----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 07/III/5-12 Maret 2000
------------------------------

INGAT YUGOSLAVIA MEDIA PERLU SENSOR?
Oleh: Bimo Nugroho

(OPINI): Hujan turun di tepi Danau Scutari pinggir kota Titograd,
Montenegro, akhir musim gugur 1987. Toh dinginnya hawa saat itu tak sanggup
menyejuki hati para warga Yugoslavia yang sedang retak. Di tepi danau itu,
ratusan perempuan berdemo dengan menggelar satu spanduk besar, "Kami kaum
Ibu, bukan pelacur!" sebagai protes atas usulan pemimpin Albania Kosovo,
Fadil Hodza, yang sangat merendahkan perempuan.

Hodza, yang juga anggota kepresidenan federal (sebuah presidium penguasa
pasca Tito), telah mengajukan sebuah proposal untuk memecahkan persoalan
perkosaan di Kosovo. Beberapa media nasional di Yugo melansir pernyataan
Hodza, "Para perempuan terhormat bisa dilindungi dari perkosaan, tapi mereka
yang jumlahnya tertentu di tempat-tempat minum tertentu, memang harus
memuaskan nafsu seks pria." Dengan kata lain Hodza ingin melegalkan
prostitusi secara terbatas untuk menekan angka perkosaan yang menggila. Yang
aneh adalah, media-media mengangkat pernyataan Hodza setahun setelah ucapan
itu terlontar, tatkala Hodza menjamu makan malam para jendra JNA (TNI-nya
Yugoslavia).

Tiga soal yang mengusik dalam kisah di atas; Pertama, soal perempuan yang
jadi korban kekerasan seksual dalam situasi politik keamanan yang kacau.
Kedua, soal media yang mampu menyulut emosi publik meski yang disampaikan
sebenarnya sudah tak layak berita karena informasi bias dan basi. Tetapi,
ketiga, menjadi layak berita lagi karena konteks sosial politik waktu itu.
Tentu masih lekat dalam ingatan kita, betapa Yugoslavia saat itu menuju
perpecahan sehingga setiap pernyataan apapun yang menyakitkan dari pemimpin
etnis tertentu akan ditanggapi secara emosional oleh etnis yang lain.
Ketiganya bertumpuk berkeliling dan mendorong demonstrasi balasan di wilayah
lain dan akhirnya berakhir dengan brutalitas yang saling menghancurkan antar
etnis-antar agama.

Gabriela Mischkowski menuliskan pengalaman-pengalamannya, seperti sepetik
kisah di atas, begitu menarik selama ia hidup dalam suasana perang di
Bosnia-Herzegovina. Ada satu tulisan Mischkowski yang sudah diterjemahkan ke
Bahasa Indonesia oleh Sandra Kartika dengan judul "Propaganda Perang dan
Media di Negara Bekas Yugoslavia" (Dirampai dalam buku Dari Keseragaman
Menuju Keberagaman, LSPP, 1999). Pesan yang ingin disampaikan Mischkowski
adalah ada faktor (dia tak menyebut provokator) yang mengipas brutalitas
hubungan antar etnis-agama hingga meledakkan perang yang akhirnya membuat
Yugoslavia pecah. Dan Mischkowski menemukan kesimpulannya; media memainkan
peranan penting dalam mengubah warga yang semula rukun menjadi saling
memusuhi. Berita-berita di berbagai media nasional Yugo saat itu, meski
bernuansa melawan kekejaman, ternyata menurut Mischkowski justru menghasut
pembaca hingga terdorong melakukan kekejaman balasan. "Perang isu media
adalah prakondisi dari perang yang sesungguhnya," demikian tulis feminis
asal Jerman ini.

Laporan Mischkowski sungguh mendirikan bulu roma. Dengan serta-merta kita
akan melongok berita-berita tentang Ambon dan Aceh di media-media nasional.
Dari mediawatch yang dilansir di Jurnal Pantau terbitan ISAI dan Grasindo,
wacana konflik lokal yang muncul di media belakangan ini telah banyak
menimbulkan bias yang bisa menyulut emosi di kalangan pembaca seantero
negeri. Apa yang terjadi di Ambon dan Aceh, bisa dengan sangat cepat
direspon masyarakat di Jakarta yang megapolit hingga Kupang yang terpencil.
Bila kita mengikuti perspektif Mischkowski maka tahapan yang diprediksi
adalah, pertama, kekejaman yang terjadi di suatu wilayah akan direspon oleh
protes gerakan massa di wilayah lain. Kedua, liputan media atas gerakan
massa itu akan memancing gerakan massa balasan. Ketiga, akan terjadi konflik
horisontal dalam masyarakat yang berujung pada kekerasan yang brutal.
Keempat, brutalitas mengembang jadi besar dan perang saudara terjadi.
Kelima, negara pecah berkeping-keping. Pertanyaannya, apakah media saat ini
harus disensor atau menyensor sendiri berita-berita mengenai konflik SARA
agar Indonesia tak pecah seperti  Yugoslavia? Apakah kebebasan pers yang
telah jatuh bangun diperjuangkan selama ini harus mengalah pada "kepentingan
yang lebih besar" yaitu "persatuan dan kesatuan" Indonesia. Saya tidak tahu
sekarang, tapi dulu banyak pejabat berpikir demikian dan menghimbau pers
untuk "menahan diri".

Berandai mereka gunakan cara yang sangat nostalgik seperti ketika Presiden
Kennedy mengundang para pemimpin redaksi dan membeberkan rencana serangan
gerilya Amerika Serikat ke Teluk Babi, Kuba, di awal dekade 1960-an. Kennedy
memberi "kebebasan" pada media apakah akan memuat atau tidak, tapi dia
jelaskan efek negatif bila pers memuatnya. Para pemimpin redaksi berunding
dan kemudian memutuskan untuk sepakat tidak melansir informasi tersebut.
Kasus ini menjadi monumental dalam debat antara kebebasan pers dan
kepentingan negara.

Yang sering lepas dalam kelanjutan kasus tersebut ialah, bahwa serangan ke
Teluk Babi itu kemudian gagal. Banyak pasukan khusus Amerika Serikat yang
tewas, dan Kennedy pun merasa tercoreng karirnya. Seandainya sebelum
serangan gerilya dilakukan, pers mau membeberkan rencana itu, besar
kemungkinan Kennedy akan membatalkannya dan kerugian yang lebih besar pun
bisa dihindarkan.

Dari kasus ini pun sebetulnya kita bisa mengkritisi perspektif Mischkowski.
Ia berasumsi bahwa media adalah aktor yang bebas mempengaruhi. Betul bahwa
media mempunyai kebebasan, tetapi tidak berarti media merupakan variabel
bebas yang independen. Sesungguhnya media adalah variabel yang tidak bebas
dari pengaruh variabel-variabel lainnya. Mischkowski keliru. Media bukan
aktor tunggal. Media adalah media itu sendiri dalam arti harfiah: sebuah
wahana di mana informasi lewat. Apapun dan siapapun bisa mempengaruhi wahana
tersebut.

PROVOKASI PROPAGANDA
Laporan dari sudut pandang yang berbeda dari Mischkowski disunting oleh
Peter Goff, "The Kosovo, News & Propaganda War" (International Press
Institute, September 1999). Ternyata ada banyak aktor yang mempengaruhi isi
media sebelum sampai ke tangan pembaca. Bukan hanya ideologi seperti yang
diungkap Gramschi atau penguasaan makna bahasa seperti yang dikemukakan
Chomsky saja, sehingga berita dipengaruhi oleh para penulisnya. Tetapi, juga
karena problem-problem teknis dan praktis, seperti keterbatasan waktu dan
keteledoran jurnalis, redaktur, dan bahkan pemimpin redaksinya. Seperti yang
disiratkan Goff dengan rendah hati, para awak media itu bukan orang-orang
hebat yang pasti akurat ketelitian dan pasti dalam investigasinya. Apalagi
dalam liputan perang atau konflik SARA.

Di wilayah konflik, jurnalis mau tak mau diposisikan ada di salah satu
pihak. Sangat jarang, terlebih ketika perang meledak, ada jurnalis yang bisa
berpindah posisi antar pihak yang terlibat konflik dengan leluasa. Media
yang menjunjung prinsip liputan berimbang (both side reporting) lazim
menempatkan reporter-reporternya di semua pihak yang berkonflik. Tapi solusi
ini juga tidak menjamin akurasi data.

Selain fakta yang dicatat sang jurnalis, mereka juga diprovokasi propaganda
yang dilancarkan pihak di mana jurnalis berada. Fakta dan propaganda berbaur
masuk ke meja redaktur dari para reporter di berbagai lini. Redaktur tidak
bersentuhan langsung dengan lapangan, tapi di sini ideologi dan penguasaan
makna bahasa redaktur bisa mempengaruhi tulisan. Tak hanya variabel
internal, variabel eksternal seperti selera dan keberpihakan politik segmen
pembaca pun bisa mempengaruhi isi media. Paparan ini membalik kesimpulan
Mischkowski, bukan media yang mengipas brutalitas, tapi brutalitas memang
bisa kian panas karena banyak faktor yang mempengaruhi media ketika melansir
brutalitas tersebut.

Jadi, tak perlu media disensor atau men-swasensor berita-beritanya. Sensor
justru membodohi dan menganggap bodoh pembaca. Kebebasan pers justru akan
meningkatkan daya kritis penerima informasi. Dengan keragaman informasi,
orang belajar memilah mana data mana sampah, mana fakta mana propaganda. Dan
apa yang terjadi di Yugo, sejak dari tepi Danau Scutari Montenegro, kala
hujan turun di akhir musim gugur 1987, belum tentu akan sama dengan apa yang
akan dialami Indonesia. Tergantung daya kritis dan sikap kita, khususnya
saat membaca berita konflik SARA di media.

(*) Penulis adalah mahasiswa pascasarjana ilmu sosial, jurusan komunikasi
UI. Koordinator riset di Institut Studi Arus Informasi (ISAI).

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 6 Mar 2000 jam 16:28:26 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke