----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 04/III/6-12 Pebruari 2000
------------------------------

WARTAWAN PEMANGKAS HUTAN

(POLITIK): Bukan cuma Soeharto dan kroni menggeragas uang dari hutan.
Sejumlah wartawan Dephutbun beroleh 10 persen saham untuk tiap 40 ribu ha HPH.

Napoleon Bonaparte percaya benar bahwa pena lebih tajam dari pedang.
Barangkali lebih menyayat dari sembilu. Meski tidak langsung membunuh,
infeksi akibat irisan bakal menjalar bersama darah. Pelan tapi pasti sekarat
tidak gampang dihadang. Dari sinilah, profesi wartawan -yang akrab dengan
pena- dianggap turut menentukan nasib pemegang profesi lainnya. Malah kerap
disebut pilar 'kekuasaan keempat' setelah trias politika-nya Montesquieu.
Pers diembani misi jadi pengawas tiga kekuasaan lainnya.

Malang, antara ungkapan dengan kenyataan nyaris selalu jauh panggang dari
api. Seolah sein dan sollen ditakdirkan bertolak belakang. Apalagi di atas
empat-lima atau berapapun pilar kekuasaan politik, ada yang lebih
ditunggalkan: uang. Menghadapi kekuasaan 'tunggal' itu, tidak sedikit
wartawan tiba-tiba mengaku 'punya sisi manusiawi'. Tidak usah dikisah
panjang lebar, istilah wartawan amplop segera menjadi penjelasan singkat.
Peristilahan kini berkembang hingga muncul sebutan "wartawan obligasi" dan
"wartawan saham". Berarti jumlah sogokan meningkat?

Tidak salah. Beberapa jurnalis surat kabar yang biasa ngepos di Departemen
Kehutanan dan Perkebunan (Dephutbun) bisa memberi bukti. Mengetahui adanya
KKN dalam pemberian Hak Pengusahaan Hutan (HPH) tidak memancing insting
jurnalistik mereka. Alih-alih menghormati hak masyarakat memperoleh
informasi malah turut menikmati konsesi saham sampai 10 persen. Nilai
tersebut didapat untuk tiap 40-50 ribu hektar lahan hutan yang diberikan
HPH-nya.

Sementara berita resmi yang diperoleh menyebut saham-saham konsesi dimiliki
oleh koperasi PWI. Terhitung dimulai sejak tiga kepengurusan silam atau
sejak masa Menhut Hasrul Harahap. Tapi beberapa kalangan pers dan aktivis
lingkungan yang dihubungi menengarai adanya kepemilikan secara individu.
Nama Jafar Assegaf dan Surya Paloh dari grup Media Indonesia sempat pula
disebut di samping beberapa nama editor senior lain. Itu berarti jaringan
KKN segitiga Dephut-pengusaha-wartawan berlangsung secara sistematis.

Betapa tidak? Masyarakat nyaris tidak mengetahui bagaimana sampai 4 juta
hektar lebih hutan Indonesia dikuasai hanya oleh keluarga Cendana. Belum
luas HPH yang diberikan kepada kroni-kroni seperti grup Salim, Sudwikatmono,
Prayogo Pangestu, dan Bob Hasan. Maka, tidak salah dikatakan pers
bertanggung jawab sangat besar dalam kasus ini. Banyak fakta telanjang urung
dibeberkan lantaran 'pembungkaman gurih' pengusaha.

"Jangankan isu bagi-bagi lahan, acara seminar saja kerap diminta Dephutbun
tidak disiarkan," kisah Indro Cahyono. Ia memaksudkan seminar bertema "Peran
Masyarakat Tradisional dalam Pengelolaan Hutan di Indonesia" beberapa tahun
lalu. Dari semua wartawan yang hadir, hanya harian Merdeka yang menurunkan
berita seminar. Indro mengakui tidak semua pers selain Merdeka bisa disebut
terlibat suap-menyuap. "Hanya beberapa memang". Sejauh ini dirinya belum
bersedia mengungkapkan keterlibatan editor-editor dan wartawan Dephutbun.

Sekjen Denhutbun Suripto pun mengaku cukup pusing dengan gurita korupsi dan
kolusi di departemennya. Bukan apa-apa, hingga kini kebiasaan-kebiasaan
tersebut belum pupus. Malahan, forum wartawan Dephutbun yang menggerayangi
jarahan hutan seperti telah melembaga. Ada pertemuan antar mereka tiap
minggu di sebuah cafe. Mereka pun menyeleksi wartawan-wartawan yang berupaya
memegang idealisme jurnalisnya. Ada penugasan untuk "menempel" muka-muka
baru sehingga tidak terlalu mengacaukan setting jumpa pers. Syukur-syukur
dapat dibaptis ke dalam lingkaran. Akhirnya seperti disinyalir Indro,
"terjadi split dan hubungan tidak sehat antar wartawan".

Belakangan mantan Menhutbun Muslimin Nasution membentuk Tim Penanggulangan
KKN pada Dephutbun. Hasilnya, ia melaporkan luas total hutan yang dikuasai
perusahaan-perusahaan keluarga Soeharto. Nasution lupa, dirinya turut
menghidupkan kembali jaringan sistem konsesi yang sempat terputus jaman
Menteri Jamaluddin. Di masa Nasution ini pula mulai ditradisikan merekrut PR
(humas) perusahaan HPH dari wartawan. PT Indo Rayon dan Riau Andalan sempat
menginisasi tradisi baru itu.

Tambahan, 'hasil kerja' Tim Nasution tidak tergolong spektakuler. Tahun
1996, George Junus Aditjondro (GJA) menelorkan buku berisi data jaringan
kekayaan Soeharbibie (Soeharto-Habibie). Termasuk aset-aset kehutanan yang
dikuasai mereka dan kroni terdekat. Dibandingkan, data keluaran Nasution
tidak berbeda banyak dengan buku "Guru Kencing Berdiri Murid Kencing
Berlari"-nya GJA. Toh, Menhutbun Nur Mahmudi berjanji bakal
menindak-lanjuti. Tanpa pilih rambut, demikian Mahmudi.

Sejatinya praktek-praktek TST (tahu sama tahu) bukan monopoli Dephutbun.
'Kelaziman' KKN masa Orde Baru yang melibatkan wartawan berlangsung di
hampir semua departemen. Bappenas bisa menjadi contoh lain. Terdapat Kolonel
Sutanto yang rutin melakukan 'pembinaan' terhadap wartawan. Ia bertugas
mendata semua wartawan yang bertengger di kantornya dan kerap menggelar
jamuan. Tidak heran, berita seputar skandal Jaring Pengaman Sosial (JPS)
sempat meledak kemudian hilang. "Nah, menghilangkan berita dari media massa
berarti biaya," tutur sang Kolonel. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 6 Feb 2000 jam 07:59:02 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke