----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Republika, 31 Januari 2000

Ketua DPR Isyaratkan Tolak Usulan Pencabutan Tap MPRS No 25/1966

SEMARANG -- Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Akbar Tandjung
mengisyaratkan menolak usulan pencabutan Tap MPRS No 25/1966
berisi larangan ajaran komunisme dan marxisme serta partai
beraliran komunis di Indonesia.

''Memang ada tuntutan demokratisasi, namun demikian, pengalaman
masa lalu harus dijadikan pelajaran sehingga kita harus pula
waspada terhadap ideologi komunis,'' katanya ketika ditemui
seusai halal bihalal dengan jajaran Partai Golkar Jawa Tengah,
di Semarang, Sabtu (29/1).

Ia mengingatkan, perisitwa pemberontakan G-30-S/PKI pada 1965
harus menjadikan semua pihak berpikir kembali, apakah perlu
pencabutan Tap MPRS No 25/1966. ''Kita harus waspada terhadap
ideologi komunis,'' kata Akbar.

Ketua DPR menyatakan, sampai sekarang belum ada fraksi yang
secara resmi memberi tanggapan atas usulan pencabutan Tap MPRS
tersebut, termasuk dari Fraksi Partai Golkar. ''Tapi, kita tidak
bisa menutup mata terhadap kejadian di masa lalu,'' Akbar
menegaskan kembali.

Fraksi Partai Bulan Bintang (PBB) sebelumnya melalui konferensi
pers menegaskan sikapnya menolak tegas usulan pencabutan Tap
MPRS itu.

Dalam kesempatan terpisah, sejarawan Universitas Negeri
Semarang, Prof Dr Abu Su'ud menyatakan sulit diterima akal
kalangan yang ingin mencoba menghidupkan ideologi komunis di
Indonesia, melalui pencabutan Tap MPRS tersebut. Ia menegaskan
sebagai ideologi, komunisme telah gagal membangun tatanan
masyarakat, bahkan negara kawasan Balkan dan Uni Soviet (dulu)
malah menuai kehancuran, dengan terpecahnya menjadi beberapa
negara sendiri.

RRC yang secara ideologis mengaku komunis, demikian Abu Su'ud,
kini sudah sangat liberal dan adaptif dengan kapitalisme.
''Jadi, kalau belajar komunisme, tentu mereka tidak akan memilih
komunisme. Lihat Uni Soviet dan Yugoslavia,'' kata Abu Su'ud.

Sementara Ketua Umum DPP PPP Dr H Hamzah Haz mengatakan,
pencabutan Tap MPRS No 25/1966 tentang Pelarangan Ajaran
Komunisme dan Marxisme serta Partai beraliran Komunis di
Indonesia harus ada alasan yuridis.

''Kalau mau dicabut harus ada alasan-alasan yuridis, karena kita
melihat bahwa persoalannya memang tidak hanya persoalan politik
tetapi keamanan dan kepastian bangsa ini,'' katanya menjawab
pertanyaan wartawan di sela-sela acara Musykerwil PPP Jateng di
Kompleks Islamic Centre Semarang.

Seperti yang diberitakan, Ketua Fraksi PKB DPR, M
Taufikurrahman, kepda wartawan (27/1) mengatakan, demi
rekonsiliasi, Presiden Abdurrahman Wahid sudah menyatakan
persetujuannya terhadap usaha pencabutan Tap MPRS tersebut.

Hamzah Haz menegaskan bila pemerintahan sekarang ini bermaksud
akan mencabut Tap MPRS No 25/1966 harus lewat MPR, dan selama
lembaga legislatif ini mengakomodir suara rakyat tidak perlu ada
referendum.

''Bagaimana pun MPR sekarang sudah merupakan suatu representatif
dari hasil Pemilu lalu, yang pelaksanaannya kemarin berusaha
untuk jujur dan adil,'' katanya.

Ketika ditanya apakah alasan mencabut ketetapan itu demi
rekonsiliasi ada hubungannya dengan kerusuhan yang terjadi di
beberapa daerah, ia mengemukakan, kerusuhan yang terjadi
sekarang ini merupakan akumulasi masa lalu, lantas momentum ini
dimanfaatkan untuk kepentingan tersebut.

Menurutnya, tumbuh suburnya komunis di Tanah Air sangat erat
kaitannya dengan masalah hukum. ''Kalau tidak ada kepastian
hukum akan menimbulkan seperti itu, dan kita khawatir bisa
menyuburkan lagi massa itu, seperti suasana pada era tahun 1965-
an,'' katanya.

PPP, lanjutnya, belum mengambil sikap terhadap tuntutan
pencabutan Tap MPRS tersebut, akan tetapi pihaknya mengingatkan
pengalaman beberapa kali yang dialami bangsa ini terhadap
keberadaan komunis. ''Kita akan lihat dulu, mengingat pada masa
lalu, berkali-kali kita ditusuk dari belakang,'' katanya
menandaskan.

Kendati demikian, ia meminta agar bangsa ini tetap konsisten
terhadap masalah pelarangan komunisme. (ant)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 2 Feb 2000 jam 06:41:32 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke