----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Republika, 21 Pebruari 2000

Bangsa Pendendam

Oleh A Makmur Makka

Saya keliru, ketika bangsa Indonesia mengatur hubungan
diplomatik kembali dengan Kerajaan Belanda yang telah menjajah
dan membunuh pejuang-pejuang republik, maka saya berpikir bahwa
bangsa kita ini memang bangsa yang pemaaf. Suatu ketika saat
saya menyaksikan beribu-ribu anggota Partai Komunis Indonesia
tidak harus menjalani peradilan dan hukuman, maka saya
beranggapan bahwa bangsa Indonesia ini adalah bangsa pemaaf.
Ketika, para tahanan politik eks PRRI/Permesta yang dicap
memberontak terhadap pemerintahan yang sah kemudian dibebaskan
dari tahanan, maka saya juga berkesimpulan bahwa bangsa kita ini
memang bangsa pemaaf. Ketika kita menyambung lagi hubungan
diplomatik dengan Malaysia dan Singapura yang telah menggantung
dua orang prajurit Marinir yang berjuang melaksanakan tugas
negara ketika itu, maka saya pun menilai bahwa bangsa Indonesia
betul-betul bangsa pemaaf.

Ternyata saya keliru. Kita sekarang ini ternyata jadi bangsa
pendendam. Para politisi yang pernah merasa dizalimi dan hanya
menjadi penonton ingar-bingar penguasa di masa lalu bangkit
kembali. Kini mereka menyusun daftar musuh-musuh politik mereka
di masa lalu dan menuntutnya kembali sampai ke anak cucu mereka.
Jika musuh-musuh politik mereka itu sudah menjadi kerangka dan
tulang belulang, kalau perlu mereka ingin menggali kuburan
mereka. Bagaimanapun, korban darah tetap harus dibayar dengan
darah, korban nyawa dibayar dengan nyawa.

Para militer yang pernah merasa berada di luar lingkaran
kekuasaan, dimutasi dan terlambat dinaikkan pangkatnya, kini
tampil dengan bebas menyampaikan dendam mereka yang sudah lama
terpendam. Mereka menuntut komandan mereka dengan gagah berani,
tanpa peduli hierarki dalam ketentaraan yang dulu sangat
dipatuhi. Para pengusaha yang pernah tidak mendapatkan order di
masa lalu dan tersingkirkan dari bisnis koneksi, kini merasa
mendapat kesempatan untuk menindas kelompok bisnis yang dulu
telah menyingkirkan mereka.

Kini ternyata musim balas dendam telah tiba. Karena itu,
permusuhan lama antarsuku, kini gampang dibangkitkan kembali.
Mereka menuntut sanak keluarga mereka yang terbunuh, bahkan
hewan mereka yang telah hilang. Kalau perlu dibuat sebuah
peradilan rakyat dan rakyat sekaligus sebagai penuntut, hakim,
dan pelaksana eksekusinya. Rakyat kecil yang dulu merasa telah
diambil tanahnya dengan paksa atau dijual dengan harga tidak
pantas, kini ramai-ramai merebut kembali tanahnya. Gedung-gedung
yang telah dibangun di atas tanah itu, diremukkan dan kalau
perlu dibakar. Para tukang parkir, kembali ingin merebut
lahannya ketika ia disingkirkan. Para gerobak bakso ingin
kembali merebut tempat jualannya yang pernah diambil paksa oleh
teman seprofesinya.

Kata kunci yang menjadi penggerak ampuh dendam kesumat sekarang
ini adalah menegakkan supremasi hukum. Kebetulan dunia sudah
terjungkir balik. Dulu yang ada di atas kini berada di bawah.
Dulu yang mejadi raja dan maha berkuasa kini menjadi rakyat
kecil malah sudah seperti kepinding, karena itu kesempatan
membalas, kapan lagi.

Tidak ada yang memikirkan bahwa dendam itu tidak pernah bisa
dipakai untuk membangun perdamaian. Karena setiap sebuah dendam
habis dipadamkan, maka akan muncul dendam yang lain. Atau, kita
ini memang mewarisi jiwa pendendam dari leluhur kita. Amangkurat
II menikam dan mencincang Trunodjojo dengan keris Kiai Balabar
untuk menebus dendam. Sultan Hasanuddin ditaklukkan Speelman
karena dendam Arung Palakka? Bahkan, sejarah menunjukkan bahwa
kehancuran para penguasa leluhur kita di masa lalu, sarat dengan
dendam dalam perebutan tahta. Kita ini barangkali memang bangsa
pendendam.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 Feb 2000 jam 05:19:05 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke