---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk AGAMA BUKAN AKAR KONFLIK MATARAM, (SiaR, 26/1/2000). Tak satu pun agama mengajarkan umatnya untuk melakukan pertumpahan darah. Akan tetapi agama selalu dijadikan salah satu dimensi konflik. Demikian dikemukakan Menteri Agama Tolchah Hasan di STAIN Mataram, Selasa (25/1) kemarin. Tolchan mengatakan sikap permusuhan mulai dikembangkan dengan persepsi antarumat lain agama. Misalnya jika umat Islam melawan Kristen menganggap dirinya sedang melakukan perang Sabil. Jika kalah, maka akan mati syahid. Di lingkungan umat Kristen pun dikembangkan persepsi serupa sehingga permusuhan meruncing. "Kenapa kita tidak menciptakan sikap perdamaian," ujarnya. Menag mengatakan orang tak lagi saling bunuh antarumat beragama, bahkan antar mereka yang seagama. Dicontohkan masyarakat Timtim yang main bunuh di antara mereka, pun membakar tempat peribadatannya sendiri. Demikian halnya di Aceh. Sementara di Ambon Islam dan Kristen sulit dipertemukan. Namun itu bukan persoalan teologinya. Di Bali misalnya, Hindu mayoritas, namun hidupnya damai. Begitu halnya di NTB, Islam mayoritas namun damai. Hal serupa ada di NTT. "Agama tidak bisa disebut akar konflik. Namun pasti ada sesuatu di belakang itu yang bukan karena faktor agama," cetus Tolchan Hasan. Ia mensitir deklarasi yang dimotori pemuda di Ambon yang menyebutkan bahwa kerusuhan di Ambon akibat konspirasi politik di mana agama menjadi alat dan rakyat dijadikan korban. Menag sekaligus mempertanyakan kenapa terjadi fenomena kekerasan yang menggunakan simbol agama. Menurut Menag, perubahan perilaku masyarakat disebabkan munculnya trend global dalam kehidupan berbangsa seperti demokratisasi, HAM dan lingkungan hidup. Sebuah negara memberikan bantuan kepada negara lain tidak lepas dari pertanyaan sejauh mana negara bersangkutan melakukan demokratisasi. Di Indonesia demokrasi secara eksplosif meledak dalam berbagai bentuk aksi unjuk rasa. Arus demokrasi tersebut sangat sulit dibendung. Karena itu ia mengingatkan kalangan dosen dalam hubungannya dengan mahasiswa tidak lagi menggunakan paradigma normatif, melainkan mengarah pada paradigma dialogis. *** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 27 Jan 2000 jam 02:50:57 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
