----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

EROS DJAROT DIJEGAL KLIKNYA TAUFIK KIEMAS

        JAKARTA (SiaR, 10/3/2000). Taufik Kiemas, suami Wapres Megawati
Soekarnoputri berada dibalik penjegalan terhadap diri seniman Eros Djarot
sehingga gagal untuk menjadi salah seorang utusan DPC PDI Perjuangan Jakarta
Selatan (PDI-P Jaksel). Menurut pengakuan sejumlah pengurus anak ranting
PDI-P Jaksel, Kamis (9/3) ini, Santayana Kiemas, adik Taufik Kiemas,
melakukan politik uang untuk memperoleh dukungan peserta Konferensi Cabang
Khusus (Konfercabsus) dalam mempersoalkan keabsahan pencalonan diri Eros
sebagai ketua umum partai.

        Konfercabsus ini terbilang istimewa, selain dilakukan di sebuah hotel, juga
dihadiri para tokoh partai yang dikenal sebagai klik-nya Taufik Kiemas,
seperti Ketua DPD PDI-P Jakarta Roy BB Janis, serta Wakil Sekjen DPP PDI-P
Mangara Siahaan. Sedangkan dari kubu Eros yang hadir adalah Haryanto Taslam.

        Sesaat setelah voting selesai dilaksanakan dalam Konfercabsus yang diadakan
di Hotel Crown Plaza, Selasa hingga Rabu dini hari, Santayana Kiemas dan
beberapa orang pendukungnya segera "bergerilya" menghampiri para pengurus
cabang untuk menolak terpilihnya Eros sebagai salah seorang utusan.
Santayana, menurut pengakuan seorang pengurus anak ranting, mengiming-imingi
mereka sejumlah besar uang, seraya memprovokasi untuk menolak Eros yang
dinilai lancang berani maju menantang Megawati Soekarnoputri.

        Padahal dalam voting, Eros memperoleh 18 suara, berada pada posisi ke-2. Ia
hanya kalah tipis dari Audy Tambunan yang memperoleh 19 suara, dan berada di
urutan teratas. Berdasarkan hasil ini, Eros semestinya menjadi salah seorang
dari empat orang utusan cabang menuju Kongres PDI-P di Semarang akhir Maret
ini.

        Sementara Santayana dan kawan-kawan "bergerilya" di antara peserta
Konfercabsus, maka Audy Tambunan dan para pemimpin sidang mulai melakukan
sejumlah trik penjegalan. Mulailah Eros di-"litsus" dipertanyakan dari mulai
kartu tanda anggota (KTA), hingga domisili tempat tinggal. Dua tahap
"litsus" ini dapat dilaluinya, tapi Eros masih dipertanyakan kapasitasnya
sebagai seorang kader partai. Ini pun dapat dilalui Eros, karena ia pernah
direkomendasikan salah satu cabang menjadi calon legislatif.

        Tak patah arang, maka pemimpin sidang, dengan didukung oleh para
supporters-nya menyoal Eros berdasarkan petunjuk pelaksanaan (Juklak) yang
dikeluarkan DPP, yakni bahwa utusan kongres harus tidak bermasalah. Pasal
karet inilah yang lalu dipergunakan untuk menjegal Eros. Eros, kata pemimpin
sidang, bermasalah karena berani mencalonkan diri sebagai ketua umum, dan
alasan ini dapat diabaikan jika ia menyatakan kesediaannya untuk menganulir
pencalonanan dirinya sebagai ketua umum partai. Karena Eros menolak, maka
sidang memutuskan menganulir pencantuman nama Eros sebagai utusan. Dan yang
aneh, para peserta Konfercabsus yang mulanya memberikan suara untuk Eros,
pada akhirnya juga mendukung penganuliran nama Eros.

        "Mulut mereka kan baru disumpal lembar lima-puluh ribuannya Santayana,"
ujar salah seorang pengurus anak ranting kepada SiaR.

        Sementara itu, Haryanto Taslam, yang juga salah seorang Wakil Sekjen DPP
PDI-P yang dikenal sebagai pendukung Eros Djarot menyatakan keheranannya,
mengapa alasan yang sangat subyektif dipergunakan untuk menjegal Eros. "Itu
tidak demokratis, dan sangat otoriter. Persis gayanya Orde Baru dulu," ucapnya.

        Haryanto menduga ada kepentingan kelompok tertentu dibalik penjegalan diri
Eros ke kongres partai. Menurut dia, jika pun Eros menjadi kandidat calon
ketua umum, maka belum tentu Eros terpilih sebagai ketua umum. Tapi, lanjut
Haryanto, meskipun tak terpilih bisa saja sebagai implikasi hasil kongres,
Eros masuk dalam struktural partai sebagai pengurus di DPP. "Hal ini mungkin
yang dikhawatirkan orang-orang yang berfikiran feodalistik dan konservatif,
karena program kerja Eros adalah membangun suatu sistem kepartaian yang
moderen di mana nilai-nilai yang tak cocok dengan perkembangan zaman
ditinggalkan" ujarnya.

        Roy dan Mangara sebagai bagian dari klik-nya Taufik Kiemas dikenal sebagai
pengurus yang memiliki track record kurang baik. Roy bahkan belum lama ini
ditegur Megawati karena telah menerbitkan petunjuk teknis (juknis) sebagai
interpretasi pihak DPD PDI-P Jakarta atas juklak yang dikeluarkan DPP PDI-P.
Juknis versi Roy ini sempat diprotes kader-kader PDI-P di kelima wilayah
Jakarta karena dianggap tak demokratis. Sedangkan Mangara pernah memalsukan
tanda tangan Megawati untuk menerbitkan surat keputusan bagi kepengurusan
suatu DPC di beberapa daerah di Indonesia, sehingga menimbulkan pergolakan
di sana.

        Namun belakangan setelah Eros bertemu Megawati, ia izinkan mengikuti
Kongres. ***

- ------------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 10 Mar 2000 jam 11:21:27 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke