----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 03/III/30 Januari-5 Pebruari 2000
------------------------------

BELAJARLAH DARI ANTONIO GRAMSCI
Oleh: Pauline Dyah P

"in the end, this all the same in the end, this all the game" (TS Elliot)

(OPINI): Sardinia, 22 Januari 1891. Bayi Antonio Gramsci lompat keluar
membetot plasenta ibunya. Tidak diduga sebelumnya, dua puluh tahunan
kemudian, ia dibetotdari dunia luar oleh plasenta fasisme Benitto Mussolini.
Baru puluhan tahun kemudian pula, dunia membuka mata terhadap proyek
hegemoni yang sudah ditengarai Gramsci selama mendekam di penjara.

Jakarta, jauh sebelum 22 Januari 2000. Riuh berita, ada jabang bayi dipaksa
keluar dari perut ibunya di Timor Leste dan Aceh. Anak muda baru tuntas akil
baliq diberondong peluru-peluru tentaranya sendiri. Petani digusur dari
ladangnya diganti padang luas permainan golf. Buruh dipaksa bekerja 8 jam
lebih dengan upah jauh di bawah kelayakan. Buruh migran perempuan diperkosa
dan atau tewas di negara tempat ia bekerja tanpa pembelaan hukum dari
pemerintah Indonesia.

Jakarta, menjelang 22 Januari 2000. Diumumkan (termasuk oleh media ini -pen)
bahwa hutang Indonesia melebihi angka 150 milyar dolar AS. Atau lebih dari
1.100 trilyun rupiah. Pertanyaannya: siapa mau dan sanggup bayar? RAPBN yang
dibacakan Megawati, 20/1, ditengarai memuat penuh 'usulan-usulan' IMF dan
Bank Dunia. Kembali IMF tersenyum puas selayak Camdessus pernah bersidekap
menyaksikan Soeharto menandatangani butir-butir letter of intent (LoI). Imla
mereka ternyata tetap ampuh terhadap penguasa baru Indonesia.

Apa yang kita saksikan adalah reformasi yang berlangsung tanpa kekuatan.
Sistem ekonomi yang rusak coba diperbaiki dengan rumusan yang diproduksi
oleh salah satu pihak perusak sendiri. Alangkah malangnya. Suatu bantahan
memang pernah dikeluarkan pemerintah bahwa debt to equity swap bank-bank
yang ditanganiBPPN tidak dimaksudkan sebagai pengalihan kepemilikan oleh
asing. Faktanya, Standard Chartered Bank dan Citibank getol memburu
bank-bank beku operasi dan beku kegiatan usaha Indonesia. Kasus Thailand
nyata memberi contoh, bagaimana sejumlah 50 bank lebih di negara itu
akhirnya diraup oleh satu lembaga keuangan Amerika, GE Capitals. Lembaga
mana memburu pula saham Bank Niaga.

Pada simpul inilah tali temali menuju nation corporations dan state of
markets ala Kenichi Ohmae terbaca makin benderang. Secara sukarela kita
memamah standar hidup dan cara memenuhi kebutuhan hidup dalam gerak
keseharian. Bahkan mungkin bagaimana cara memaknai hidup. 'Kesukarelaan'
yang dipahamkan Gramsci sebagai hegemoni.

Bukan bantahan lagi, proyek hegemoni semenjak usai perang dunia II dipilin
dalam alur skenario negara-negara pendorong kapitalisme. Literatur mencatat,
Presiden AS Harold S. Truman-lah yang menginisiasi pertemuan pakar-pakar
Amerika di MIT, tahun 1947. Hasilnya: ideologi developmentalisme bagi
negara-negara dunia ketiga. Beberapa intelektual AS diberi tugas memberi
landasan teoritis guna merancang proyek 'penguasaan' terhadap dunia ketiga.
Literatur mencatat pula, dari sana muncul diantaranya Talcott Parson dan WW
Rostow. Masing-masing dengan teori strukturalisme fungsional dan tahapan
pembangunan ekonominya.

Tujuan proyek tersebut jelas. Kekuatan perang guna menundukkan sumber daya
negara-negara terbelakang dianggap usang. Bungkus baru adalah hipotesa:
pertumbuhan ekonomi yang terjadi di negara AS dan beberapa wilayah Eropa
Barat akan sama dicapai oleh dunia ketiga jika rute yang ditempuh sama dan
sebangun. Dengan kata lain, kekhasan masing-masing negara dan bangsa dapat
dilupakan. Seolah konsepsi Bretton Woods 1944 berlaku universal. Padahal,
coba bayangkan bagaimana kalau semua negara meningkatkan ekspor dan menekan
impor-seperti disyaratkan teori pertumbuhan. Pasar mana akan kelimpahan
barang konsumsi?

Literatur juga mencatat hujan kritik terhadap
developmentalisme-modernisme-kapitalisme cukup deras. Malahan belum reda
seiring 'la nina'. Cuma, isu-isu pengiring kepentingan global kini kerap
mengundang dilema. Pencabutan dwifungsi TNI, misalnya. Amerika bisa saja
serius dengan keengganannya melihat tentara menguasai politik kembali. Ia
pun terbilang serius dengan penghentian bantuan militer. (Meski tinggal
Swedia yang menolak penghentian embargo senjata untuk Indonesia). Tetap saja
memiliki motif berbeda dengan, sebutlah, gerakan demokrasi Indonesia.

Kita tidak pernah lupa negara-negara majulah yang menyetujui penyerbuan atas
Timor Leste. Bahkan memasok senjata guna menumpas 'pemberontakan' gerilyawan
kemerdekaan Maubere. Situasi perang dingin memaksa negara maju promotor
pasar bebas memiliki tameng. Buffer yang diperlukan untuk membendung
kekuatanperluasan hegemoni Uni Soviet dan blok kirinya. Usainya perang
dingin mengusaikan juga manfaat perisai efektif mereka, angkatan bersenjata.
Banyak pengamat curiga provokasi isu kudeta militer pasca Idul Fitri
dimainkan oleh agen-agen intelejen Amerika dan kedutaannya.

Pun begitu "dilema" ini bisa diakhiri andaikan barakisasi militer dari
politik bersumber dari gerakan akar bawah. Dengan kata lain, kekuatan
aliansi elemen-elemen perubahan masyarakat. Kelemahan gerakan di Italia
dianalisis oleh Gramsci lantaran salah satunya melupakan kekuatan lain di
luar kelas buruh. Padahal determinisme adalah faktor internal kekalahan
gerakan pembaharu. Di samping determinisme ini mengundang sikap berrevolusi
secara pasif. Bukankah gerakan demokrasi Indonesia juga sedikit melupakan
membangun aliansi dengan kelompok Islam? Akibatnya, mereka digerakkan oleh
politisi berorientasi survive.

Akhirnya, tidak benar kekuatan modal internasional yang disokong pemerintah
negara-negara kapitalis bakal hancur dengan sendirinya. Kontra-hegemoni
dalam ragam bentuknya menjadi syarat yang hingga kini belum tuntas
dilakukan. Bukan melulu wacana, melainkan totalitas pembangkangan keseharian
terhadap tata nilai materialisme-modernisme-kapitalisme. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 30 Jan 2000 jam 22:21:42 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke