----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk

Dini S. Setyowati:

                          PUTRA FAJAR
                              (5)
                  Masa Pergolakan Yang Besar

DI BULAN Agustus 1945 Indonesia tengah berada dalam situasi
pergolakan nasional. Jepang berusaha menutupi situasi medan
perang dan perkembangannya yang buruk bagi pihaknya. Tapi
hampir semua kaum terpelajar dan pergerakan di Indonesia
mendengar berita-berita tentang perkembangan perang dunia di
Barat. Rezim fasis Jerman yang di ambang kekalahan, Berlin
telah direbut tentara Soviet dan Hitler telah bunuh diri di
markas persembunyiannya.

     Yang banyak berjasa dalam penyebaran informasi penting
itu adalah para pekerja koran ilegal "Menara Merah". Koran ini
terbit stensilan di bawah tanah, dan dibagi-bagi dari tangan
ke tangan. Ini juga yang menyebabkan semangat perlawanan
rakyat makin bertambah besar. Meskipun teror berdarah Jepang
semakin membabi buta, namun grup-grup perlawanan baru banyak
bermunculan. Terutama banyak grup-grup perlawanan baru yang
dipimpin oleh kader-kader PKI bawah tanah. Sidik Kertapati,
Wikana, Aidit dan Lukman, adalah beberapa nama di antara
tokoh-tokoh pimpinan gerakan perlawanan ilegal itu. Organisasi-
organisasi seperti "Indonesia Merdeka" dan "Gerakan Indonesia
Baru", telah memberikan sumbangan besar dalam mempersiapkan
rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan nasional.

     Tidak terhitung betapa banyak orang-orang komunis dan
sosialis kiri yang telah membayar dengan nyawa mereka, demi
sikap patrotik yang mereka nyatakan secara konsekuen. Termasuk
mereka yang bernama Pamuji dan Sukayat, serta masih banyak
lagi nama-nama kader PKI ilegal, yang gugur dalam
mempersiapkan pemberontakan-pemberontakan melawan Jepang, oleh
batalyon-batalyon PETA di Blitar pada 14 Februari 1945.

      Memang kelompok-kelompok komunis bersenjata itulah yang
memimpin perlawanan fisik. Tokoh-tokoh muda terkemuka, seperti
Aidit Nyoto dan Wikana, tampil di barisan depan dalam memimpin
perjuangan bersenjata ini.

     Seperti halnya kaum Komunis Vietnam, juga PKI berangkat
dari titik tolak analisis, bahwa dalam sekitar bulan Agustus
1945 itu fasisme Jepang sudah tidak mampu lagi menghadapi
perlawanan rakyat di mana-mana. Sedangkan tentara Sekutu, yang
baru saja keluar dari perang besar, tidak bisa segera
melancarkan aksi pendudukan di seluruh negeri-negeri bekas
jajahan Jepang. Maka terjadilah masa kosong yang bisa
menimbulkan kesempatan bersejarah.

     Kemerdekaan Republik Indonesia berhasil diproklamasikan
tanpa pertumpahan darah. Rakyat di seluruh pelosok negeri
bangkit melakukan aksi-aksi kemerdekaan sendiri-sendiri. Kaum
buruh mengamankan instalasi-instalasi produksi. Buruh kereta
api, yang dipimpin oleh kader PKI bawah tanah, Jokosujono,
mengambil alih kekuasaan atas prasarana jaringan rel dan
stasion. Tapi yang paling penting satuan-satuan tentara Jepang
satu demi satu diserbu dan dilumpuhkan, persenjataan mereka
direbut oleh aksi-aksi pemuda yang bergerak spontan. Kesatuan
PETA dan HEIHO terpaksa dibubarkan. Tapi banyak anggota dua
pasukan itu yang sudah tak lagi mau patuh kepada Jepang, tidak
mau menyerahkan senjata mereka, malah berdesersi menggabung
dengan lasykar-lasykar para pemuda. Pertempuran sengit terjadi
di sana-sini, di mana Jepang tidak mau sukarela menyerah. Tapi
pada akhirnya tidak ada lagi perlawanan. Jauh sebelum
Sekutu mendarat masuk Indonesia, lebih separoh tentara Jepang
sudah diinternir di kamp-kamp Republik Indonesia. Mereka yang
masih di luar kamp sudah tidak ada lagi yang bersenjata,
sehingga sudah tidak ada daya untuk berlawan.

     Pada masa pendudukan Jepang kerjasama aksi perlawanan
antara gerakan legal dan ilegal masih sangat erat. Sukarno dan
kaum politisi dari kalangan burjuasi nasional naik daun, baik
di mata rakyat Indonesia maupun di mata dunia internasional.
Tapi sementara itu, mereka yang melakukan perlawanan
bersenjata dan langsung berhadapan dengan maut, yang sebagian
besar terdiri dari kaum buruh, tani dan pemuda, hampir tidak
pernah mendapat sorotan perhatian. Tidak banyak diketahui,
bahwa mereka itulah sesungguhnya yang mendesak Sukarno-Hatta
yang masih tetap dalam bimbang, ketika situasi kritis telah
mencapai puncaknya. Bom atom Amerika Serikat sudah jatuh,
Jepang menjelang tekuk lutut, dan tentara Sekutu belum sempat
masuk Indonesia. Sementara itu seluruh kekuatan rakyat sudah
bersatu padu, mendesak agar proklamasi kemerdekaan Indonesia
segera diumumkan.

     Pada tanggal 15 Agustus 1945 tokoh-tokoh muda komunis dan
sosialis seperti Aidit, Wikana dan Subadio, bersama dengan
tokoh pemuda Murba Suroto Kunto masih berdebat dengan Sukarno-
Hatta. Namun tanpa hasil yang pasti. Baru ketika perundingan
dilanjutkan di Rengasdengklok, dan desakan agar proklamasi
kemerdekaan segera diucapkan didukung oleh wakil-wakil pemuda
berbagai golongan, Sukarno bersedia memenuhi harapan para
pemuda. Perundingan Rengasdengklok itu berlangsung di rumah
seorang Tionghwa, yang menyediakan rumah kediamannya sebagai
markas bawah tanah gerakan kemerdekaan. Di halaman rumah
Tionghwa inilah sesungguhnya, Merah Putih telah berkibar bebas
untuk pertama kali di Indonesia. Dua hari sebelum proklamasi
kemerdekaan pada jam 10:00 WIB tanggal 17 Agustus 1945 itu
diumumkan.

     Kelambatan dan kembimbangan bertindak tegas ketika itu,
tenggelam dalam semangat dan perasaan rakyat seluruh negeri,
yang bersatu padu berjuang untuk kemerdekaan bangsa dari
penjajahan asing. Juga tidak ada orang yang menimbang dan
membanding jasa, apakah dia dari kelompok ini atau itu, apakah
dia dari gerakan ilegal atau legal. Dalam masa pergolakan
hebat itu semua orang menjadi satu sesaudara dan kawan
seperjuangan*.

KUMANDANG suara Proklamasi yang diucapkan Soekarno, dan
ditandatangani oleh Soekarno - Hatta atas nama bangsa
Indonesia, dari halaman depan rumah Sukarno di Jalan
Pegangsaan 56 Jakarta, telah mengalir bagaikan air bah
perjuangan di seluruh pelosok negeri menuju ke satu muara
samudera kemerdekaan.

     Pemerintah Kerajaan Belanda mengikuti perkembangan di
negeri bekas jajahannya yang luas dan kaya itu dengan penuh
kekhawatiran. Tetapi luka-luka perang yang dideritanya selama
Perang Dunia yang baru saja usai, mencegah kemungkinan negeri
kecil di pantai barat Eropa ini mengambil tindakan atas bekas
jajahannya. Yang mereka lakukan ialah kampanye politik untuk
membangun opini dunia, dengan melancarkan fitnah bahwa Sukarno
adalah kolaborator Jepang, dan dengan demikian Republik
Indonesia adalah "republik" fasis. Republik Indonesia adalah
"Bom Waktu Jepang", begitu sebutan yang diberikan oleh Perdana
Menteri Belanda Gerbrandy**. Tapi tanpa menghiraukan fitnah
dan manuver politik kolonial itu, Republik Indonesia telah
bertekad: Sekali Merdeka Tetap Merdeka!

     Bersama dengan perjalanan waktu, keadaan pergolakan dunia
juga berkembang. Juga Indonesia tak terkecuali. Gerakan massa
yang terkoordinasi telah menghasilkan kemenangan, negara baru
Republik Indonesia telah lahir. Namun demikian lambat-laun
kenyataan memperlihatkan adanya konflik-konflik kepentingan
antara klas-klas yang berbeda. Tampak jelas betapa besar
ambisi kaum burjuasi nasional untuk memonopoli kekuasaan di
pucuk pimpinan negara muda ini. Dengan segala daya upaya
mereka menentang berbagi kekuasaan dengan wakil-wakil kaum
buruh dan tani. Pertentangan demikian juga tercermin di
kalangan tentara dan rakyat yang bersenjata.

     Jumlah pasukan-pasukan bersenjata republik muda ini masih
terlalu kecil untuk bisa mempertahankan seluruh wilayah
negerinya yang luas. Di samping jumlah besarnya pasukan
bersenjata, juga sebagai negeri kepulauan, kemudahan prasarana
angkutan antar-pulau boleh dikata tidak ada. Untunglah,
situasi dan kondisi pertahanan dan pembelaan yang rawan ini,
bisa diselamatkan oleh banyaknya satuan-satuan bersenjata yang
tumbuh di kalangan rakyat. Berbagai macam barisan kelasykaran
ini lahir dari semangat spontan untuk pembelaan negara,
bersama-sama dengan pasukan-pasukan Barisan Keamanan Rakyat
(BKR).

     Ternyata tantangan berat segera harus mereka hadapi. Pada
tanggal 29 September 1945, Panglima Tertinggi Pasukan Sekutu
wilayah komando Asia Tenggara, Lord Mounbatten, memberi
perintah pada sisa-sisa pasukan Jepang yang masih ada di
markas-markas di berbagai daerah untuk menghancurkan Republik
Indonesia.
     Jepang gagal melaksanakan perintah Sekutu. Bersamaan itu
pasukan pertama Kerajaan Inggris didaratkan di Jawa, yang
diboncengi oleh pasukan sekutunya, yaitu Tentera Kerajaan
Belanda. Mereka datang ternyata dengan menyembunyikan maksud
yang sebenarnya. Tidak untuk mengurus tawanan perang, tentara
pendudukan Jepang yang telah dilucuti dan ditawan oleh
Republik Indonesia. Tapi justru untuk memulihkan Indonesia
kembali sebagai negeri jajahannya.

     Indonesia yang kaya dengan bahan baku dan sumber daya
manusia kembali diincar oleh negara-negara Barat pemenang
perang dunia. Tentera mereka datang tidak sebagai pembebas
dari penjajahan fasis Jepang, tetapi sebagai penyerbu-penyerbu
yang hendak merebut kembali daerah-daerah bekas jajahan.

     Mula-mula agresi tentara Inggris dan Belanda bisa
dilawan. Pemerintah Sukarno segera menyusun pertahanan
militer. Kerjasama antara pasukan Barisan Keamanan Rakyat dan
satuan-satuan Tentara Rakyat terjalin dengan baik. Pada
tanggal 5 Oktober 1945 terbentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR)
sebagai pengganti BKR, angkatan bersenjata negara muda
Indonesia. Enam belas divisi tersusun. Perlengkapan senjata
dan pengalaman perang belum mencukupi. Tetapi semangat juang
dan kesiagaan bertempur sangat tinggi. Salah seorang
organisator paling penting dalam pembentukan TKR itu ialah
Letnan Jendral Urip Sumoharjo.

