----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Republika, 25 Februari 2000

Embarkasi Haji Kebanggaan Masyarakat Aceh

Dari segi geografis Aceh relatif lebih dekat ke Mekah, ketimbang
Medan. Bahkan jika kita lihat peta dunia Aceh dan Mekah 'hanya'
dipisahkan oleh lautan. Mungkin karena itu sebabnya Aceh
mendapat julukan Serambi Mekah.

Namun di masa lalu, paling tidak sampai tahun lalu, warga Aceh
mesti ke Medan dulu untuk bisa pergi ke Mekah. Predikat Serambi
Mekah seakan tak berarti bagi warga Aceh. Tapi, alhamdulillah,
mulai tahun ini mereka tak perlu lagi ke Medan --terlebih dulu-
untuk bisa menunaikan ibadah haji ke Mekah.

Ya, mulai tahun ini pemerintah membuka embarkasi angkutan jamaah
haji di Aceh. Kini masyarakat Aceh tidak perlu lagi berangkat
melalui embarkasi Medan seperti tahun-tahun sebelumnya. Semua
fasilitas, mulai dari pendaftaran, pemberangkatan, sampai
kembali ke Bumi Rencong, dilakukan di Banda Aceh. Kemajuan ini,
jelas sangat memudahkan masyarakat Aceh menuju Tanah Suci,
Mekah.

Walaupun ada saja suara-suara miring yang mengatakan bahwa
kehadiran embarkasi Aceh ini sebagai hadiah pemerintah untuk
meredam kekecewaan masyarakat Aceh. Tapi tampaknya, bisikan itu
tidak dipedulikan masyarakat di sana. Ini dibuktikan dengan
banyaknya warga Aceh yang menunaikan haji dari embarkasi ini.

''Hadiah atau bukan, yang jelas masyarakat Aceh sangat
membutuhkan penyelenggaraan ibadah haji mandiri. Tidak lagi
tergantung lagi kepada daerah lain,'' ungkap Syarif salah
seorang jamaah haji asal Lhokseumawe kepada Republika. Lagi
pula, lanjutnya, sebenarnya selama ini masyarakat Aceh sangat
malu. Katanya Serambi Mekah, tapi tidak bisa memberangkatkan
haji sendiri. ''Makanya, saya tidak peduli, embarkasi ini ada
unsur politik atau tidak. Yang jelas, sejak dibukanya embarkasi
Aceh, ada kebanggaan tersendiri bagi masyarakat di sini. Dan
saya pun sangat bangga bisa berangkat haji langsung dari Bandara
Aceh,'' paparnya bersemangat.

Hal senada ditegaskan pula oleh Walikota Aceh, Zulkarnain.
Menurut dia, dengan dibukanya embarkasi haji ini, selangkah
lebih maju bagi perkembangan di kota Aceh. Karena, lanjutnya,
sebelum dibuka embarkasi haji ini, masyarakat Aceh harus
menempuh delapan jam via darat menuju Medan. Oleh karenanya,
kata Zulkarnaen, ''Sangatlah tepat kalau pemerintah memberikan
kesempatan membuka embarkasi Aceh. Ini kebanggaan bagi
masyarakat kita.'' Sejak dibukanya embarkasi Aceh ini, kota
Serambi Mekah memang mengalami banyak perubahan. Kota yang
selama ini diisukan mencekam, kembali hidup. Hal ini terbukti
dari antusiasme masyarakat Aceh yang ingin mengantarkan jamaah.
Mereka rela 'bertumpukan' di atas truk terbuka di tengah
teriknya panas matahari demi mengantarkan sanak saudaranya yang
akan melaksanakan ibadah haji. Seperti dikatakan salah seorang
warga Aceh Utara, Suhartini yang sedang mengantar kerabatnya.
''Iloung intat ne uhaji (Saya mengantar nenek ke haji --Red),''
ujarnya polos.

Padahal, menurut wanita asal Lhokseumawe ini, lumayan jauh juga
jarak dari desanya menuju asrama haji. Suasana berbeda
dibandingkan hari biasanya, terasa juga di sekitar Asrama Haji
Aceh. Asrama yang biasanya sepi nyaris 'tidak ada kehidupan' ini
mendadak ramai bagaikan pasar kaget. Keluar masuk jamaah membuat
para pedagang 'gatal' ingin segera menggelar dagangannya. Mereka
berjajar di sepanjang jalan. Mereka mengaku ketiban rezeki
banyak dengan maraknya para pengantar jamaah. Maklum saja,
pengunjung tak kenal waktu. Walaupun panitia telah menyediakan
waktu khusus selama satu jam untuk menengok jamaah, tapi mereka
tidak mau peduli. Bahkan, mereka rela berjam-jam berdiri di
depan gerbang asrama untuk menunggu. Padahal, sudah dipastikan
mereka tidak bisa masuk asrama, kecuali bertemu di balik pagar
besi. Imbas dari embarkasi haji ini terasa juga di sekitar
Bandara Sultan Iskandar Muda. Di depan bandara yang berada di
Blang Bintang --20 km dari Banda Aceh-- ini, puluhan pedagang
menawarkan berbagai keperluan haji. Mulai dari kerudung, mukena,
minyak wangi, sampai tas beludru khas Aceh tersedia di pasar
dadakan itu. Mereka menggelar dagangannya bercampur dengan
penjual buah-buahan. Selain antusiasme masyarakat, spanduk
ucapan selamat menjadi haji mabrur bertebaran di sepanjang
jalan. Di antaranya bertuliskan, ''Embarkasi Aceh adalah
Kebanggaan Masyarakat Aceh.'' Selangkah lagi menuju Mekah ini
memang tidak disia-siakan masyarakat Aceh. Terbukti, tahun ini
jumlah jamaah haji embarkasi Aceh naik tiga kali lipat
dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan jumlah jamaah ini
sebagai bukti besarnya antusias masyarakat di Bumi Rencong ini
untuk menjalankan Rukun Islam kelima. ''Musim haji tahun ini,
jumlah jamaah haji Aceh sebanyak 3.375. Naik tiga kali lipat
dibandingkan tahun lalu,'' ujar Kakanwil Depag Aceh M Nur Ali.

Pemberangkatan kloter pertama embarkasi Aceh lebih lambat
seminggu dibandingkan enam embarkasi lainnya. Kloter pertama
yang mengangkut sebanyak 325 jamaah asal Lhokseumawe, Ahad lalu
(20/2) diberangkatkan dengan pesawat A 330-300 Garuda.
Keberangkatan tamu-tamu ini dilepas langsung oleh Menag HM
Tolchah Hasan didampingi Dirjen BIUH Drs Mubarok, dan Direktur
Penyelenggaraan Haji Drs Tulus. Sebelum pemberangkatan, para
jamaah mengikuti acara adat 'peusejuk' yang biasa dilakukan
masyarakat Aceh.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 8 Mar 2000 jam 04:37:54 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke