---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Presiden RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Majallah "SPIEGEL"no.4/2000 --- INTERVIEW (Presiden Abdurrahman Wahid tentang kerusuhan-kerusuhan berdarah di Negeri Kepulauan Indonesia, tentang kerakusan pendahulu-pendahulunya, dan tentang start menuju Demokrasi) - Der indonesische Staatspresident Abdurrahman Wahid �ber die blutigen Unruhen in seinem Inselreich, die Raffgier seiner Vorg�nger und den demokratischen Neuanfang SPIEGEL: Mr. President, saat ini Indonesia berada dalam keadaan krisis terbesar selama sejarahnya, Amerika Serikat telah memperingatkan akan adanya coup d'etat militer. Sampai di mana keseriusan Anda menanggapi kekuatiran tersebut? Wahid: Kecemasan pemerintah Amerika tersebut dapat saya mengerti. Kami, 210 juta manusia, Nasion nomor empat terbesar di dunia, - dan memang pemberontakan-pemberontakan bisa membahayakan proses demokratisasi. Namun, di propinsi-propinsi Aceh, Maluku dan Irian Jaya kami telah dekat dengan suatu penyelesaian. Bahkan saya berpendapat bahwa sejauh ini keadaannya membaik kembali. Meskipun demikian, kami tak ragu, juga tanpa mengumumkan keadaan darurat, mengambil tindakan bilamana perlu. SPIEGEL: Bahwasanya pada pekan yang lalu juga di pulau turis Lombok, dekat Bali, gereja-gereja mulai dibakari, adalah suatu hal yang tidak menenangkan. Sebagaimana terjadi ketika berpisahnya Timor Timur, tampaknya api akan menjadi meluas. Akan kita alamikah keruntuhan Indonesia? Wahid: Tidak, yang kami alami adalah hanya tantangan dari beberapa orang-orang yang berhasrat ingin memerintah, tapi tak kami ijinkan, karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk itu. SPIEGEL: Sedemikian banyaknya pemberontakan dan kerusuhan-kerusuhan berdarah yang terjadi, tampaknya militer Indonesialah yang bertanggungjawab. Wahid: Tentusaja di belakangnya ada jendral-jendral. Hal itu tak pernah saya sangkal, tetapi mereka bukan militer dalam arti institusi. SPIEGEL: Bukankah dalang-dalang tersebut bukan hanya membahayakan stabilitas Indonesia, tapi juga membahayakan seluruh kawasan? Wahid: Telah saya katakan kepada Panglima TNI agar memecat seorang perwira-tinggi militer dan empat lainnya perwira-perwira resimen, dan juga ada dua orang mantan jenderal yang telah saya batasi. SPIEGEL: Militer dan milisi hanyalah sebagian dari masalah-masalah. Ditambah pula terdapat konflik-konflik etnis dan agama. Wahid: Banyaknya pelaku kerusuhan hanya terbatas jumlahnya. Misalnya di Ambon, di Kepulauan Maluku, ummat Keristen dan Islam padaumumnya hidup harmonis bersama. Mereka diadu-dombakan oleh provokator-provokator. Selang beberapa lama, hal tersebut diketahui juga oleh orang banyak. SPIEGEL: Berarti Anda tidak menganggap adanya bentrokan antar-kultur? Wahid: Kami tahu bahwa mereka yang menyerukan perang agama melawan Keristen, hanyalah minoritas kecil saja. SPIEGEL: Di saat ini di banyak desa-desa di pulau Jawa terdapat tempat-tempat merekrut para relawan yang dipancing dengan slogan-slogan yang menyerukan pergi berjihad ke Maluku. Apakah perkembangan yang demikian itu tidak berbahaya untuk masadepan Indonesia? Wahid: Seandainya di sana benar-benar relawan direkrut, itu hanya dengan menggunakan propaganda kotor. Kami menginformasikan kepada semua orang melalui berbagai saluran, bahwa situasi pada saat ini tidak kritis. Sesungguhnyalah bahwa sebagian besar kaum Keristen dan Islam di Ambon telah bersama-sama merayakan Hari Natal dan Hari Raya Idul Fitri, berakhirnya bulan puasa Ramadan. SPIEGEL: Dalam pada itu, hanya dalam waktu setahun saja sudah lebih dari 2000 orang tewas, - apakah itu karena meningkatnya fundamentalisme? Wahid: Memang sangat disesalkan bahwa tidak selalu dapat kami hindarkan jatuhnya korban-korban. Kaum radikal tersebut mengganas kadang-kadang di sini, lantas di sana, dan kami tak bisa mengetahui di mana berikutnya. Namun, Anda boleh percaya: Akan kami bereskan tak lama lagi. Ini semua hanya geleparan-geleparan terakhir, - saya tidak perlu kuatir. SPIEGEL: Anda adalah seorang pemimpin organisasi Muslim terbesar di dunia, Nahdatul Ulama yang beranggotakan sekitar 30 juta orang. Apakah Anda memandang Indonesia lebih dekat ke pihak Dunia Arab ataukah sebagai partner Barat? Wahid: Selama Islam menghormati Hak-Hak Azasi Manusia dan Kenegaraan Hukum, saya berpegang pada prinsip-prinsip Islam, karena bersangkutan dengan nilai-nilai dasar kemanusiaan. Dengan demikian, saya tidak hanya mengikuti pola berpikir Barat. SPIEGEL: Indonesia sedang dalam perjalanan menuju Era baru , yang demokratis. Bagaimana bentuk rencana Anda tentang masadepan Indonesia? Wahid: Planning untuk itu tentu tidak berasal dari saya saja. Ditetapkan sesuai dengan kebutuhan untuk mempertahankan Demokrasi. Point yang lebih penting adalah menjamin penegakan hukum. Selanjutnya, tanggungjawab pemerintah terhadap Rakyat harus jelas sejelas-jelasnya. Bagi setiap penduduk harus dijamin kesamaan, tidak dibedakan agama, kebudayaan, kekhususan dan keyakinan berdasar etnis ataupun politisnya. Ditambah pula dengan hak untuk mengeluarkan pendapat. SPIEGEL: Justru nilai-nilai tersebut tadilah selama ini tidak baik penampilannya. Wahid: Sayalah satu-satunya pemimpin Muslim yang menolak seruan hukuman-mati oleh Ayatollah Khomeini terhadap Salman Rushdi. Rushdi berhak mempublikasikan ide-ide dan literaturnya, juga meskipun buku-buku dia tak saya sukai. Ketika pernyataan tersebut saya kemukakan di depan umum, saya tidak pernah lagi diundang oleh kedutaan Iran, - namun itu saya anggap tak masalah. Kami negeri besar, nasion besar, kami tidak mengijinkan siapapun juga untuk mengkomando kami. SPIEGEL: Apakah Anda tidak takut betapa perubahan tiba-tiba ke arah demokratisasi berakibat runtuhnya kesatuan Indonesia, sebagaimana terjadi dengan Sowyet-Uni? Wahid: Contohnya Rusia sekarang, Sowyet-Uni telah memaksa manusia-manusia hidup di dalam satu negara, di luar kehendak mereka. Berbeda dengan Indonesia. Di Indonesia terdapat kebutuhan yang nyata untuk hidup di dalam satu nasion, sebagai satu bangsa, dengan suatu falsafah kenegaraan bersama. Pendiri negeri ini, Sukarno, telah dengan tepat mengetahuinya. Tetapi penerus.penerusnya, Suharto dan Habibie telah membuat kesalahan, kesadaran kolektip nasional di-exsploitasi untuk kepentingan-kepentingan pribadi mereka. Namun, itu tidak merubah kesadaran nasional. Rakyat kami mungkin saja berbeda pandangan tentang bentuk-bentuk pemerintahan mana yang baik, namun mereka memiliki satu persamaan pendirian: Semua menghendaki menjadi orang Indonesia di dalam satu negara bersama. SPIEGEL: Banyak orang mengharapkan bahwa Anda memerintahkan membuka proses terhadap Clan Suharto atas tuduhan kejahatan-ekonomi dan korupsi. Jika tidak, demikian kabarnya, Anda akan cepat kehilangan kepercayaan. Wahid: Kedua-dua mantan presiden, Habibie dan Suharto, seharusnya tidak akan digugat oleh pemerintah kami yang baru dipilih secara bebas ini, tapi ini sekali-kali tidak berlaku terhadap keluarga-keluarga mereka. SPIEGEL: Jadi Anda tak akan menuntut maupun menghukum Suharto, meski konon kabarnya dia telah berhasil menyisihkan bermilyar-milyar. Wahid: Tentusaja dia harus dihadapkan ke pengadilan. Telah saya instruksikan kepada Jaksa Agung. Tapi setelah dia dinyatakan bersalah, akan saya beri pengampunan. Untuk itu kami berhak kuasa. Tetapi hanya Suharto dan Habibie yang akan saya beri amnesti, Clan mereka samasekali tidak. SPIEGEL: Itu malah tidak konsekwen. Wahid: Sebagai nasion yang masih muda, kami seharusnya menunjukkan respekt terhadap kepalanegara-kepalanegara yang terdahulu. Dalam hal yang menyangkut Suharto, masalahnya hanya tinggal persoalan biologis saja; dia sudah tak akan lama hidup. SPIEGEL: Apa usaha Anda agar uang yang diambil itu bisa mengalir kembali untuk Indonesia? Wahid: Anda ambillah contoh dengan Filipina dan Iran. Di sana terhadap bekas kepalanegara-kepalanegaranya juga dituduhkan hal yang serupa. Apa yang terjadi? Apakah uang itu kembali? Tidak. Saya berpendapat bahwa lebih baik berunding dengan keluarga-keluarganya Habibie dan Suharto. Itu adalah satu-satunya chance yang realistis untuk berhasilnya pengembalian uang tersebut. Proses-proses pengadilan tak akan menghasilkan apa-apa, hanya akan menguntungkan bank-bank internasional. Mereka akan memindah-mindahkan uang itu ke sana ke mari, lantas dibelanjakan, di-investasi-kan --- gila. SPIEGEL: Pada Era Suharto telah terjadi tak terhitung banyaknya pelanggaran-pelanggaran HAM, juga di saat pemerintahan Habibie di Timor Timur. Beranikan Anda membawa petinggi-petinggi militer yang bersangkutan ke pengadilan? Wahid: Anda tak usah kuatir. Itu akan terjadi. SPIEGEL: Juga mantan Panglima TNI dan sekarang Menteri urusan Politik dan Keamanan, Jendral Wiranto, tangan kanannya kedua pendahulu-pendahulu Anda? Wahid: Tidak. Jika Komisi HAM memutuskan bahwa Wiranto bersalah atas kejadian-kejadian di Timor Timur itu, dan dia sendiri bersedia bertanggungjawab, maka saya akan meminta agar dia mengundurkan diri, tapi tak akan dihukum. Ini tak berlaku untuk yang lain-lainnya. Saya berprinsip bahwa: kami menghormati institusi-institusi, sedangkan individu-individu boleh dihukum. Wiranto melambangkan institusi militer. SPIEGEL: Hampir semua negara-negara di kawasan ini tampaknya sudah terbebas dari krisis Asia baru-baru ini, hanya Indonesia saja yang masih terus dalam keadaan merangkak. Usaha apa yang harus dilaksanakan untuk menggalakkan kembali perekonomian Indonesia? Wahid: Pemerintah-pemerintah lainnya di Asia ini sungguh-sungguh berusaha untuk kebaikan negeri dan masyarakat mereka. Sebaliknya penguasa-penguasa kami yang lalu, cuma punya satu perhatian: menumpuk kekayaan pribadi. Mereka membuat kesalahan-kesalahan di bidang ekonomi, di mana-mana tersebar meluas KKN. SPIEGEL: Sampai saat ini apa-apa saja yang telah diperbaiki oleh pemerintahan Anda? Wahid: Kami harus menegakkan kembali hal-hal yang dasar. Kami harus mewajibkan berlakunya prinsip-prinsip persaingan, pasaran-bebas, perdagangan internasional yang bebas. Kami menghendaki diperbaikinya standard-hidup bagi segenap penduduk, palingtidak agar mayoritas orang yang bekerja memperoleh pendapatan yang layak. SPIEGEL: Indonesia kaya akan bahan-bahan tambang, misalnya emas dan minyakbumi, tapi membutuhkan modal dari luarnegeri. Apa yang harus dilakukan? Wahid: Kami menawarkan pelbagai keringanan-keringanan. Itulah sebabnya mengapa barusan ini Perdana Menteri Singapura Goh Chok Tong, dalam kunjungan kenegaraan, berjanji bahwa orang-orang dari negerinya akan pertama-tama masuk sebagai investor-investor di Indonesia. Lantas sekarang diikuti oleh suatu delegasi dari Amerika Serikat, dan saya menilai bahwa negara-negara lainnya juga akan datang kembali. Saya tidak melihat adanya halangan-halangan, selain masalah keamanan yang akan kami selesaikan secepatnya. SPIEGEL: Anda dikritik, dikatakan terlalu banyak melakukan perjalanan ke luarnegeri, bukannya mengurus perekonomian di dalamnegeri. Wahid: Buat apa Menteri Perekonomian yang tidak mengurus investasi-investasi? Saya mengadakan kunjungan-kunjungan kenegaraan itu karena saya menjelaskan bahwa kami mengharapkan dukungan terhadap integritas-teritorial negeri kami, dan juga memberi semangat kepada para investor di luarnegeri agar masuk ke Indonesia. Mengkritik usaha demikian itu, adalah menunjukkan sikap yang tidak perdulian. SPIEGEL: Juga orang meragukan bahwa Wakil Presiden Anda Megawati Sukarnoputri tak akan mampu memerintah di saat-saat Anda sedang tidak