---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 03/III/30 Januari-5 Pebruari 2000 ------------------------------ TERANCAM GAGAL HAPUS HUTANG (POLITK): Rencana mengemplang utang luarnegeri nyaris urung. Padahal sidang CGI baru dimulai awal Februari. Bermula dari audiensi INFID? Bayi-bayi pun tetap dikenai urunan Rp5 juta per kepala. Sebabnya, usul `paling progresif' menyangkut utang luarnegeri belakangan mentok pada opsi perpanjangan waktu bayar. Jatuh tempo pembayaran cicilan dan bunga tahun 2000-2004 diharap diberi kemuluran waktu sampai 30 tahun. Alasan utama adalah kondisi tidak sanggup bayar pihak Indonesia. Usul di atas menjadi titik simpul hasil audiensi International NGO Forum on Indonesia Development (INFID) dengan Bank Dunia (World Bank/WB) dan Bappenas, Kamis (27/1) di Hotel Atlet Century Park, Jakarta. Direktur Bank Dunia untuk Asia, Mark Baird belum memberikan tanggapan resmi kecuali sebuah anggukan kecil disertai sesungging mesem. Kepada pers Sekretaris Eksekutif INFID Binny Buchori menyatakan itulah opsi yang paling mungkin diupayakan pemerintah. "Kepala Bappenas (Djunaedi Hadi) mengakui pemerintah sudah lama memiliki rencana tersebut," demikian Buchori. Berarti kita tetap berutang. Utang lama sebesar US$150 milyar plus tambahan baru, berapapun waktu yang diperlukan. Bukankah perpanjangan waktu tetap tidak merubah kenyataan? Nasib negara berutang sudah pasti bukan pertandingan sepak bola. Perpanjangan waktu memberi peluang tercipta gol-gol kemenangan. Sejauh ini WB tetap "meyakinkan" pemerintah bahwa bila debt relief diberikan, Indonesia akan menerima isolasi dari dunia internasional. "Akibatnya akan jauh lebih parah dari krisis sekarang ini". Penjadualan pembayaran karenanya dipercaya sebagai alternatif rasional. Berapa lama waktu diperlukan, akan dibicarakan pada sidang CGI, 1-2 Februari mendatang. Toh, hasil pertemuan WB-Pemerintah-LSM tersebut mengundang reaksi dari beberapa elemen Koalisi Anti Utang (KAU) di mana INFID menjadi motor aliansi. KAU dikenal meneriakkan slogan "hapus utang lama, stop utang baru". Menurut sumber Xpos hanya terdapat dua tawaran dari Jubilee 2000 ala Indonesia ini. Mengemplang utang atau pengurangan utang sampai US$100 milyar. Di tiap tikungan, setiap proses kerap berubah? "Begitulah yang sedang terjadi," tukas Yan, aktivis LMND. Yan mengaku, keterlibatan LMND di KAU bersifat ideologis. Sejak mula mereka mendukung agenda pengemplangan utang. Bukan apa-apa, pembayaran cicilan utang sekaligus bunga oleh Indonesia sudah diakui oleh banyak pengamat pun literatur telah lebih dari total utang itu sendiri. "Sekarang kita minta hapus sama sekali mereka tidak akan merugi". Keberatan serupa datang dari Hendrik Sirait. Tanpa tedeng aling-aling Hendrik menilai INFID telah keluar dari frame aliansi. Andai opsi penjadualan kembali akhirnya disepakati, baik pemerintah maupun WB dapat mengklaim mereka telah memperoleh legitimasi masyarakat. Padahal, "tidak usah jauh-jauh rakyat, koalisi ini oleh INFID dianggap apa?" tandas Sirait. Sepakat dengan Yan bahwa kerugian tidak didera negara/lembaga donor bila utang dikemplang. Besarnya pasak daripada tiang memperlihatkan betapa penghisapan terjadi tanpa perlawanan. Menurut rencana, dalam pertemuan akhir menjelang aksi KAU keberatan mereka akan disampaikan. Saat tulisan ini diturunkan pertemuan baru akan berlangsung keesokan hari. Pengamat ekonomi Arif Arryman mengulangi pernyataannya menandaskan, penghapusan utang bukanlah tidak mungkin. Gerakan anti utang juga bukan pertama kali. Terdapat sejumlah LSM internasional semisal Jubilee 2000 Coalition, Eurodad atau yang diorganisir oleh OXFAM. Organisasi-organisasi tersebut berkedudukan di negara-negara maju dan beroleh dukungan luas. Mohammad Ali dan Bono, pentolan U2 sempat menorehkan tanda tangannya dalam buku tahunan Jubilee 2000 akhir tahun 1999. Sejatinya WB sendiri beberapa waktu lalu 'berkenan' mengurangi utang beberapa negara Afrika sampai senilai US$100 milyar. Negara-negara mana termasuk kategori highly indebted poor country (HIPC) atau severely indebted low-income country (SILIC). Indonesia, dalam klasifikasi versi WB tersebut masuk dalam kategori severely indebted middle-income country (SIMIC). Argumentasi ini yang kerap digunakan untuk mematahkan usulan pengemplangan. "Tapi peluang mendefinisi ulang tetap terbuka," lanjut Arryman. Kondisi ekonomi Indonesia yang anjlok sangat drastis dapat menjadi alasan utama. Apalagi indikator pertumbuhan ekonomi semisal GNP selama ini diyakini tidak memberi gambaran realistis keadaan ekonomi negara sebetulnya. Di sisi lain kepercayaan terhadap Presiden Abdurrahman Wahid menguat. Tabiat nyeleneh Gus Dur dipercaya menjadi modal kuat dalam proses bargaining nanti. Simak saja pernyataan presiden menanggapi usul IMF tentang pengalihan kepemilikan beberapa bank kepada pihak asing. Daripada begitu, lebih baik ditutup. "Nanti kita bikin lagi, susah amat," cerita Gus Dur pada acara halal bihalal PDI-P. Setidaknya sikap Gus Dur mengindikasikan keinginan tidak mau diatur dan bergantung kepada negara pemodal kuat. Presiden yakin ancaman isolasi WB dan IMF sulit terbukti mengingat potensi alam dan keluasan pasar Indonesia. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 30 Jan 2000 jam 22:04:47 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
