---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Lima Warga Aceh Timur Diculik, Satu Ditemukan Tewas TEMPO Interaktif, Banda-aceh: Satu dari lima warga Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur, yang menurut kesaksian warga sekitar, diambil secara paksa oleh aparat keamanan BKO Polres Aceh Timur sejak awal minggu ini, kemarin ditemukan tewas. Jenazah Usman Sulaiman, 30, warga Keude Dua, Idi Rayeuk, ditemukan dalam kondisi fisik yang mengenaskan akibat penyiksaan. Di tubuh korban banyak bekas tusukan pisau, dan bercakan darah yang sudah mengering. Usman diambil aparat brimob di rumahnya dengan disaksikan anak dan istrinya, Rabu (8/3), tanpa surat perintah penangkapan. Keluarga korban mengetahuinya sudah tewas atas pemberitahuan pihak RSU Langsa . Korban-korban penculikan yang lain hingga saat ini tidak diketahui keadaannya. Tiga orang masing-masing Hamdani Ismail, 14, Rusli Puteh, 19, Musliadi Muktar, 20, adalah warga Desa Lhok Dalam, Keude Dua, Idi Rayeuk. Satu lagi, Zainal Abdul Jalil, adalah warga Blang Rambong di kecamatan yang sama. Sumber-sumber TEMPO Interaktif di kalangan penduduk yang dihubungi Jumat (10/3) pagi mengaku melihat Rusli dan Hamdani dengan tangan diborgol di dalam truk aparat brimob BKO Polsek Idi, saat penggrebekan dan penyisiran di Keude Dua. Namun setelah itu mereka tidak mengetahui lagi keberadaan dua anak remaja ini. Sementara Zainal, diduga kuat dianiaya oleh aparat TNI di Koramil setempat. Ketika TEMPO Interaktif mengkonfirmasikan penculikan tersebut kepada polisi, Dandim 0104 Aceh Timur Letkol Inf Deni K Irawan mengaku tidak tahu menahu. Menurutnya, pihaknya tidak pernah memerintahkan menculik warga. Untuk itu, ia berjanji akan mencek kebenaran informasi ini. "Dan saya himbau agar warga tetap melaporkan kepada aparat kalau ada keluarga yang hilang," kata Deni kepada TEMPO Interaktif Jum'at. Sementara itu, lima aktivis mahasiswa yang ditahan aparat di Polsek Darul Aman, Idi Cut, Aceh Timur sudah dilepas Rabu (8/3) petang. Kelima aktivis itu - masing-masing Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, Efendy Hasan; anggota Presidium SIRA, Ridwan M.; mahasiswa IAIN dan aktivis FARMIDIA, Amri, Abdul Manaf dan Zulkarnaen - bersama sopir dan mobil kijang BL 184 AR (plat merah) ditahan aparat Polsek sejak Senin (6/3). Menurut keterangan Koordinator Presidium SIRA, Muhammad Nazar, kelima rekannya itu sempat dianiaya oleh aparat Brimob dan polisi di Polsek setempat. Sementara Kapolres Aceh Timur Letkol Abdullah Hayati menyebutkan, penahanan kelima aktivis itu karena faktor kesalah pahaman antara anak buahnya dengan mahasiswa. Saat itu, menurut Kapolres, aparatnya melakukan sweeping di jalan raya sekitar Mapolsek, karena ada informasi pemerasan. Dalam sweeping itu, polisi memeriksa mobil mahasiswa dan menemukan adanya sebuah agenda yang berisi angka-angka perhitungan uang. Atas dasar itulah, polisi menahan kelima aktivis itu. Namun keterangan Abdullah dibantah mahasiswa. Mereka sudah memberi tahu bahwa mereka mahasiswa dengan memperlihatkan KTP dan kartu mahasiswa, serta menceritakan bahwa mobil yang mereka pakai adalah milik IAIN Ar-Raniry. "Justru karena polisi tahu kami mahasiswalah, mereka menahan kami sampai dua hari," kata seorang aktivis yang ikut jadi korban arogansi aparat itu. (ama) Aksi Pembakaran Kembali Kambuh di Aceh Selatan Tapaktuan, (Analisa) Setelah beberapa pekan mereda, aksi pembakaran oleh orang tak dikenal kembali kambuh di Aceh Selatan. Akibatnya situasi keamanan di daerah itu yang semula dinilai aparat keamanan sudah relatif menggembirakan, berubah tidak kondusif. Kejadian demi kejadian pembakaran terjadi di Kecamatan Samadua dalam beberapa malam terakhir, padahal wilayah ini sebelumnya dinilai paling rendah intensitas pembakaran dibandingkan dengan wilayah lain di Kabupaten Aceh Selatan ini. Pada Jumat (10/3) dinihari sekitar pukul 00.30 WIB, sejumlah orang tidak dikenal membakar gedung SMU Negeri 1 Samadua hingga si jago merah menghanguskan sedikitnya enam ruang belajar, satu ruang pusat kegiatan OSIS dan ruang perpustakaan sekolah. Dua malam sebelumnya, orang tidak dikenal juga membakar sejumlah rumah penduduk, di antaranya rumah Kepala Desa Panton Luas, Nurdin. Rp.400 JUTA Pelaksana Tugas Kepala Depdiknas Aceh Selatan, Drs Sulaiman ketika dihubungi Analisa kemarin mengatakan, menurut laporan Kepala SMU Negeri I Samadua, Dra Ennimar, akibat aksi pembakaran itu pihak sekolah bersangkutan mengalami kerugian sedikitnya Rp 400 juta. Adapun yang terbakar terdiri dari enam ruang belajar beserta prangkat keras yang ada di dalamnya seperti bangku, meja dan papan tulis, satu ruang perpustakaan lengkat dengan aneka ragam buku sekolah dan ruang kegiatan OSIS. "Kegiatan belajar akan dimusyawarahkan sekolah pada saat libur, di mana kebetulan Insya Allah hari ini (Sabtu 11/3, red) akan dibagikan rapor murid untuk seterusnya beberapa hari libur sekolah", kata Sulaiman. Sementara Ketua BP3 SMU Negeri 1 Samadua, Mawardi Idham ketika ditanyai Analisa di lokasi kejadian menyatakan penyesalannya atas aksi pembakaran sekolah ini. "Bangunan sekolah tersebut tidak musti dibakar, karena dana pembangunannya semua berasal dari orang tua murid dan masyarakat Samadua", tegasnya. Hal senada juga dikemukakan warga masyarakat setempat seraya menambahkan, hendaknya aksi-aksi pengrusakan/pembakaran terhadap harta benda milik pemerintah maupun tidak jangan sampai berlanjut. Karena akibatnya langsung dirasakan seluruh lapisan masyarakat, kata salah seorang tokoh masyarakat setempat. Wakapolres Aceh Selaqtan, Mayor Pol Supriadi Djalal begitu menerima laporan terjadinya kembali aksi pembakaran, kemarin pagi langsung meninjau lokasi dan berjanji akan menangani kasus ini hingga tuntas. (tim) Seorang Jaksa di Aceh Besar Hilang, Diduga Diculik Banda Aceh, (Analisa) Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Aceh, Sukarno Yusuf SH melaporkan, seorang jaksa pada Kejaksaan Negeri (Kejari) kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar, 52 km sebelah timur Banda Aceh, yang hilang beberapa bulan lalu, hingga saat ini belum ditemukan. Kepada pers di Banda Aceh, Jumat, Sukarno Yusuf menyatakan, jaksa yang hilang tersebut bernama Muchlis SH, asal Palembang, Sumatera Selatan, menjabat Kepala Seksi (Kasi) Intelijen di Kejari Jantho. Ia diduga diculik oleh anggota kelompok Gerakan Bersenjata Pengacau Keamanan (GBPK) Aceh. "Keluarga korban di Pelembang, sudah berkali-kali menelepon kami menanyakan tentang nasib Muchlis, namun kami belum menemukan titik terang," kata Sukarno Yusuf. Ia tidak dapat menduga di mana korban Muchlis hilang, apakah di kota Jantho atau di daerah lain di luar daerah itu, namun selama beberapa bulan terakhir di Propinsi Aceh sering ditemukan mayat tidak dikenal dengan kondisi mengenaskan. Pihak Polda Istimewa Aceh membenarkan di beberapa daerah di Aceh akhir-akhir ini sering terjadi penculikan penduduk sipil dan setelah ditemukan kebanyakan sudah menjadi mayat. Aksi penculikan menonjol terjadi di wilayah Aceh Utara, Kabupaten Pidie dan Aceh Selatan, sedangkan di Aceh Besar, Aceh Timur dan Aceh Barat, dominan penyerangan terhadap aparat keamanan (TNI/Polri). Selama beberapa bulan terakhir, berita orang hilang, termasuk penculikan dan penemuan mayat tidak dikenal, hampir setiap hari menghiasi halaman media cetak terbitan Banda Aceh dan Sumatera Utara. (Ant) ------ Sumber: Tempo & Analisa 12/3/00 ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 13 Mar 2000 jam 16:26:39 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
