----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 05/III/13-19 Pebruari 2000
------------------------------

MISTERI PEMBISIK GUS DUR

(POLITIK): Informasi pertemuan para jenderal, didapat dari "orang dalam".
Gus Dur sengaja lempar versi yang salah, mengapa?

Intelejen kita kembali jadi perhatian. Gara-gara Gus Dur mengungkap adanya
pertemuan "para konspirator" yang hendak menjatuhkannya di Jalan Lautze,
banyak orang bertanya-tanya: Apakah ini kerja intelejen baru yang loyal pada
Gus Dur? Pertanyaan ini jadi relevan mengingat belum lama ini, Gus Dur telah
melakukan restrukturisasi posisi Kepala Badan Intelejen Strategis -yang
biasanya dimonopoli perwira-perwira Angkatan Darat- dengan perwira Angkatan
Udara, Marsekal Muda Ian Santoso Perdanakusumah, putra tokoh AU legendaris,
Halim Perdanakusumah. Begitu pula dengan posisi Kapuspen yang amat strategis
dalam mengurusi informasi, diisi oleh Marsekal Muda Graito Usodo.
Restrukturisasi itu sendiri dilakukan Gus Dur, karena dalam beberapa kali
kerusuhan -seperti di Wisma Doulos dan Mataram- aparat intelejen selalu
terlambat bertindak.

Kalau benar informasi pertemuan di Jalan Lautze itu didapat Gus Dur dari
aparat intelejen yang baru diangkatnya, pasti banyak orang akan meragukan
loyalitas aparat intelejennya itu. Betapa tidak? Bukan saja tuan rumah Jalan
Lautze, Hariman Siregar dan kawan-kawan yang menolak tuduhan Gus Dur itu,
tapi juga sejumlah sumber pro-Gus Dur yang dapat dipercaya menegaskan hal
itu. Pertemuan di Jalan Lautze ketika itu tidak dihadiri oleh para jenderal,
seperti diungkap oleh Hariman Siregar pada pers. Yang ada di sana hanyalah
rekan-rekan sejawat Hariman yang tergabung dalam LSM "Indemo" (Indonesian
Democracy Watch), di antaranya Mulyana W. Kusumah dan Agus Edi Santoso dan
Amir Husin Daulay. Pada hari yang sama, memang ada pertemuan para jenderal,
namun tempat pertemuan itu sendiri bukan di Jalan Lautze, melainkan di Mabes
TNI, Cilangkap.

Lalu, siapa yang memberi laporan ke Gus Dur? Ada yang menuduh Bakin. Namun,
Kabakin Letjen TNI Arie J. Kumaat segera membantah tuduhan ini. "Saya
sendiri nggak kasih petunjuk apa-apa sama beliau. Saya berusaha menciptakan
suasana yang kondusif," ujar perwira tinggi asal Minahasa ini. Arie sendiri,
selama ini dikenal dekat dengan Wiranto, karena itu sungguh diragukan ia mau
'mengkhianati' orang yang mempertahankannya, meski ia tergolong paling
senior di antara para jenderal aktif.

Arie yang mengaku punya koordinasi yang baik dengan Bais (Badan Intelejen
Strategis) juga menolak anggapan bahwa Bais yang memberikan laporan pada Gus
Dur. Kepala Bais, Marsekal Muda Ian Perdanakusumah memang orang yang dipilih
sendiri oleh Gus Dur untuk mengisi pos yang ditinggalkan Tyasno Sudarto
(kini Kepala Staf Angkatan Darat). Namun, seperti halnya Panglima TNI
Laksamana Widodo AS yang sulit menjalankan komando karena bukan berasal dari
Angkatan Darat, begitu pula kira-kira hal yang kini dialami Ian
Perdanakusumah. Sehingga, menyulitkannya mengeksekusi keputusan-keputusan
strategis.

Bantahan juga disampaikan oleh pihak Sekretaris Kabinet Marsilam
Simanjuntak. Kolega Gus Dur di dalam Forum Demokrasi yang dinilai memiliki
kemampuan analisis politik yang sangat tajam itu, buru-buru membantah ketika
diminta konfirmasinya oleh para wartawan. "Pokoknya, bukan Setneg," ujar
Marsilam. Bagaimanapun hebat kemampuan analisisnya, namun informasi yang
berkaitan dengan pertemuan rahasia para petinggi militer, mestinya memang
tidak berasal dari Marsilam. Karena itulah, banyak pihak cenderung percaya,
Gus Dur mendapatkan informasinya dari orang dalam militer.

Selama ini, petinggi militer yang sudah dikenal publik memiliki loyalitas
pada Gus Dur adalah Pangdam Wirabuana Mayjen. TNI Agus Wirahadikusumah dan
Pangdam Jaya Mayjen. TNI Ryamizard Ryacudu. Namun, justru karena mereka
sudah terlanjur dikenal, kemungkinan besar mereka akan dijauhkan dari
sumber-sumber informasi strategis para elit militer yang dekat dengan
Wiranto. Kalaupun diundang dalam pertemuan-pertemuan konspiratif semacam
itu, bisa jadi mereka enggan datang menghadiri.

Sumber-sumber Xpos menyebut nama Jenderal TNI Tyasno Sudarto, Kepala Staf
Angkatan Darat (KSAD) yang melaporkan informasi tadi pada Gus Dur. Tyasno,
sebelumnya dikenal dekat dengan Wiranto, namun banyak pihak menilainya
benar-benar berubah haluan mendukung Gus Dur sejak diangkat menjadi KSAD
dengan pangkat jenderal penuh, bintang empat. Secara terbuka, sebelum Gus
Dur berangkat ke Eropa, Tyasno telah membantah tuduhan kemungkinan dirinya
melakukan kudeta dan menyatakan sikap loyalnya pada Gus Dur di Istana Negara.

Hanya saja, kalau benar Tyasno yang membisiki Gus Dur, mengapa informasinya
bisa terdistorsi? Ada yang bilang hal ini sengaja dilakukan Gus Dur untuk
membongkar hal yang sebenarnya terjadi. Tyasno sendiri, kabarnya, telah
memberi laporan yang akurat. Dengan menunjuk ke Jalan Lautze, pihak-pihak
yang dituduh akan kerepotan untuk membantah dan tanpa sadar mengakui adanya
"pertemuan lain" yang hendak dirahasiakan. Buktinya, setelah Hariman
membantah, Panglima TNI Widodo AS juga melakukan hal yang sama sembari
"mengakui" adanya pertemuan para jenderal di Cilangkap.

Kini banyak orang jadi tahu, pertemuan di Jalan Lautze meskipun tak ada
jenderalnya, namun dihadiri pula oleh Eggy Sudjana dan kawan-kawannya yang
selama ini dikenal sering membawa bendera Islam dalam berbagai demonstrasi.
Sudah beredar pula kabar bahwa pertemuan para jenderal di Cilangkap
membicarakan cara menyambut Gus Dur dari luar negeri oleh massa yang berasal
dari kelompok-kelompok Islam. Semua jadi berhubungan.

Pemberitaan gencar yang memuat rencana untuk menjatuhkan Gus Dur ini, dengan
sendirinya merugikan "para konspirator". Mereka kini menjadi pusat perhatian
semua orang. Makin jelas wajah mereka terlihat, makin enggan mereka berbuat
"macam-macam". Sebab, makin lemah pula moral politik mereka. Nah, siapa lagi
mau lawan Gus Dur? (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 14 Feb 2000 jam 17:09:51 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke