bila disebut alasan kudeta itu
dilatarbelakangi sikap pemerintah yang membiarkan KPP HAM Timtim memeriksa
para jenderal, termasuk Menko Polkam Jenderal Wiranto. "Saya kira itu tidak
ada kaitannya dengan isu kudeta. Begitu juga soal rencana mutasi
besar-besaran di tubuh militer," paparnya. ***

_______________
TNI Watch! merupakan terbitan yang dimaksudkan untuk mengawasi prilaku TNI,
dari soal mutasi di lingkungan TNI, profil dan catatan perjalanan
ketentaraan para perwiranya, pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang
dilakukan, politik TNI, senjata yang digunakan dan sebagainya. Tujuannya
agar khalayak bisa mengetahuinya dan ikut mengawasi bersama-sama.

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 27 Jan 2000 jam 01:46:53 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke