----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 08/III/13-19 Maret 2000
- ------------------------------

RUNTUHNYA KEKUATAN "TNI HIJAU"

(PERISTIWA): Bersamaan dengan dicopotnya "gerbong" para jendral pro Wiranto,
runtuh pula kekuatan "ABRI Hijau", sebutan untuk kelompok perwira TNI yang
menggunakan politik aliran (Islam) sebagai basis membangun kekuatan militer
dan politik. "ABRI Hijau" dalam tubuh TNI muncul bersamaan dengan munculnya
ICMI.

Kekuatan Islam diberi kesempatan Soeharto untuk muncul, ketika sebagian para
perwira ABRI mulai menyoal kekuasaan Soeharto. Lalu, dibuatlah ICMI yang
ketika itu punya doktrin: cara menguasai negeri ini adalah dengan menguasai
ABRI. Melihat perkembangan itu, para perwira ABRI yang ingin pangkat tinggi
berlomba-lomba menjadi paling Islam. Panglima ABRI saat itu, Jendral TNI
Feisal Tanjung pun masuk ICMI, disusul KSAD Jendral TNI Hartono. Kelompok
"ABRI Hijau" pimpinan Jendral Hartono mendirikan lembaga think-thank bernama
Center Policy and Development Studies (CPDS), selain menganalisis masalah
politik, CPDS juga membahas rekruitmen kader di tubuh ABRI. Di CPDS ada
Mayjen TNI Mulkis Anwar (waktu itu Asisten Pengamanan KSAD), Brigjen TNI
Robik Mukaf (waktu itu Kadispen Angkatan Darat), Dr Amir Santoso, dan
Kolonel Inf Prabowo (waktu itu Wadanjen Kopassus). Di CPDS ini pula dibahas
bagaimana mendongkrak karir Prabowo agar dalam waktu singkat bisa menjadi
letnan jendral.

Jaringan "ABRI Hijau" mula-mula memang lingkaran ini, yakni klik
Feisal-Hartono yang di dalamnya ada Prabowo, Gassing, Fachrul Rozi, Kivlan
Zen, Sjafrie Sjamsoeddin dan Sudi Silalahi. Di mata kelompok ini, Wiranto
(ketika itu Pangkostrad) dan Soesilo Bambang Yudhoyono adalah musuh yang
bakal menghalangi laju mereka. Dua jendral ini dianggap sebagai pimpinan
"ABRI Nasionalis" atau "ABRI Merah Putih", sebuah klik di Angkatan Darat
yang bersaing dengan "ABRI Hijau". Itu misalnya tercermin dalam "Dokumen
CPDS" yang sempat heboh itu.

Sumber di BAIS membenarkan bahwa Wiranto pada mulanya bukan bagian dari
"ABRI Hijau". Namun, karena ambisi kekuasaan, di mana saat ini paling mudah
merebut kekuasaan dengan bendera Islam, Wirantopun menggunakan kelompok
Islam garis keras untuk mencapai tujuannya. Ini yang unik. Setelah ia
berhasil menggusur Prabowo, orang-orang Prabowo, termasuk kelompok-kelompok
Islam radikal yang dibesarkan Prabowo seperti KISDI dan FPI direkrutnya.
Fachrul, Kivlan, Sjafrie diberinya jabatan penting. Lalu, ia menugaskan
Djadja Suparman dan Noegroho Djajusman untuk memperkuat barisan ini.
Belakangan Letjen Suaidi pun direkrut. Djadja dan Noegroho pun "dibaiat"
menjadi bagian dari "ABRI Hijau". Sumber di BAIS mengatakan, "penghijauan"
itu pun terjadi hingga di BAIS. Ketika Jendral Tyasno memimpin lembaga
intelijen itu, ia setengah mati membersihkan infiltrasi itu. Ketika Tyasno
masuk BAIS, hanya dua perwira yang ia percayai, karena dua perwira BAIS ini
kelompok "ABRI Hijau".

Pengkubuan ini dulu selalu dibantah oleh para tokohnya. Namun, sumber-sumber
TNI yang tak mau disebut namanya selalu mengakui bahwa pengkubuan itu
terjadi. Kivlan Zen misalnya membantah  tuduhan bahwa ia seorang "jendral
taleban" (sebutan di kalangan TNI Merah Putih untuk jendral yang dekat
dengan kelompok Islam radikal). "Saya hijau karena seragam saya. Tetapi saya
ini Merah Putih. Bukan taleban", katanya suatu ketika.

Pencopotan gerbong Wiranto di tubuh Angkatan Bersenjata ini, praktis memutus
mata rantai antara TNI dengan kelompok-kelompok radikal itu. Sekaligus juga
mengamputasi sisa-sisa kelompok "Jendral Hijau" yang selama ini menggunakan
kekuatan Islam garis keras untuk kepentingan politik mereka. Memang masih
ada Fachrul Razi di Mabes TNI (Wapang TNI), namun, kekuatan "ABRI Hijau" di
tubuh TNI praktis sudah sangat lemah. Tampaknya, itu yang diinginkan Gus
Dur. (*)

- ---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- ----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 11 Mar 2000 jam 17:02:45 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke