---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- REPUBLIKA, 1 Februari 2000 Panglima Abdullah Syafei, Kami Bertanya Oleh S. Sinansari ecip Di timur tidak berhenti, di barat tidak berhenti juga. Itulah kerusuhan di Maluku dan pergolakan di Aceh. Berbagai tindak kekerasan dan kerusuhan di tanah air bak balon karet. Bila salah satu bagian balon karet dipencet maka bagian yang lain akan menggelembung. Pertikaian di Maluku memang tidak akan berhenti tanpa partisipasi aktif masyarakat setempat. Dengan fanatisme agama masing-masing yang sangat pekat, pertikaian berdarah berlanjut. Tidak diketahui apa gerangan obatnya. Presiden dan wakilnya sudah datang ke sana. Begitu keduanya meninggalkan daratan cengkih dan pala berikut laut yang penuh ikan tunanya itu, pengaliran darah tak berhenti. Di Aceh pergolakan tidak pernah berhenti pula. Darah juga mengalir. Polisi mendapat simpati karena mereka tidak diajari untuk menghadapi perang gerilya. Mereka menjadi bulan-bulanan GAM. Tugas mereka di mana-mana untuk menjaga keamanan. Begitu jatuh korban polisi, simpati selalu diberikan oleh banyak orang. Saudara-saudara orang Aceh di luar Aceh memperhatikan dengan was-was kejadian-kejadian di Aceh. Lalu, kami juga memberi penilaian, yang sering belum tentu benar. Artinya, penilaian tersebut boleh jadi juga benar. Penilaian juga kami lakukan terhadap peristiwa pemboman dan penembakan terhadap prajurit Marinir yang sedang shalat Magrib (24 Januari). Korban jiwa enam orang belum lagi yang luka-luka. Berbagai pertanyaan timbul. Benarkah prajurit-prajurit Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM) yang melakukannya? Sampai hatikah mereka menembak orang yang sedang shalat. Bukankah semua orang Aceh beragama Islam? Apakah dibenarkan sesama pemuluk Muslim dibunuh apalagi sedang menegakkan shalat? Boleh jadi yang melakukan pemboman dan penembakan terhadap anggota Marinir tersebut bukan anggota AGAM. Boleh jadi, mereka adalah AGAM gadungan. Kalau kemungkinannya seperti itu, mengapa AGAM yang asli tidak pernah terdengar bertempur melawan AGAM gadungan. Bukankah AGAM gadungan menjatuhkan nama dan merugikan GAM secara keseluruhan? Banyak orang tidak yakin AGAM dan GAM berbuat buruk. Mereka bertempur dengan tentara dan polisi, kami dapat memahaminya meski tidak menyetujuinya. Namun, benarkah mereka mengusir transmigran, membakar perkampungan rakyat kecil, dan gedung sekolah serta menembak orang yang sedang shalat? Menurut pikiran yang sederhana, AGAM dan GAM yang mencari simpati banyak orang, layaknya tidak berbuat seperti itu. Tanpa sekolah, anak-anak Aceh tidak berpendidikan pada tahun tertentu. Artinya, mereka dirugikan. Pada suatu massa nanti, ada sekelompok pemuda Aceh yang kurang berpendidikan karenanya. Kalau benar yang membakar bus, membakar rumah-rumah, dan gedung sekolah serta yang menembak anggota Marinir yang sedang shalat itu adalah AGAM atau GAM, kami ikut sedih. Nama Anda sekalian akan tercoreng dan jatuh di tengah masyarakat yang berakal sehat. Jika yang terjadi sebaliknya, bukan GAM yang melakukannya, mestinya GAM turun tangan. Perangi mereka yang telah menjatuhkan nama GAM! Raihlah simpati sebanyak-banyaknya. Kalau Anda diam saja, kami cenderung menganggap memang Andalah pelakunya. Itulah pernyataan sekaligus pertanyaan kami. Tolong dijawab. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 7 Feb 2000 jam 06:36:54 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
