----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

MOVE BERBAHAYA GUS DUR

Tercatat, dua kali perjalanan kenegaraan Gus Dur ke luar negeri, sambil
melontarkan masalah yang cukup rawan bagi kredibilitas Gus Dur sendiri maupun
ketentraman dalam negeri. Pertama, saat ke Washington, Gus Dur melontarkan
pernyataan bahwa ada sejumlah menteri dalam kabinet yang tidak bersih. Namun
saat ini isu itu pun menguap begitu saja. Hanya Hamzah Haz yang akhirnya
mengundurkan diri, itupun membuat hubungan Gus Dur dengan PPP dan otomatis
poros tengah menjadi tidak harmonis.

Kedua, belum lama ini, saat berada di Davos, Swiss, Gus Dur mengatakan akan
memberhentikan Jenderal Wiranto dari jabatan Menko Polkam. Pernyataan ini
merupakan reaksi atas temuan KPP HAM bahwa Wiranto patut bertanggung jawab
terhadap kekejaman yang terjadi di Timtim pasca jajak pendapat. Ini pun
mengundang reaksi yang cukup keras di dalam negeri. Isu kudeta semakin keras
berhembus. Apalagi Gus Dur mensinyalir adanya pertemuan para Jenderal di Jalan
Lautze, Jakarta, yang ternyata pertemuan itu hanya dihadiri oleh para aktivis
LSM Indemo.

Dampak dari pernyataan-pernyataan Gus Dur di luar negeri itu berimbas pada
kestabilan ekonomi dalam negeri. Tercatat, dollar langsung melorot ke posisi
Rp 7.600. Padahal minggu sebelumnya bertengger di Rp 7.200. Soeharto dahulu
terjungkal, saat dollar berada di posisi Rp 8.000. Saat ini jelas Gus Dur
dalam posisi kritis. Bukan hanya isu kudeta yang membuat dollar melorot. Namun
kalau benar Gus Dur jadi memecat Jenderal Wiranto, kejadian yang lebih buruk
bisa saja terjadi.

Apakah benar ia akan kudeta? Tidak. TNI tidak akan kudeta. Namun yang akan
terjadi lebih buruk dari kudeta. Wiranto dapat menggerakkan kerusuhan di
mana-mana. Ingat, Wiranto adalah orang kepercayaan Soeharto. Apalagi Wiranto,
dengan dibantu oleh anak-anak Soeharto dan operator lapangan Yapto, Yorries,
dan preman-premannya, memiliki dana yang tidak terbatas. Juga masih banyak
tentara yang setia terhadap Wiranto. Jadi pola kerusuhan dengan cara-cara lama
masih akan terjadi di kemudian hari. Di mulai dengan ulah provokator, kemudian
aparat yang terlihat bertindak lamban atau seperti membiarkan.

Kekuatan Soeharto dan Wiranto ini jangan dianggap remeh. Kita tentu masih
ingat, saat Soeharto dicabut SP-3 nya oleh Kejaksaan Agung, tidak beberapa
lama kemudian di Halmahera mulai membara. Mengerikan memang kalau sampai
Wiranto memang benar-benar dipecat oleh Gus Dur. Kerusuhan-kerusuhan yang akan
dibuatnya tentu saja dengan maksud agar energi pemerintah habis digunakan
untuk menangani kerusuhan sehingga kasus Soeharto dan anak-anaknya, juga kasus
pelanggaran HAM Wiranto "dilupakan". Yang pernah jadi korban dari kelompok
Soeharto-Wiranto ini di antaranya adalah BJ Habibie. Karena dianggap tidak
dapat menyelamatkan anak-anak Soeharto, maka diganjalnya Habibie untuk tidak
dapat menjadi Presiden lagi. Bukan tidak mungkin, korban berikutnya adalah Gus
Dur yang merupakan "musuh lama" Soeharto.

Mungkin, maksud pernyataan Gus Dur di Davos adalah bahwa Gus Dur ingin
terlihat sebagai pahlawan demokrasi dan HAM yang secara gagah berani
mengumumkan pemecatan Wiranto di hadapan forum dunia. Sehingga Gus Dur akan
mendapatkan konsesi ekonomi berupa bantuan utang dan lain-lain. Namun yang
akan terjadi justru sebaliknya. Dan anda harus berhati-hati, Gus. Kita lihat,
baru isu kudeta dan kemudian pernyataan pemecatan Wiranto saja, rupiah sudah
loyo di posisi Rp 7.600 per dollar. Apalagi jika Gus Dur benar-benar memecat
Wiranto dan Wiranto membalas dengan membuat kerusuhan-kerusuhan. Rupiah bisa
meluncur ke posisi di atas Rp 8.000 per dollarnya. Jika demikian, maka demo
mahasiswa akan semakin marak juga PRD yang akhir-akhir ini mulai keluar akan
makin menggigit. Bukan tidak mungkin Gus Dur akan goyang bahkan jatuh.

Kondisi politik yang tidak stabil ini mudah sekali terbaca oleh investor asing
yang katanya, sudah mengantre. Antrean akan makin panjang karena yang ada di
barisan depan tidak lantas bergerak maju untuk investasi. Jelas saja, mana ada
investor mau masuk dalam kondisi politik yang rawan. Sehingga saat ini para
investor tidak lagi bersikap wait and see, namun sudah wait and worry, jadi
antreannya saat ini sudah bubar. Beberapa investor yang sudah masuk seperti
Soros, hanya berinvestasi di pasar modal (portfolio) yang sewaktu-waktu mudah
dilepas kembali. Belum ada investor yang melakukan investasi strategis yang
berdampak langsung terhadap pergerakan sektor riil. Kabar investor Singapura
yang katanya akan berbondong-bondong berinvestasi di Indonesia juga belum
jelas.

Investor lokal kita pun ternyata lebih suka menaruh uangnya dalam bentuk
deposito di luar negeri, terutama Singapura. Bagaimana tidak, dengan bunga
deposito yang 12% per tahun dipotong pajak dan lain-lain, tinggal sekitar 9%.
Sedangkan di Singapura, walaupun hanya berbunga 9,5% namun itu sudah   bersih
dan keamanan uang terjamin. Jadi, kalau investor luar sudah kabur dan investor
lokal menaruh uangnya di luar negeri, maka yang terjadi saat ini adalah
capital outflow. Kenyataannya memang negara kita ini sudah keropos, tidak
punya duit.

Komitmen utang yang diberikan oleh CGI pun bukannya tidak memberikan masalah.
Pertama, pemerintah masih melanjutkan ritual lama yaitu menutup defisit
anggaran dengan utang sehingga utang kita makin bertumpuk, padahal untuk
mengatasi kekurangan APBN tahun 2000 pemerintah bisa memperbesar target
restrukturisasi perusahaan di BPPN dan meningkatkan laba privatisasi BUMN.
Utang luar negeri yang kita peroleh dari CGI sebenarnya warisan Orde Baru yang
seharusnya tidak kita andalkan untuk membiayai pembangunan.

Kedua, pinjaman CGI justru menjadi beban bagi rakyat. Kemungkinan ini bisa
terjadi karena anggota kabinet pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid,
khususnya tim ekuin, tidak punya agenda dan visi yang jelas tentang pemulihan
ekonomi. Publik, bahkan menangkap kesan anggota kabinet berjalan
sendiri-sendiri tanpa koordinasi dan tidak saling mendukung. Dalam 100 hari
pemerintahan Gus Dur, yang terjadi hanya rebutan posisi dan jabatan birokrasi.
Pinjaman CGI akan percuma jika masih ada intervensi partai politik tanpa
mempertimbangkan profesionalisme.

Ketiga, utang ini akan semakin mengukuhkan Indonesia di posisi puncak negara
dengan Debt Service Ratio (perbandingan utang dengan pendapatan hasil
ekspor/DSR) tertinggi di dunia. Bahkan mengalahkan negara-negara pengutang
terbesar seperti Meksiko, Brasil dan Argentina. Selama ini Indonesia harus
membayar cicilan pokok dan bunga utang lebih dari Rp 30 trilyun per tahun yang
berarti DSR nya telah mencapai 50%. Dalam keadaan ini diperkirakan Indonesia
akan sulit terbebas dari utang. Penjadwalan utang pun tidak akan menyelesaikan
masalah karena hanya sekedar menunda waktu dalam jangka pendek serta tidak
mengurangi pokok dan bunga pinjaman. Penjadwalan utang hanya menunda
kebangkrutan dan memindahkan beban utang kepada pemerintah dan rakyat pada
masa datang.

Keempat, dan ini yang berbahaya, jika beberapa move politik Gus Dur membuat
keadaan semakin rawan, kemudian kerusuhan merebak di mana-mana, demonstrasi
semakin marak, harga BBM, tarif angkutan, listrik dan telepon naik, lalu
rupiah semakin terpuruk terhadap dollar, misalnya mencapai Rp 8.000 per
dollar, maka lampu kuning buat Gus Dur. Komitmen utang CGI yang sebesar US$
4,73 miliar akan semakin membengkak. Ia akan menjadi senjata yang memakan
tuannya sendiri.

Salah besar jika Gus Dur bergantung pada dunia internasional untuk mendukung
langkah-langkah pemerintahannya. Dunia internasional memang mudah sekali
mendukung, tetapi juga mudah menendang. Contohnya, dulu Australia sangat
mendukung integrasi Timtim ke Republik Indonesia, tetapi kemudian Australia
pula yang paling depan mengompori kelompok pro kemerdekaan Timtim. Juga harus
diingat, dahulu Gorbachev dibantu berkarung-karung US dollar oleh pemerintah
Amerika. Namun itu pun tidak menolong Gorbachev dari keruntuhan. Jadi,
hati-hati Gus, jika membuat move politik, kalau tidak mau lampu merah nyala
mendadak memberhentikan kendaraan Anda. Kalau demikian yang terjadi, kapan
bangsa ini akan bangkit dari keterpurukan?

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 9 Feb 2000 jam 04:41:26 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke