----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Kisah Pak Nas tentang Beda Pendapat BK dan Soeharto
AH Nasution SM/dok

KISAH Surat Perintah Sebelas Maret ternyata menjadi hal kontroversial yang 
berlarut-larut, sejak ditandatangani Soekarno hingga saat
ini. Tokoh sentral dalam pembicaraan itu adalah mantan presiden Soeharto.

Soeharto, yang berkuasa selama 32 tahun, ternyata menyimpan berbagai masalah 
terpendam. Bukan hanya kasus kolusi, korupsi, dan
nepotisme (KKN) yang digugat, sehingga ia harus berhadapan dengan aparat Kejaksaan 
Agung. Gugatan politik pun bermunculan.

Terakhir Arsip Nasional meminta bantuan DPR memanggil Jenderal (purn) M Yusuf untuk 
meminta keterangan tentang Surat Perintah 11
Maret (Supersemar). Bahkan janda mendiang Bung Karno, Dewi Soekarno, bersedia 
memberikan kesaksian.

Semasa Soeharto masih berkuasa, hampir setiap tahun masalah itu muncul menjelang 
peringatan Supersemar.

Dosen luar biasa Universitas 17 Agustus, A Dahlan Ranuwihardja, dalam sarasehan yang 
diselenggarakan Persatuan Korban Orde Baru
(Pakorba) mengatakan, Soeharto memanfaatkan Supersemar untuk mendepak Soekarno dan 
menggantikannya sebagai presiden.

Soeharto dikatakan ingin mengakhiri hubungan tugas Soekarno tidak dengan cara berhenti 
sebagai pembantu presiden, melainkan
presidennya yang harus diberhentikan.

Soeharto saat itu tidak berani kudeta, sehingga muncul akal-akalan yang disebut Tap 
MPRS IX/1966, yang isinya mengukuhkan pengemban
Supersemar tersebut.

Jenderal (purn) Abdul Harris Nasution pernah bercerita panjang lebar soal Supersemar 
ketika menerima Menteri Pemuda dan Olahraga
(saat itu) Hayono Isman, yang mendapat tugas melaksanakan Seminar Nawaksara. Tentu 
pada saat pemerintahan Soeharto.

Bung Karno, menurut Pak Nas, mempunyai penafsiran Supersemar adalah pelaksanaan teknis 
politik keamanan. Sedangkan Soeharto
menggunakan surat itu untuk membubarkan PKI. ''Dan itu politis,'' ujar Pak Nas. Itulah 
yang pernah dibantah BK.

Sehubungan beda pendapat penafsiran Supersemara antara BK dan Soeharto saat itu, Pak 
Nas mengumpulkan para panglima rumah Jalan
Tengku Umar, pada pukul 02.00 hingga 04.00 tanggal 14 Maret 1966.

Dari TNI-AL, yang hadir Laksamana Mulyadi. Ada pula Jenderal Oemar Wirahadikusumah 
(mantan wapres). ''Pokoknya seluruh panglima
angkatan saat itu datang.''

''Saat itu tegang,'' Pak Nas menggambarkan dalam ceritanya. Tiap-tiap kepala angkatan 
tidak saling bersalaman. Mereka datang hanya
bersalaman dengan Pak Nas. ''Situasinya tegang, dan para panglima tidak saling tegur 
sapa. Tapi setelah pertemuan dua jam itu dan
akan pulang, baru mereka saling jabat tangan.''

Sakit Tenggorokan

Di luar sudah banyak persenjataan berat yang disiagakan tiap-tiap angkatan. AL saat 
itu siap bertempur. Mereka dibantu Marinir (dulu
KKO).

Ketika itu para jenderal tidak memihak tafsiran BK atau Soeharto. Pertemuan itu 
memutuskan, pada pagi harinya Laimena diminta datang
kepada Soeharto serta mengajaknya ke Istana untuk bertemu BK.

''Tapi Soeharto tidak pigi (pergi) karena sakit tenggorokan. Dan Om Laimena pun 
melapor ke Presiden bahwa Soeharto sakit
tenggorokan, tidak bisa ikut ke Istana,'' ujar Pak Nas.

Menurutnya, penyakit Soeharto tidak diketahui sebelumnya. Sebab, jika Soeharto ikut 
datang ke Istana serta bertemu BK, jelas sudah
dipersiapkan keputusan yang harus ditandatangani, dan keputusanya bisa berubah.

''Saat itu kita bikin parade besar-besaran di Jakarta. Kebetulan saat itu meninggalnya 
Sjahrir. Saya duduk dengan Bung Hatta.
Sepanjang Jalan Thamrin-Sudirman, parade berlangsung besar-besaran.''

Pak Nas menyatakan tidak setuju baik dengan penafsiran BK maupun Soeharto. Yang 
diketahui itu dikerjakan Soeharto dengan bertindak
menafsirkan sesuai dengan apa yang dihayati. ''Bukan menurut si anu atau anu.''

Pidato Nawaksara

Tak kalah penting untuk mengetahui duduk permasalahan kejatuhan BK, Pak Nas saat itu 
juga menceritakan pidatonya tentang Nawaksara,
yang berkaitan erat dengan peristiwa Supersemar.

Nawaksara sebetulnya istilah yang dibuat BK dan berisi sembilan pokok pikirannya. Dari 
pidato itu timbul reaksi masyarakat, terutama
KAMI dan KAPPI-KAPI.

Mereka menganggap pidato itu bukan progress report, karena tidak sesuai dengan Tap 
MPRS No 5/MPRS/1966 tentang Pemberontakan
G30S/PKI serta Kemerosotan Ekonomi Aan akhlak.

Selanjutnya, kata Pak Nas, peristiwa yang terjadi 10 Januari 1967, Presiden memenuhi 
Tap 5/1966 dengan menjawab Nota Pimpinan MPRS
N-Nota-2/pimpinan MPRS perihal kelengkapan pertanggungjawaban, yang disebut 
Pelnawaksara (Pelengkap Nawaksara).

Karena pertanggungjawaban Presiden ditolak MPRS, 9 Februari 1967 DPR GR mengeluarkan 
resolusi agar MPRS mengadakan sidang istimewa
(SI). Bunyi resolusi DPR GR adalah keputusan MPRS No 5/MPRS/1966 tentang tanggapan 
MPRS terhadap pidato Nawaksara merupakan jalan
tengah untuk tidak sepenuhnya menolak pertanggungjawaban Presiden/Mandataris MPRS di 
depan sidang umum yang tidak memenuhi harapan
rakyat.

Karena itu, menurut Pak Nas, Tap MPRS No XXXIII/MPRS/1967 mencabut kekuasaan dari 
Soekarno, untuk kemudian menyerahkan kepada
pengemban Tap MPRS IX/MPRS/1966 sebagai pejabat presiden.

Kemudian atas resolusi DPR GR, 28 Februari MPRS mengadakan sidang umum kelima untuk 
mengangkat penjabat presiden menjadi presiden
penuh. ''Karena syarat terakhir ini dipersyaratkan negara-negara donor IGGI yang 
pertama di Tokyo,'' ujarnya.(A Adib-31c)

Copyright� 1996 SUARA MERDEKA

_____________________________________________________________
Email Powered by Everyone.net

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 13 Mar 2000 jam 16:26:03 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke