----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

PERNYATAAN PM MALAYSIA DIKECAM ASNLF AMERIKA
MALAYSIA GUGUR SEBAGAI CALON MEDIATOR PERUNDINGAN KONFLIK ACEH

BANDA ACEH, Radio Nikoya-FM, Senin (13/3/2000).
Pernyataannya Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad, sewaktu melakukan
lawatannya ke Indonesia, tentang tidak akan mengizinkan wilayah Malaysia
untuk dijadikan pangkalan yang tidak baik untuk Indonesia, mendapat reaksi
keras dari pihak Atjeh Sumatera National Liberation Front (ASNLF). Musanna
Tengku Abdul Wahab, pimpinan Biro Penerangan ASNLF Amerika Serikat dalam
siaran persnya yang diterima Radio Nikoya-FM, Senin (13/3/2000),
menyebutkan, "Malaysia tidak perlu khawatir daerahnya dijadikan pangkalan
Gerakan Acheh Merdeka (GAM), sebab pangkalan dan kekuatan GAM tetap berada
di Negeri Acheh sendiri, Mahathir Mohammad tiada hak untuk mencampuri,
mengancam, membendung, apa lagi  untuk menentukan masa depan bangsa dan
Negara Acheh sebab hak menentukan nasib masa depan ataupun kemerdekaan
Acheh, adalah hak dan kewajiban mutlak bangsa  Acheh sendiri. Untuk itu,
kami tidak perlu mendapat pengakuan Malaysia", tulis Musanna.

Terhadap penawaran Malaysia untuk menjadi mediator dalam perundingan
pemerintah Indonesia dengan pihak GAM, tampaknya ditolak oleh pihak ASNLF
karena dianggap pemerintah Malaysia terlalu arogan dan ironis, sebagaimana
yang disebutkan oleh Musanna dalam suratnya itu, ia menambahkan, "Bagaimana
Malaysia dapat diterima sebagai pihak penengah di dalam konflik sedemikian
rupa, apabila dasar pemerintah Malaysia telah memihak kepada Indonesia?
Tegasnya, Malaysia di bawah pimpinan Mahathir Mohammad c.s. telah lama
menjadi surrugate-state Indonesia - mulai dari zaman pemerintahan regime
Soeharto dan seterusnya kini dia bawah pimpinan Abdurrahman Wahid, di dalam
usaha jagat mereka untuk menghancurkan perjuangan
bangsa Acheh dari belunggu penjajahan neo-colonialist Indonesia. Kenyataan
ini telah dibuktikan dalam peristiwa pembunuhan kejam yang dilakukan oleh
polisi Malaysia terhadap puluhan para aktivis pejuang kemerdekaan Acheh
dalam kamp tahanan Malaysia yaitu si Semenyih, Lenggeng, Langkap dan Juru
pada 26 Maret, 1998. Peristiwa berdarah ini telah menggemparkan dunia dimana
pasukan Polisi di Raja Malaysia telah berhasil diperalatkan oleh "Indonesia"
dalam rencana mereka membasmi (genocidal policy) terhadap bangsa Acheh",
katanya.

Diakhir suratnya itu, Musanna, menyebutkan bahwa tindakan regime Perdana
Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad yang berterusan mengancam dan mencampuri
urusan bangsa Acheh bukan saja telah melukai hati bangsa Acheh, tetapi
bertanggung jawab dalam menghancurkan hubungan sejarah, adat dan darah yang
telah terbina ratusan tahun diantara bangsa Melayu di Semenanjung dan bangsa
Acheh/Sumatera di seberang Selat Melaka. Peristiwa pembunuhan 26 Maret 1998
di Malaysia itu menurut pihak ASNLF Amerika adalah, suatu tragedi terburuk
yang menimpa rumpun Melayu di abad ini. Hal ini dapat terjadi karena
pimpinan orang Melayu di Malaysia dewasa ini bukan lagi berada di bawah
kekuasaan orang Melayu.

Dengan pernyataan keras pihak ASNLF yang berkedudukan di Salt Lake City
Amerika tersebut, tampaknya Malaysia telah resmi ditolak untuk menjadi calon
mediator dalam perundingan antara Presiden Gus Dur dan Wali Negara Aceh
Merdeka Tengku Hasan M di Tiro yang telah direspon oleh ASNLF, Rabu lalu
(8/3/2000), memang dalam pernyataan sebelumnya, pihak ASNLF pimpinan Hasan
Tiro itu tidak pernah menyebutkan Malaysia sebagai penengah yang diharapkan
untuk perundingan itu nantinya, kecuali PBB dan Uni Eropa, namun pemerintah
di Jakarta juga tak menolak tawaran baik dari pemerintah Malaysia untuk
menjadi penengah dalam perundingan penyelesaian konflik di Aceh. Sementara
itu pemerintah Amerika Serikat melalui Wakil Menteri Luar Negeri-nya sepekan
lalu di Jakarta, telah dengan jelas menunjukkan sikap pemerintah adydaya itu
terhadap persoalan Aceh, yang tidak mendukung Aceh lepas dari NKRI serta
menganggap persoalan Aceh adalah persoalan dalam negeri Indonesia, selain meminta 
penguasa Indonesia untuk tidak
menggunakan kekuatan bersenjata dalam penyelesaian konflik di Serambi
Mekkah yang telah banyak menelan korban jiwa itu.

Agaknya perundingan Gus Dur - Hasan Tiro yang diinginkan oleh kebanyakan
rakyat Aceh itu masih terlalu jauh, sebab dalam hal menyepakati mediator
masih terjadi kendala, disisi lain, hingga kini belum satupun dari
negara-negara Uni Eropa maupun PBB yang menyatakan kesediaannya untuk
menjadi penengah dalam rencana perundingan penting itu. (Tim).

News Division
RADIO NIKOYA 106.15 FM
Banda Aceh Hit Radio Station
UNESCO Local Radio Network
www.nikoyafm.2000c.net

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 13 Mar 2000 jam 16:25:37 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke