---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Media Indonesia, 22 Pebruari 2000 EDITORIAL: Menggugat Peran IMF SEJAK awal sudah terjadi perdebatan sengit di kalangan politisi, ekonom, dan petinggi negara tentang International Monetary Fund (IMF). Mereka bersoal jawab tentang sebuah pertanyaan, "Apakah IMF itu madu atau racun?" Krisis ekonomi yang begitu parah sejak 1997, menyebabkan perdebatan atas pertanyaan itu tidak final. Kita, di tengah amuk badai krisis, akhirnya menerima kehadiran Dana Moneter Internasional sebagai "penyelamat" karena iming-iming bantuan puluhan miliar dolar. Sekarang, setelah resep IMF dipakai oleh tiga presiden, mulai tercetus keberanian untuk mengatakan bahwa badan PBB ini ikut bertanggung jawab--kalau tidak mau dikatakan sepenuhnya bersalah--atas krisis multidimensi yang membelenggu Indonesia. Adalah Fuad Bawazier--Menteri Keuangan pada masa terakhir pemerintahan Pak Harto--yang menuding IMF sebagai racun. Fuad bahkan menilai IMF telah melakukan "kejahatan terencana" untuk menghancurkan perekonomian negara. Menurut Fuad, yang di kalangan politisi disebut-sebut sebagai pemain belakang layar yang sangat berperan di barisan Poros Tengah, campur tangan IMF dalam bentuk serangkaian kebijakan telah melumpuhkan seluruh otoritas keuangan. Negara dipaksa melakukan tindakan bunuh diri, seperti menanggung biaya rekapitalisasi perbankan dan menaikkan suku bunga di dalam negeri demikian tinggi dengan alasan untuk memperkuat nilai tukar rupiah. Karena itu, menurut Fuad, IMF bertanggung jawab terhadap penyelewengan bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang kini disebut-sebut sebagai kejahatan perbankan. Sungguh menyedihkan. Tudingan Fuad adalah sebuah kesadaran. Tetapi, kita menyesal, kenapa kesadaran kritis seorang Fuad muncul di saat bangsa ini telah terjajah habis-habisan oleh IMF. Para pemimpin, politisi, dan ekonom boleh saja bangga dengan pujian Bank Dunia bahwa perekonomian Indonesia sudah bergerak di atas rel yang betul. Tetapi, pujian Bank Dunia itu tidak menghitung beban negara dan bangsa ini atas BLBI dan biaya rekapitalisasi perbankan yang mencapai ratusan triliun. IMF dan Bank Dunia menganggap dana ratusan triliun yang kini menjadi beban negara adalah harga sebuah kebodohan. Bukan kekeliruan IMF yang memberi resep "Oskadon" untuk segala macam penyakit. Sekarang kita boleh berdebat panjang lebar tentang fungsi IMF. Tetapi, satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah kita tetap saja menjadi bangsa terjajah. Di saat kesadaran ini muncul, politisi kita malah berasyik-masyuk dengan pengerahan massa untuk kebulatan tekad. Terhadap IMF, seorang Kwiek Kian Gie yang dulu sangat kritis, kini menjadi good boy. Kwiek malah merasa tidak perlu berpikir terlalu keras lagi karena segala sesuatu sudah ditentukan IMF. Kwiek yang pemberani kini menjadi kecut, termasuk kecut terhadap demonstrasi yang mempersoalkan kepemilikan sahamnya pada sebuah panti pijat. Kita, memang, bangsa yang terlena dengan salah kaprah. Madu dan racun dicampuradukkan. Penjahat dan penjilat bersekongkol mengalahkan orang baik-baik. Celakanya, kesadaran, seperti yang terlontar dari Fuad, baru muncul setelah semuanya sudah menjadi debu. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 24 Feb 2000 jam 05:20:03 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