     Dengan terbentuknya TKR lahirlah embrio Tentara Nasional
Indonesia (TNI), yang merupakan awal Angkatan Bersenjata
Republik Indonesia, di bawah komando Jendral Sudirman. Beda
dari anggota-anggota kesatuan kelasykaran yang berinti pemuda
dan rakyat, anggota TKR ini berintikan pemuda-pemuda bekas
prajurit PETA dan Heiho. Di masa Jepang kedua kesatuan pasukan
ini memang dibentuk sebagai kekuatan cadangan, sehingga oleh
karenanya belum mempunyai pengalaman berperang. Di samping itu
para perwira pasukan cadangan Jepang ini banyak yang berasal
dari anak-anak muda kalangan ningrat dan anak-anak saudagar
kaya. Ini menjadi benih-benih persengketaan yang tersembunyi,
bahkan di dalam tubuh TKR itu sendiri dan terlebih-lebih dalam
hubungannya dengan anggota-anggota kesatuan kelasykaran yang
umumnya terdiri dari para pemuda dari kalangan rakyat jelata.
     Di samping itu aparat sipil juga belum berjalan
sebagaimana mestinya. Kecuali oleh karena birokrasi yang belum
teratur, juga karena sebagian besar aparat sipil terdiri dari
aparat lama di jaman penjajahan Hindia Belanda dan pendudukan
tentara Jepang. Kekuasaan politik di ibukota praktis belum
bisa mencapai pelosok-pelosok wilayah Indonesia yang terdiri
dari ratusan pulau-pulau.

     Situasi perekonomian warisan Jepang dalam yang keadaan
sangat buruk, ditambah parah lagi oleh sabotase dan blokade
musuh-musuh Republik, terutama tentara Belanda dan NICA yang
datang atas nama Sekutu. Infrastruktur transportasi yang rusak
hebat sebagai akibat Perang Dunia, juga belum mungkin
diperbaiki kembali.

     Berbagai macam masalah-masalah pertama dan berat yang
harus dihadapi Republik muda ini, dipakai sebagai alasan
propaganda imperialis kepada dunia. Bahwa Indonesia belum
mampu untuk merdeka dan mandiri, pemerintahan masih kacau,
pengalaman diplomasi internasional tidak ada, dan pemerintahan
pusat yang representatif juga belum terbentuk.

     Pendek kata pernyataan proklamasi kemerdekaan Indonesia
tidak dianggap berlaku oleh pemerintah negara-negara penjajah
di dunia Barat, khususnya Belanda. Gelombang demi gelombang
pasukan Sekutu bersama NICA terus didaratkan, dan terjadilah
pelanggaran-pelanggaran baik de fakto maupun de yure atas
wilayah dan kedaulatan Republik Indonesia.

PADA akhir bulan September 1945 armada-armada kapal perang
Inggris telah berlabuh di pelabuhan-pelabuhan utama Indonesia,
khususnya di Jawa. Pasukan-pasukan Komando Sekutu di Asia
Tenggara, yang umumnya terdiri dari tentara Inggris dan
Gurkha, mendarat di sepanjang pantai di Jawa. Bukan saja
personil pasukan yang mereka daratkan, tetapi juga perbekalan
pasukan artileri, tank, mobil lapis baja dan amunisi, serta
segala perlengkapan tentara siap tempur.

     Suasana damai dan permai kepulauan Indonesia seketika
berubah. Gempa dan badai bagai menggoncang bumi dan langit
seluruh negeri. Deru dan debu mesin sepanjang jalan bergulung-
gulung di udara, bercampur dengan teriakan aba-aba militer
dalam bahasa negeri-negeri asing.

     Mula-mula mendarat pasukan Serikat yang, seperti Kuda
Troya, ditunggangi tersembunyi, oleh NICA berikut Tentara
Kerajaan Belanda. Pasukan ini di bawah komando seorang
panglima Inggris, Jendral Christison. Tugas mereka mula
pertama, ialah untuk melucuti dan merepatriasi 283.000 serdadu
Jepang, dan melindungi 200.000 personil Sekutu tawanan perang
dan orang-orang Belanda interniran. Tapi untuk bisa
melaksanakan tugas ini dengan baik jumlah pasukan Christison
itu terlalu kecil. Karena itu tidak aneh, melihat pemerintahan
Sukarno yang rapi berwibawa, dan dengan segala kekurangannya
mampu menjalankan fungsinya, Christison mengajak Sukarno
bekerjasama untuk melaksanakan tugas Sekutu. Walaupun
koleganya, Laksamana Madya Patterson, menandaskan bahwa
tindakan Christison bukan berarti pengakuan pemerintah Inggris
terhadap pemerintahan Sukarno, melainkan semata-mata sebagai
langkah taktis pelaksanaan tugas Sekutu. Tapi bagi pihak
Sukarno ajakan Christison itu berarti mengangkat nama Republik
muda Indonesia di depan mata dunia. Ini berarti sama dengan
pengakuan secara de fakto. Sehingga banyak kaum pembimbang,
terutama dari kalangan pemerintahan sebelum perang, tiba-tiba
berbalik menyerahkan nasibnya kepada  Republik.

     Beberapa hari kemudian Dr. H.J. van Mook mendarat di
Jakarta. Ia bersedia membuka perundingan dengan RI atas dasar
siaran pidato radio Ratu Wilhelmina tahun 1942. Tapi bersamaan
dengan itu juga dinyatakannya, bahwa ia sama sekali tidak
hendak berunding dengan Sukarno yang kolaborator.

     Suara congkak Van Mook itu membangkitkan kemarahan besar
rakyat Indonesia. Terutama di kota-kota dan pedesaan, di mana
rakyat pernah ikut menyelamatkan orang-orang Belanda dan
khususnya Indo Belanda dari interniran Jepang. Banyak dari
mereka yang dilindungi di tengah keluarga rakyat di desa dan
kampung, kemudian melarikan diri dan bergabung di dalam
tentera Kerajaan Belanda dan KNIL.***
(ed.: hersri)

Keterangan:

Untuk bab ini juga dipakai bahan acuan tambahan:

1. Prof. Iwa Kusuma Sumantri S.H., Sedjarah Revolusi Indonesia
- Masa Perdjuangan Sebagai Perintis Revolusi, Djilid Pertama,
Grafica Djakarta 1963.
2. D.G.E. Hall, A History of South-East Asia, The Macmillan
Press Ltd 1976.
3. Lukisan Revolusi Rakyat Indonesia 1945 - 1949, Kementerian
Penerangan RI 1949.
_______________________________

* Pada masa awal umur Republik itu beredar sebuah nyanyian
populer yang, tidak diketahui siapa penggubahnya, berjudul
"O". Lirik nyanyian ini sbb.:

     O, amat banyak
     amat banyaklah warganya!
     Satu, hanya satu
     hanya satulah jumlahnya!
     Satu bangsa
     satu bahasa
     satulah tanahair
     Indonesia
     O!

** Pieter Sjoerds Gerbrandy (1885-1961); perdana menteri
pemerintah pelarian Belanda di London (1940-45), sekaligus
juga komandan angkatan perang Kerajaan Belanda (1940-44);
sebelum invasi fasis Jerman, dan keluarga Ratu serta
pemerintahannya mengungsi ke Inggris, ia menteri kehakiman
(1939-40).

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 28 Jan 2000 jam 08:07:08 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke