---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Republika, 10 Maret 2000 Mahathir: Malaysia tak Ingin Dijadikan Basis GAM JAKARTA -- Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menegaskan bahwa pemerintahnya tetap tidak ingin Aceh memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Malaysia, yang wilayahnya sangat berdekatan dengan Provinsi Aceh ini, juga menolak daerahnya dipergunakan untuk menjadi basis gerakan separatis, Gerakan Aceh Merdeka (GAM). ''Kami tidak akan membiarkan siapa pun juga untuk menggunakan Malaysia sebagai pangkalan bagi kegiatan-kegiatan yang tidak baik bagi negara jiran (tetangga) seperti Indonesia,'' ujar Mahathir dalam konferensi pers bersama dengan Presiden Abdurrahman Wahid di Istana Merdeka, Jakarta, kemarin. Mahathir menjelaskan masalah Aceh itu ketika menjawab pertanyaan wartawan apakah masalah Provinsi Serambi Mekah itu juga dibahas dengan Presiden Abdurrahman Wahid, baik dalam pertemuan empat mata maupun pada pertemuan lengkap dengan para menteri. Mahathir tiba di Bandara Halim Perdanakusumah kemarin pukul 10.00 WIB bersama istrinya Siti Hasmah, Menlu Hamid Jaafar, Menteri Perdagangan Internasional dan Perindustrian Rafidah Aziz, Menkeu Daim Zainudin, dan Menteri Industri Primer Lim Keng Yeik. PM Malaysia itu kemudian disambut Presiden Abdurrahman Wahid dalam sebuah acara kenegaraan di halaman Istana. Usai acara penyambutan langsung dilanjutkan dengan pembicaraan empat mata dan pertemuan bilateral yang mengikutsertakan sejumlah menteri dan delegasi dagang kedua negara. Dalam pertemuan bilateral itu, dari pihak Indonesia hadir, antara lain, Menlu Alwi Shihab, Menteri Perdagangan dan Industri Yusuf Kalla, Menteri Negara Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN Laksamana Sukardi, Menkeu Bambang Sudibyo, dan Gubernur Bank Indonesia Syahril Sabirin. Seusai melakukan pertemuan empat mata yang berlangsung sekitar dua seperempat jam itu, Abdurrahman yang mengenakan baju batik dengan warna dasar krem dan Mahathir dengan jas warna gelap lalu mengadakan konferensi pers bersama. Mengawali jumpa pers yang berlangsung sekitar 20 menit itu, Presiden Abdurrahman menyebutkan pertemuan dengan PM Malaysia itu sebagai acara 'kangen-kangenan', rindu satu sama lain. Pertemuan dimaksudkan untuk memecahkan beberapa masalah yang dihadapi kedua bangsa dan mencoba melihat ke masa depan. Dalam sesi tanya jawab, wartawan menanyakan apakah dalam pembicaraan disinggung mengenai orang-orang Aceh yang ada di Malaysia. Menanggapi ini, Mahathir mengatakan pihaknya hanya menyampaikan sikap Malaysia atas persoalan itu. ''Kami telah menyampaikan kepada ulama-ulama Aceh bahwa Malaysia tidak ingin melihat Aceh berpisah dari Indonesia,'' jelasnya. PM Mahathir juga berpendapat persoalan Aceh adalah persoalan dalam negeri Indonesia. Karena itu, katanya, pemerintahnya tidak ingin mencampuri urusan Indonesia. Sedangkan Presiden Abdurrahman Wahid ketika menjelaskan masalah Aceh ini juga menyinggung tentang nasib Panglima AGAM Abdullah Syafe'ie. Presiden menuturkan dalam dialognya dengan jamaah seusai shalat Jumat lalu ada yang menanyakan mengenai berita yang masih simpang siur tentang tertembaknya Panglima AGAM itu. ''Ada laporan yang menyebut Tkg Syafe'ie tertembak kakinya, ada pula yang menyebut tertembak badannya hingga sekarat.'' Menurut Presiden, kedua-duanya tidak benar. Karena segera setelah itu ia memperoleh berita yang mengatakan Syafe'ie tidak tertembak. ''Dalam hal ini saya telah meminta kepada pihak Indonesia untuk melibatkan Tengku Syafe'ie dalam pembicaraan, misalnya dalam kongres mengenai Aceh yang melibatkan semua pihak di Aceh,'' kata Gus Dur. Menyinggung mengenai pembakaran hutan di Indonesia yang asapnya sampai ke negara jiran, Presiden menyatakan mencatat apa yang mereka diskusikan. Dijelaskan Gus Dur, dalam sidang kabinet lalu dia mendapat laporan bahwa penyebab kebakaran hutan itu adalah pembakaran yang sengaja dilakukan sejumlah perusahaan pemegang HPH. Akibat kebakaran itu asapnya menyebar ke negara-negara tetangga, termasuk Malaysia. ''Jadi, saya minta dalam sidang kabinet supaya memikirkan langkah nyata untuk mengatasi masalah ini. Saya juga tahu, bahwa Malaysia sudah pula mengambil langkah-langkah untuk memonitor upaya pemadaman api tersebut,'' ujar Abdurrahman. Kerja sama ekonomi Setelah mengadakan pembicaraan di Istana Merdeka, kedua kepala pemerintahan ini kemudian menuju Istana Negara untuk menyaksikan acara penandatanganan kerja sama sejumlah perusahaan kedua negara. Dalam acara ini Mahathir juga menyampaikan pidato singkat di depan pengusaha kedua negara. Ketika menyinggung masalah globalisasi, PM Mahathir mengatakan negara-negara berkembang memang harus menyadari bahwa globalisasi merupakan sesuatu hal yang harus diterima akibat kecanggihan sistem telekomunikasi dan penerbangan. ''Tapi, apakah hanya ada satu interpretasi saja berkenaan dengan globalisasi bahwa interpretasi yang dibuat negara kaya hanya akan menguntungkan mereka? Tidakkah ada interpretasi lain supaya nikmat itu akan dirasakan bersama oleh yang miskin dan kaya?'' kata Mahathir. Pada acara yang juga dihadiri Abdurrahman itu, Mahathir mengingatkan bahwa ASEAN harus mengkaji ulang pengertian globalisasi itu. ''Jika tidak, globalisasi akan membinasakan kita,'' tegasnya pada acara yang dihadiri pula oleh Ketua Umum Kadin Indonesia, Aburizal Bakrie. PM Malaysia dan Presiden RI kemudian menyaksikan penandatanganan Nota Persepahaman (MoU) antara PT Bahana Prakarya Industri Strategis (BPIS) dan PT Permodalan Madani dengan Bank Eksim Malaysia, bagi pembangunan sejumlah pabrik pengolahan minyak mentah (CPO) di Sumatera. Selama ini BPIS dikenal sebagai Badan Pengelola Industri Strategis yang membawahi 10 BUMN strategis seperti IPTN, PAL, Dahana, LEN, Inka, serta Inti. Berdasarkan MoU itu, maka BPIS dan PT Madani akan membangun pabrik-pabrik CPO antara lain di Aceh Selatan yang dibiayai Bank Eksim Malaysia. Sebelumnya, dalam jumpa pers bersama Presiden Abdurrahman, Mahathir juga mengatakan pihaknya telah minta Indonesia untuk meningkatkan frekuensi penerbangan MAS ke Jakarta dan beberapa bandara lainnya di Indonesia. ''Malaysia minta agar MAS bisa mendapatkan hak untuk mendarat di Jakarta dan beberapa kota lainnya di Indonesia,'' katanya. Ia menambahkan Indonesia dan Malaysia akan mengajak Brunei Darussalam untuk menjajaki kemungkinan pembangunan jalan yang akan menghubungkan Indonesia dengan Brunei guna meningkatkan kegiatan pariwisata. Disebutkan juga, ketiga negara akan mempelajari kemungkinan untuk mendirikan pusat keuangan (financial center) yang kemungkinan berada di Brunei untuk mempermudah kegiatan bisnis di antara ketiga negara. PM Malaysia itu menyebutkan usul Malaysia tersebut telah disetujui Presiden Abdurrahman Wahid. Ketika ditanya wartawan tentang bantuaan konkret apa yang bisa diberikan Malaysia untuk mempercepat pemulihan ekonomi Indonesia, ia mengatakan kedua pihak sepakat untuk bertukar pikiran dan pengalaman tentang upaya-upaya penanganan krisis ekonomi pada masa lalu. (n dam/nar) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 13 Mar 2000 jam 04:07:16 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