ada. Bahkan pernah Anda sendiri menyebutnya sebagai "Nol politis". Wahid: Tentusaja dia mampu melaksanakan jabatan itu ! Dia memiliki kepribadian yang tenang, di Kabinet dia hanya berbicara jika saya minta. Selanjutnya masalahnya dia tangani dengan cara yang mengagumkan. Dia mengarahkan diskusi ke temanya, dan kadang-kadang memperingatkan saya jika saya lalai. Problemnya adalah: Dia diam karena berpikir dalam, sedangkan wartawan-wartawan kami tidak sabaran. Namun, Rakyat --- mereka mencintai Megawati. SPIEGEL: Indonesia telah memperoleh kredit sebesar 40 milyar dari IMF untuk bantuan pembangunan. Bagaimana persyaratan-persyaratan yang dikaitkan? Wahid: Persyaratan-persyaratan untuk pasaran-bebas dan persaingan yang fair harus kami jamin tanpa ditunda-tunda, selain itu diminta penghentian subsidi dari pemerintah. Namun, jika kami tiba-tiba tidak diperbolehkan menopang harga-harga beras dan minyak-makan, maka itu seolah berarti langsung bunuhdiri. Hal ini sudah saya terangkan kepada IMF, mereka memberikan batas waktu selama tiga tahun untuk masa transisi. SPIEGEL: Idee Anda tentang Zona Perdagangan Bebas di Pulau Batam, padamulanya tidak disetujui oleh IMF. Wahid: Zona seperti itu bukanlah untuk menantang Singapura, melainkan juga untuk dimanfaatkan oleh negeri-tetangga tersebut. Hanya di Batam saja kami bisa mengijinkan 90 000 kemungkinan-kemungkinan investasi bagi pengusaha-pengusaha dari Singapura. Dan itu berarti lebih dari setengah juta lowongan kerja untuk orang-orang Indonesia. SPIEGEL: Apakah yang Anda harapkan dari perjalanan ke Eropah tak lama lagi ini? Wahid: Sangat sederhana saja - lebih banyak investasi dan lebih banyak bantuan untuk pembangunan. SPIEGEL: Anda pernah tinggal di kota K�ln. Masih adakah hubungan-hubungan khusus yang ada rasakan dengan Jerman? Wahid: Tentusaja. Pada tahun 1970 saya tinggal di kota K�ln selama tiga bulan, di J�licher Stra�e. Saya keras dipengaruhi oleh kesusasteraan Jerman. Telah saya baca bukunya Heinrich B�ll: "Gruppenbild mit Dame", Hermann Hess: "Siddharta" dan tak terlupakan: karya-karyanya G�nter Grass. Saya juga menghargai para Klasik Jerman berikut pula terjemahan-terjemahan ke bahasa Jerman buku-buku Rusia, misalnya oleh Ilja Ehrenburg. Tetapi bagi saya ternyata tidak mudah membacanya dalam bahasa Jerman. SPIEGEL: Apa saja yang Anda pernah lakukan di K�ln? Wahid: Menunggu diterima masuk ke Universitas Jerman. Tapi saya empat kali tidak lulus ujian-masuk, lantas saya memutuskan untuk berangkat meninggalkan Jerman. SPIEGEL: Selain kesusasteraan Jerman, apa lagi yang menarik perhatian Anda? Wahid: Musik klasik. Barangkali di seluruh Asia-Tenggara ini, sayalah pemilik kumpulan terbesar dari Simfoni Kesembilannya Beethoven, - 23 atau 24 rekaman. SPIEGEL: Anda sekarang sudah hampir 100 hari dalam jabatan. Ketika sebelum Anda menduduki jabatan ini, pernah Anda berkata, bahwa Anda sebenarnya lebih senang mengumpulkan lelucon-lelucon yang terbaik dari seluruh dunia. Apakah Anda masih bisa diajak berkelakar? Wahid: Tentusaja. SPIEGEL: Sekarang ini apa lelucon yang Anda paling sukai? Wahid: Tiga orang spion-spion atom --- satu orang Jepang, satu orang Perancis dan satu orang Amerika --- sebelum menjalani hukuman-mati diijinkan menyebut satu permintaan terakhir. "Saya melakukan itu untuk Perancis", kata si orang Perancis, "maka dari itu saya minta diputarkan lagu Marseillaise." Si orang Jepang sangat memohon: "Saya minta diijinkan untuk mengkuliahkan tentang keluarga-berencana dan manajemen Jepang." Dengan serta-merta berkatalah si orang Amerika:"Tolong gantunglah saya, sebelum orang Jepang itu memulai kuliahnya". SPIEGEL: Mr.President, kami mengucapkan terimakasih atas pembicaraan ini. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 28 Jan 2000 jam 07:53:50 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
