---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Rakyat Merdeka, 24 januari 2000 MENGGANTI KEPEMIMPINAN SECARA RADIKAL Gagasan Prof. Sarbini Somawinata untuk mengganti kepemimpinan Gus Dur yang bergaya pesantren, sebenarnya tidak sangat mengejutkan. Dalam apa yang disebut "Dialog Nasional" tanggal 15 Januari lalu di Jakarta, Sarbini mengetengahkan gagasannya yang dinilai awam cukup radikal, untuk mengganti kepemimpinan nasional sekarang ini dengan kepemimpinan yang lebih kuat, tangguh dan sanggup menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi. Ada dua alterntif, demikian kata cendekiawan senior ini. Pertama, berupa paksaan. Jelasnya, memaksa Gus Dur mengundurkan diri. Atau yang kedua : dengan cara damai tanpa kekerasan. Caranya, mudah saja. Dengan cara mengadakan perubahan secara drastis pada struktur kekuasaan. Catat berikut ini. Mengutarakan gagasan memang rumit. Pelaksanaannya akan jauh lebih rumit lagi. Pasalnya, rakyat Indonesia sudah terlalu lama direkayasa dengan iming-iming, dininabobokan, bahkan sering dipaksa selama tiga dasawarsa membebek para pemimpin yang hobinya menggantang asap. Itu satu. Kemudian yang kedua, mempersiapkan kepemimpinan yang seratus persen berorientasi kepada rakyat, diperlukan satu generasi secara konsisten dan contoh soal yang konsekuen. Tidak sekedar dengan cara menyuruh, mengibau dan segudang anjuran saja. Keteladanan sangat penting. Masalah pribadi Gus Dur dan latar belakang pendidikannya, tak pelak lagi sangat mempengaruhi gaya kepemimpinannya. Gus Dur pernah tinggal di Mesir, saat Presiden Gamal Abdul Nasser menyuarakan cita-cita bangsa Arab yang sekian ratus tahun terjajah, tentu membuatnya sadar akan nasib bangsanya sendiri. Pernah tinggal di Irak, dimana Partai Baath, partai rakyat sosialis berjuang keras untuk mencari identitas bangsa-bangsa Arab, tentu membuatnya teringat nasib bangsanya di Asia Tenggara. Semua gagassan yang diperolehnya itu, bisa kita urutkan sebagai berikut. Pertama, kesederajatan nasional. Kedua, kesederajatan religius, baik bagi mayoritas maupun minoritas religi. Ketiga, kederajatan politik. Keempat, kesedarajatan gender. Kelima, kesedarajatan sosial dan keenam, kesederajatan ekonomi. Keenam tuntutan akan kesederajatan itu, merupakan latar belakang gagasan, tidak saja Gamal Abdul Nasser, Nehru dan Soekarno. Akan tetapi juga para pemimpin Asia lain bahkan para pemimpin Afrika, termasuk bekas Presiden Nelson Mandela. Latar belakang dan sumber gagasan demikian itu telah digusur bersih dari Nusantara, oleh rejim Soeharto yang malang melintang selama tiga dasawarsa lebih dengan bantuan kekuatan internasional yang sangat reaksioner. Mengapa latar belakang historik ini tidak dikemukakan satupun cendekiawan yang hadir di forum "Dialog Nasional", yang diselenggarakan Indonesian Democracy Monitor berjudul Prospek Politik Oposisi pada 15 Januari lalu itu? Jika hanya sekedar memunculkan strata oposisi saja, tentunya tidak terlalu sulit. Bahkan untuk menggusur kepemimpinan Gus Dur, apalagi Megawati Soekartoputri, sama sekali tidak terlalu sulit. Akan halnya gagasan itu, bukankah Poros Tenah pernah mengutarakannya, namun kemudian ditarik kembali? mungkin karena momentumnya belum pas saja. Itulah, mengapa yang harus dipertimbangkan masak-masak, adalah calon pengganti mereka yang benar-benar tidak punya pamrih, tidak memiliki ambisi pribadi maupun kepartaian, bahkan sanggup mati berkalang tanah bagi cita-cita luhur bangsanya. Tidak sekedar manusia berbakat, mahir dalam disiplin administrasi pemerintahan, ekonomi dan moneter, mahir menata keamanan, tetapi juga mahir dalam KKN mahir dalam ketidaktransparan, mahir dalam menguras sumber kekayaan negara dan memakmurkan para kroni dinasti mereka. Pikirkan masak-masak untuk mengambil keputusan di saat kestabilan keamanan, politik dan ekonomi sedang mengalami gonjang-ganjing. Menyesal belakangan, tentu tidak pernah ada manfaatnya. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 27 Jan 2000 jam 04:04:30 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
