----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

MASHURI MASCHAB: ADA KONSPIRASI UNTUK JATUHKAN TNI

Yogyakarta, 23/2 (ANTARA) - Pengamat politik dari Universitas
Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Drs Mashuri Maschab SU menegaskan,
ada konspirasi yang berusaha menyudutkan TNI untuk membuat lemah
ataupun menjatuhkan TNI.

"Ada usaha yang sistematis dari kelompok-kelompok tertentu di
lingkungan masyarakat internasional yang nampaknya sengaja
memojokkan TNI yang dianggap paling bertanggungjawab dalam
masalah pelanggaran HAM, khususnya di Timtim, agar TNI menjadi
lemah dan mudah dijatuhkan," kata Mashuri Maschab kepada ANTARA
di Yogyakarta, Selasa.

Menurut dia, hal itu bisa dilihat dengan banyaknya tuduhan yang
ditujukan kepada TNI yang sangat jauh dari kenyataan yang
sebenarnya, di antaranya tuduhan-tuduhan yang dikemukakan oleh
Komandan Pasukan Multinasional di Timtim (Interfet) Mayjen Peter
Cosgrove.

Tuduhan itu antara lain bahwa TNI bertindak berlebihan, dengan
memberikan tembakan peringatan selama sekitar 30 menit, dalam
menangani kasus keributan yang terjadi saat "temu kangen"
masyarakat Timtim di perbatasan Timtim --Timor Barat di
Batugede, Sabtu (19/2).

"Tuduhan Interfet itu sangat berlebihan. Coba bayangkan,
rentetan tembakan selama 30 menit itu suatu hal yang luar biasa,
karena tembakan selama itu, yang dilakukan bersama-sama, lebih
dari satu orang, bisa mengakibatkan orang pingsan karena `deg-
degan` (senam jantung)," kata dosen Fisipol UGM itu.

Dalam hal ini, katanya, tuduhan Interfet tersebut nampak sekali
sebagai upaya untuk mendiskreditkan TNI di mata masyarakat
internasional.

"Meski mungkin TNI juga bersalah, namun terus terang, saya tidak
menyukai cara-cara yang ditempuh Interfet itu, yang terlalu
mendiskreditkan TNI," katanya.

Oleh karena itu, ia mengimbau, masyarakat hendaknya tidak selalu
mempercayai pernyataan atau tuduhan yang dilancarkan pihak
asing.

Ia juga mengimbau, TNI hendaknya bersikap korektif dan mawas
diri, jika ingin melakukan bantahan terhadap apa yang dituduhkan
kepadanya harus didukung dengan data-data dan bukti-bukti yang
valid.

"Data-data maupun bukti-bukti itu sangat penting dan diperlukan
untuk memenangkan opini publik," kata Mashuri Maschab.

Tidak benar

Sementara itu Panglima Kodam Udayana Mayjen TNI Kiki Syahnakri
dalam keterangannya kepada ANTARA Yogyakarta pertelepon, Selasa
sore, mengatakan, dari hasil Joint Investigasi antara pihaknya
yang diwakili Komandan Korem Kupang dengan pihak yang
berkopenten dalam kasus keributan temu kangen masyarakat Timtim
di Kupang-NTT, Selasa pagi, berhasil diklarifikasi temuan-temuan
baru yang lebih solid akan kebenarannya, dan banyak data yang
dilontarkan oleh Peter Cosgrove tidak benar.

Pihak berkompeten yang ikut dalam joint Investigasi itu di
antaranya Danyon Intervet, wakil dari UNHCR, UNTAET, dan
organisasi-organisasi kemanusiaan lainnya yang ada di NTT maupun
Timtim.

Adanya tuduhan bahwa tembakan peringatan yang dilakukan pasukan
TNI selama sekitar 30 menit ternyata hanya berlangsung 15-18
detik, dan peluru yang ditembakkan diperkirakan 500 hingga 600
butir ternyata hanya diperkirakan 20 hingga 40 butir.

"Kalau Mayjen Peter Cosgrove menyatakan bahwa dalam keributan
itu yang memulai pihak milisi (pro integrasi), jelas itu tidak
mendasar sekali. Pertanyaan kita milisi yang mana, sebab,
sekarang sudah tidak ada lagi milisi pro integrasi. Justru kita
perlu bertanya, apa Peter Cosgrove tidak berpikir bahwa yang
melakukan awal keributan adalah milisi (pro kemerdekaan). Ini
juga bisa dibuktikan di lapangan," katanya menegaskan.

Ketika ditanya apakah Mayjen Kiki Syahnakri sudah melakukan
"protes" terhadap pernyataan Komandan Interfet itu, ia
menyatakan, "secara kebetulan saat Peter Cosgrove berpamitan
dengan kami yang akan kembali ke Australia 23 Februari 2000,
saya mengatakan bahwa hasil joint investigasi di Kupang yang
dihadiri juga Danyon Interfet ternyata sangat berbeda dengan
pernyataannya".

Atas pertanyaannya itu, Peter Cosgrove hanya menyatakan bahwa
apa yang dilontarkannya itu adalah hasil laporan dari anak
buahnya.

"Jadi di sini jelas sekali bahwa dari hasil ini, terlihat adanya
upaya pemojokkan dengan sasaran tertentu," katanya tanpa
menjelaskan apa yang dimaksud dengan sasaran tertentu itu.

Pada kesempatan ini, Kiki juga menjelaskan adanya Demo yang
dilakukan oleh warga Timtim dalam pengungsian terhadap UNHCR.

Demo itu menuntut agar UNHCR bertanggungjawab terhadap
"hilangnya" 30 orang warga Timtim dalam pengungsian saat terjadi
temu kangen dan berakhir dengan keributan.

Dari sini juga makin jelas, siapa sebenarnya yang memulai
keributan itu dan yang jelas bukan dari kelompok warga Timtim
yang ada di pengungsian. "Tapi kelompok milisi pro kemerdekaan,"
demikian Kiki Syahnakri.
(U.YKT04/YKT01/19:42 22-02-2000/B)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Feb 2000 jam 10:44:08 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke