----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Kompas, Selasa, 29 Februari 2000

Papua tak Punya Tokoh Pemersatu

Jayapura, Kompas

Tuntutan kemerdekaan Papua hendaknya jangan mengedepankan sikap
brutal, emosional dan merusak fasilitas umum, termasuk
mengganggu warga pendatang. Tuntutan itu jangan mengabaikan
kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat. Perlu utamakan sikap
kritis, bertanggung jawab dan pengkajian mendalam mengenai
kemerdekaan itu.

Demikian dikatakan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
(FISIP) Universitas Cenderasih (Uncen) Henk Bleskadit di
Jayapura, Senin (28/2). Saat ini lapisan masyarakat paling bawah
di Papua sangat gencar menuntut kemerdekaan.

Di berbagai bidang kehidupan sosial, keagamaan, ekonomi,
pendidikan dan kesehatan telah terjadi kekacauan. Masyarakat
tidak lagi bekerja di ladang, tidak ke gereja, tidak masuk
kantor, tidak ke sekolah dan sebagainya. "Hari-hari mereka hanya
berkumpul dan bicara mengenai kemerdekaan Papua. Ini tidak hanya
di lapisan masyarakat atas, tetapi masyarakat kalangan bawah
juga terjadi demikian," kata Bleskadit.

Harus dihindari upaya-upaya menghasut generasi muda Papua di
tengah tuntutan kemerdekaan ini. Pengumpulan massa dan membangun
opini buruk, sering berakibat fasilitas umum, toko-toko dan
warga pendatang menjadi sasaran. "Saat ini orang Papua butuh
suasana kehidupan yang aman dan tenang untuk membangun
dan mengikuti irama perkembangan yang ada," katanya.

Sulit

Dikatakan, pergerakan politik masyarakat Papua menuju
kemerdekaan sangat sulit. Tidak ada tokoh politik yang mampu
mempersatukan rakyat secara keseluruhan. Seorang tokoh pemersatu
harus lahir dari kegigihannya mempertahankan ideologi.

Tokoh politik yang ada di Papua saat ini merupakan tokoh lokal,
dan hanya diakui oleh lingkungan masyarakat dari suku tertentu.
Di kalangan rakyat Papua secara umum mereka tidak diakui.

"Dari sejarah, masyarakat Papua tidak saling percaya secara
utuh. Perang suku masa lalu masih membekas pada tokoh masyarakat
dari masing-masing suku. Setiap suku merasa diri paling berkuasa
dan menjagokan tokohnya, dan tidak mengakui kelebihan tokoh
lain. Pihak ketiga gampang menyusup memecah belah. Ini terbukti
pada saat penentuan pendapat rakyat Papua," kata

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 8 Mar 2000 jam 08:55:23 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke