---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 08/III/13-19 Maret 2000 - ------------------------------ APA MUNGKIN BENAHI BIROKRASI? (POLITIK) Rekrutmen calon PNS dimulai. Mau diterima di Bapedal? Sediakan uang kontan Rp10 juta atau gaji tiap bulan sebagian masuk ke rekening lain. Birokrasi sejak Parkinson dan Apeldoorn telah disinyalir menjadi 'kekuasaan keempat' di luar Trias Politica. Siapapun partai berkuasa hanya berpengaruh terhadap struktur eksekutif, legislatif pun yudikatif. Pengaruh besar tidak mengimbas ke struktur, terutama kultur, birokrasi. Sogok, suap tetap dinamai sebagai "imbal jasa", "tanda terima kasih" atau "uang muka". Kalau ada beda cuma sebatas sistematik tidaknya praktek berlangsung. Pendek kata, tetap saja terjadi 'tipu-tipu'. Sekretaris Kabinet Marsillam Simanjuntak saja nyaris kecolongan. Ceritanya, suatu sore di bulan Februari Simanjuntak disodori surat dan secarik kuitansi oleh salah seorang bawahannya di Kesekretariatan Negara. Nilai nominalnya memang tidak berarti besar dibanding gaji sebagai Seskab. Empat ratus ribu rupiah. Menurut sang bawahan jumlah tersebut merupakan honorarium dari sebuah kegiatan. "Saya kira ini gaji saya," canda Simanjuntak seraya mengembalikan uang tersebut kepada staf bersangkutan. "Buat kalian saja". Tapi? Bukan kepalang kaget penggiat Forum Demokrasi ini setelah membaca surat yang menyertai kuitansi. Rupanya isi surat menterai kegiatan dilaksanakan pada bulan Nopember-Desember 1999. Terang Simanjuntak merasa tidak berhak atas uang itu, apalagi memberikan kepada orang lain. "Lho, sepanjang bulan ini saya belum masuk sekneg," tukas Simanjuntak. Staf bersangkutan kontan mengkeret mengetahui kecermatan sang Menteri. Bagaimana bisa begitu dan senekat itu? Peristiwa seperti menimpa Marsillam Simanjuntak barangkali bukan cerita baru. Meski sah saja kita membatin miris. Toh, begitulah fakta polah birokrat atau administratur atau lebih pas lagi, pegawai negeri kita. Persis seperti diungkap Apeldoorn, ahli hukum administrasi negara asal Belanda, kita tengah berhadapan dengan lingkup kekuasaan yang usia dan mekanisme kerjanya lebih lama dari siklus pemerintah sendiri. Sistem birokrasi setelah masa Andrew Jackson di AS diketahui tidak lagi mengenal pola spoil system. Alasan utama lantaran bidang kerja birokrat menyangkut pelayanan publik. Butuh biaya besar dan waktu untuk pelatihan bila senantiasa seluruh jajaran berubah seiring pergantian pemerintah. Sementara proses pelayanan terjadi tiap hari. Peralihan ke 'orang baru' hanya dimungkinkan bagi jabatan-jabatan politis. Bulan April merupakan awal tahun anggaran baru. Mendekati tutup buku sisa ongkos belanja tahun lewat diasumsikan habis agar neraca akhir berimbang. Caranya bisa seperti dialami Marsillam Simanjuntak. Di tingkat suku dinas kesibukan memburu tanda tangan tak kalah riuh. Angka-angka mark up di kuitansi bertanggal beberapa minggu atau bulan sebelumnya. April mop ala birokrasi? Boleh dibilang begitu. Kesibukan lain menjelang April adalah rekrutmen calon-calon PNS baru. Cerita seputar ini pun tak kalah seru. Apa kali terjadi? Pekan lalu (29/2), Gedung Puspitek Tangerang dipadati 225 peserta ujian tulis calon PNS badan penanggulangan dampak lingkungan (Bapedal) Jakarta. Seperti umumnya ujian lain, tempat yang bakal diisi melulu sedikit. Bapedal hanya memerlukan 25 orang untuk periode rekrutmen kali ini. Artinya, 200 orang akan terlempar kembali ke "konsorsium jutaan pengangguran". Peserta lulus pun tidak lantas jumawa gembira. Sekurangnya, melewati waktu satu tahun untuk dapat diangkat menjadi PNS penuh. Uniknya, sebagian besar peserta mengaku optimis. Padahal mereka mengetahui kapasitas kebutuhan Bapedal. Sumber keyakinan berasal dari janji dan konsesi yang telah dikeluarkan. Rata-rata peserta telah memberi "uang muka" 10 persen dari biaya keseluruhan kepada "pembawa" (makelar penghubung dengan biro kepegawaian-red). Kalau besarnya "uang muka" ada yang mencapai Rp1 juta, berarti total 'tarif' masuk ke Bapedal mencapai Rp10 juta. "Itu harga lulusan SMA, untuk sarjana nambah lagi," ungkap Erna, seorang "pembawa" yang sehari-harinya bekerja di kantor Kowani pimpinan mantan Menteri UPW Mien Sugandhi. "Buat ukuran jaman sekarang, jumlah itu kecil. Nggak sampai setahun juga kembali modal," lanjut Erna. Bersama suaminya, Erna berhasil menggaet 12 orang untuk diajak serta. Pagi-pagi sekali, Erna sudah memberi briefing kepada mereka untuk seterusnya mendampingi sampai ke Puspitek Tangerang. Berjejal mereka menaiki colt sewaan yang dibayar patungan. Kok tidak dibayari? "Ah, sudahlah cuma 20 ribu per orang, kok," tukasnya cepat. Erna mengulum senyum waktu ditanya apa dirinya juga tidak yakin ke-12 orangnya bisa berhasil. Ia punya kewajiban mengembalikan uang muka sebesar 80 persen. Sisa 20 persen? "Ya itu tanda masuk saya ke chanel di biro kepegawaian. Makanya, kalau tidak gol saya nggak dapat apa-apa". Sebaliknya, 80 persen akan menjadi miliknya ditambah satu juta rupiah lagi. Belum tanda terima kasih sungguhan yang akan langsung diberikan oleh si calon PNS bersangkutan. Paling kurang sebuah handset Nokia bisa ia beli. Bagaimana pelunasan sisa komitmen terdapat dua cara. Andaikan yang bersangkutan memiliki dana kontan dapat langsung dibayarkan, lewat Erna atau langsung. "Cuma ini jarang sekali". Paling umum adalah cara kedua. Sejak menerima honor calon PNS hingga pengangkatan akan ada potongan-potongan 'otomatis'. Rekening Erna di BII pun otomatis bertambah sampai genap satu juta. Yakin praktek seperti ini luput dari Menteri LH Sony Keraaf? "Menteri baru ya, tapi mestinya dia tahu". (*) - --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] - ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 11 Mar 2000 jam 18:21:34 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
