---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Rakyat Merdeka, 22 Januari 2000 Akrobat Poros Tengah Sungguh Menggelikan Oleh Paidjan Kartosentono MENCERMATI tingkah laku atau manuver politik Poros Tengah akhir- akhir ini, sungguh menggelikan. Aksi Siaga Sejuta Umat Islam yang digelar di Silang Monas, Jum'at (7/1) lalu atau sehari menjelang Lebaran, menunjukkan bahwa para politikus,khususnya kelompok Poros Tengah, melakukan manuver politik pengerahan massa. Manuver yang dibalut dengan kemasan "Aksi Keprihatinan" terhadap tragedi di Maluku itu, mendesak pemerintah agar pertikaian di Maluku segera ditangani secara serius. Dan bila tidak, maka pihaknya akan mengirim "pasukannya" untuk melakukan jihad. Beberapa waktu kemudian, terdengar kabar bahwa sekitar 400 orang "kiriman" kelompok ini konon berangkat ke Ambon untuk melakukan jihad. Atas perilaku ini, tak urung menimbulkan sikap reaktif dari Presiden Gus Dur. Pada hari raya Lebaran, Gus Dur mengatakan bahwa ada kelompok politik yang hendak menurunkan dirinya dari jabatan presiden. Ia memberi 'warning' kepada kelompok tertentu yang belakangan ini dinilai memaksakan kehendaknya kepada pemerintahannya. Kelompok tertentu yang dimaksudkan ternyata adalah kelompok yang melakukan apel akbar di Silang Monas itu, yang dikatakan Gus Dur sebagai memaksa dirinya untuk berhenti dari jabatan presiden. "Pemerintah akan mengambil tindakan tegas terhadap kelompok manapun yang dalam memperjuangkan tujuannya menggunakan cara- cara kekerasan yang mengancam keselamatan negara," kata Gus Dur saat melaksanakan acara halal bihalal di Jakarta, belum lama ini. Karenanya, terhadap 400 orang yang diberangkatkan dengan kapal dari Tanjung Priok ke Maluku itu, Gus Dur memerintahkan Kapolri dan Panglima TNI untuk mengkarantina dan menggeledahnya. Bila ada senjata di dalamnya, agar dirampas dan pemegangnya harus ditahan. Begitulah suasana politik menjelang Lebaran beberapa waktu lalu. Sikap yang meledak-ledak dari Ketua MPR Amien Rais, yang dikenal sebagai "pemeran utama" Poros Tengah bersama Hamzah Haz dan Ahmad Sumargono, akhirnya membuka "pertarungan" baru antara Gus Dur dengan kelompok ini. Memang bisa dipahami bahwa sikap Gus Dur yang cukup keras dalam menyikapi ancaman Amien Rais Cs itu, dikarenakan pernyataan- pernyataan Amien Rais belakangan ini terbaca bukan sebagai buah pikir positif dan kreatif dalam membenahi kondisi dalam negeri. Namun justru kontra produktif karena terus memancing situasi semakin memanas. Dalam kasus pertikaian Maluku,pernyataan semacam itu tak akan membuahkan kesejukan apapun kecuali situasi kisruh yang lebih riuh. Dalam pernyataannya pada apel akbar itu, Amien Rais mengeluarkan ancaman secara keras dengan mengatas namakan umat Islam. Kata Amien, umat Islam mendesak Gus Dur segera menyelesaikan masalah Ambon. Jika Gus Dur tidak dapat segera mengakhiri konflik horizontal itu, wakil-wakil rakyat di DPR dari partai-partai Islam akan mengajukan mosi tidak percaya. Pernyataan semacam inilah yang kemudian banyak menimbulkan tafsir berbeda-beda. Tak kurang anggota DPR dari Fraksi Kebangkitan Bangsa, Effendy Choiri, menilai bahwa ucapan-ucapan Amien Rais itu amat provokatif. Ia menilai, betapa Amien Rais tak lagi bisa membedakan kapasitasnya sebagai ketua MPR dan ketua partai politik. Sebab, pernyataan semacam itu selain dapat mengganggu upaya pemulihan keamanan di Maluku, juga berpotensi mengobarkan emosi umat Islam. Sedangkan Ketua PAN AM Fatwa menolak pendapat ini dan dia mengartikan 'statement' Amien Rais itu sebagai kritik terhadap pemerintahan Gus Dur. Hal ini lalu ditimpali lagi oleh pernyataan Ahmad Sumargono bahwa yang menolak jihad adalah antek Orde Baru (Orba). Mencermati tingkah laku politik semacam ini - khususnya yang dilakukan Poros Tengah, timbul kesan betapa para politikus saat ini terus melakukan "akrobat Politik" untuk mencapai tujuannya. Berbagai kelemahan dalam penanganan suatu masalah, senantiasa dijadikan komoditas politik untuk saling menjelekkan, bahkan bila mungkin untuk menjatuhkan. Tak terkecuali, yang tampak adalah manuver Poros Tengah yang kini bermain dalam pola semacam ini. Walaupun kemudian ramai-ramai disangkal bahwa hal itu hanyalah sebuah reaksi spontan untuk menunjukkan solidaritas. Sebagai warga negara yang menginginkan ketenangan, tentu saya ikut prihatin dan bertanya-tanya, apa sebenarnya keinginan para tokoh politik yang kita miliki saat ini? Bukankah cara-cara itu tidak akan menghasilkan suatu jalan keluar yang sejuk, enak dan penuh keseriusan? Apakah tidak bisa bila cara-cara lembut yang dipergunakan,sehingga bila terjadi silang pada pendapat dimusyawarahkan secara dewasa? KUDETA Bila secara kasat mata memandangnya, terus terang dapat dikatakan bahwa cara-cara pengerahan massa dalam menekan pemerintah itu tak ubahnya sebuah cara kudeta. Mengapa saya katakan sebagai cara kudeta? Karena, dalam memperoleh kekuatan tekanan politik selalu menggunakan kekuatan dan emosi massa sehingga pemerintah dan segenap perangkatnya bisa ketakutan bila tak memenuhi keinginan kelompok-kelompok yang menekannya. Pemaksaan kehendak melalui pengerahan massa tak ubahnya merupakan wujud kudeta, yakni: suatu perebutan kekuasaan walau dalam terbatas. Dalam konteks ini, bila acara apel akbar yang digelar oleh Poros Tengah tersebut tak berhasil, itu berarti kudeta yang dilakukannya dalam skala ini memang tidak berhasil alias gagal. Karenanya, wajar saja bila Gus Dur memberikan peringatan keras terhadap kelompok ini, sebab pemerintahan yang dikendalikannya justru sedang mencari jalan keluar dari kemelut pertikaian Maluku yang terus memanas. Hanya saja, karena sikap kurang sabar dan egoisme, kelompok itulah (Poros Tengah) yang justru menyebabkan suasana politik sulit untuk bisa dikatakan sebagai kondusif. Yang perlu diperhatikan saat ini sebenarnya bukanlah manuver- manuver politik pengerahan massa seperti itu. Dalam penyelesaian masalah yang berskala nasional semacam pertikaian Maluku adalah tak cukup dengan gegap gempita manuver politik, namun melalui upaya serius para elitenya. Bukan dengan sikap kecam mengecam, ancam-mengancam, namun dengan sebuah cara berunding yang tulus yang didasari niatan budi luhur demi menyelamatkan seluruh warga rakyatnya. Karenanya, solusi yang mesti ditempuh, andaikan kelompok Poros Tengah hendak memberikan saran kepada pemerintahan Gus Dur, temuilah dan ajaklah berbicara secara santun supaya pikiran dan hati semua pihak tenang dan jernih. Kiranya begitulah pikiran rakyat yang tak butuh manuver politik. Siapapun menghendaki bahwa tak ingin melihat darah mengalir, kebencian merajalela dan pertikaian terus membara dimana-mana. Kehendak yang tulus untuk memperbaiki keadaan harus dilakukan dengan cara-cara tulus, murni, tanpa muatan-muatan politik hanya untuk kepentingan kelompok dan ambisi pribadi. Sebab, beban yang akan diderita oleh warga rakyat bukan akan bertambah ringan bila kepentingan menunggangi cara yang disebut pengorbanan. Manuver politik hanya akan menghasilkan reaksi politik. Kecaman dan ancaman hanya akan menghasilkan cara untuk pasang kuda-kuda. Kiranya Poros Tengah harus belajar dari pengalaman dan juga mau mendengar keinginan rakyat dari manapun lapisan dan golongannya. Sekali lagi, janganlah suka memaksakan kehendak. Berikanlah apa yang bisa dimanfaatkan oleh pemerintahan ini, supaya keadaan politik tidak terus-menerus kisruh hanya karena manuver untuk perjuangan yang egois. Sebab, rakyat riil juga pasti tidak nyaman bila setiap kali harus gonta-ganti pemerintahan.*** (Penulis adalah pengamat masalah sosial politik, Alumnus Pasca Sarjana UI) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 27 Jan 2000 jam 04:05:45 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
