----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

TNI MARAH, GUS DUR TAK SETUJU OPERASI MILITER DI ACEH
SASARAN OPERASI MILITER TAK JELAS KARENA KEKALUTAN POLITIK

BANDA ACEH, Radio Nikoya-FM, (Selasa, 14/3/2000).
"Dalam wawancara mantan Kapuspen TNI, Mayjen Sudrajat tanggal 1 Januari di
Washington Post, tentang hubungan TNI dan Presiden Gus Dur, kasus yang
membuat TNI paling marah terhadap Gus Dur adalah kasus Aceh, jadi TNI itu
marah bukan soal pencopotan Jenderal Wiranto, tetapi soal Gus Dur tidak
setuju pada pelaksanaan Operasi Militer di Aceh, dalam wawancara itu, Mayjen
Sudrajat mengatakan, kalau pertengahan bulan Ramadhan, Gus Dur belum
menyetujui operasi militer di Aceh dan concern Gus Dur terhadap Hak Asasi
Manusia masih kuat serta menghambat kami, maka kami akan memulai sebuah
gerakan, demikian
kalimat Sudrajat saat itu. Ketika wartawan Washington Post menanyakan, apa
yang akan Anda lakukan, ia mengatakan, kami tidak punya modal untuk
melakukan kudeta secara formal untuk mengambil alih kekuasaan, akan tetapi
kami akan datang ke parlemen dan kepada rakyat, untuk meyakinkan bahwa Gus
Dur tidak kredibel. Sejak situlah, mulai orang-orang di berbagai negara
menganggap bahwa di Indonesia akan ada kudeta, sebenarnya kudeta dari watak
itu, jadi
bukan dari operasi intelinjen tentara menyelidik-menyelidik, melainkan dari
wawancara di Washington Post itu diketahui bahwa tentara berbeda pandangan
dengan Presiden Gus Dur dalam konteksi itu", demikian yang dituturkan
Munir.SH, Koordinator Kontras Jakarta kepada Radio Nikoya-FM, Selasa
(14/3/2000) di Banda Aceh.

Munir menambahkan, "dalam konteks ini saya melihat bahwa, Indonesia hari ini
ibarat sebuah kereta yang supirnya terlalu banyak dengan stir yang besar dan
stir-stir yang kecil, sehingga belok kesana kemari, itulah Indonesia hari
ini, sehingga salah satu korbannya adalah Aceh, saya menyakini benar hal
itu. Seminggu lalu saya sempat berdialog dengan orang disekitar pengambil
keputusan penting dalam urusan Aceh. Saya menanyakan kenapa tidak dilakukan
dialog dengan masyarakat Aceh, karena kasus Aceh tidak bisa diselesaikan
dengan kekerasan tetapi harus dengan berunding, tetapi satu hal yang tidak
bisa jawab dari pertanyaan orang di Kabinet itu, tentang dari pintu mana
mereka bisa masuk untuk berunding tentang Aceh, sehingga jika diajak
berunding, kasus Aceh bisa cepat selesai. Apa mau merdeka, mau referendum
atau mau apa, tetapi siapa yang bisa berunding dengan kami katanya, itu
tidak ada, di Aceh itu terlalu banyak pintu, itulah Aceh hari ini, itulah
problem yang dihadapi di Aceh, kalau pintu-pintu ini telalu banyak, maka
yang akan terjadi adalah perang antar pintu, tidak ada yang bisa di ajak
berunding, kecuali berunding dar der dor", kata Munir.

Menurut pandangan Munir, "kalau pintunya tidak jelas, perundingan tidak
jelas, operasi militer terus menerus berlangsung dan kekerasan terus
berlangsung, maka yang akan terjadi adalah 'kekalutan politik', bentuk
kekalutan politik itu, seperti hari ini yang ngawur itu terjadi di Aceh,
dimana 'disamakan saja' antara gerakan Hak Asasi Manusia dengan Gerakan Aceh
Merdeka (GAM), antara pekerja-pekerja kemanusiaan dengan GAM, antara
mahasiswa Aceh dengan GAM, dicampur aduk dan dihatam semua, itulah yang
dimaksud dengan kekalutan politik, bukti kekalutan politik itu adalah
sasaran yang tidak jelas dari sebuah operasi militer. Jadi kalau sekarang
aparat melakukan sebuah operasi untuk GAM, mereka harus membuktikan bahwa
operasi itu efektif hanya dengan GAM, tetapi kalau masih menghantam kesana
kemari
itu namanya kekalutan, artinya, disaign siapa yang harus dihadapi itu nggak
jelas. Satu proses penyelesaian kasus Aceh yang saat ini penting dan
pragmatis, yaitu menghentikan kekalutan politik aparat keamanan untuk tidak
menghantam semua atau menganggap sama, karena hal itulah membuat masyarakat
Aceh tidak punya pilihan dan semua orang harus bergabung dalam bentuk yang
sama, ketika masyarakat Aceh mau damai juga digebuk, mau keras juga digebuk,
sama saja,
sehingga masyarakat Aceh tidak diberikan banyak pilihan untuk berkomunikasi
secara politik, itu malah tidak sehat", kata Munir.

Koodinator Kontras ini tetap melihat dalam penyelesaian Aceh,
persoalan-persoalan Hak Asasi Manusia ini bisa dipecahkan dan itu menjadi
bagian dari kepercayaan proses dialog dan penyelesaian lainnya, kalau
dipecahkan secara serius dan mendasar, tanpa dilakukan secara serius dan
mendasar dari problem hak asasi di Aceh, maka tidak akan terselesaikan
problem Aceh secara keseluruhan, termasuk penyelesaian problem politiknya.

Pemecahan secara serius dan mendasar itu ada tiga hal yang harus di
syaratkan, pertama, adanya kesadaran bahwa pembongkaran kasus-kasus hak
asasi manusia harus sampai ditingkat 'sesion maker', kesalahan disesion
maker itu harus diakui melalui proses hukum, hal itu penting, tanpa koreksi
terhadap hal itu sulit menyelesaikan persoalan Aceh.

Yang kedua menurut Munir, kalau proses pengusutan ini memiliki kesadaran
yang jelas terhadap kerugian yang diterima oleh masyarakat Aceh akibat dari
operasi besar itu, jadi pengusutan proses pelanggaran hak asasi tanpa
menghitung kerugian yang diterima oleh masyarakat, akibat-akibat sosial
politik dan budaya masyarakat, itu tak akan ada gunanya dan harus di ungkap.

Ketiga, adanya proses rehabilitasi terhadap elemen masyarakat,
rehabilitasinya sendiri ada dua, yang pertama rehabilitasi bersifat phisik,
artinya tidak ada lagi penghidupan trauma politik atau trauma kekerasan di
Aceh, jadi kalau hal ini diusut tetapi masih ada trauma kekerasan dengan
dilaksanakannya operasi lain, malah tak akan ada gunanya.  Kemudian
rehabilitasi dalam bentuk tindakan, seperti ketidak adilan ekonomi
dipecahkan, satunan ekonomi kepada korban juga harus
menjadi paket penyelesaian. Barulah problem politik Aceh ada titik terang
untuk membangun kepercayaan kembali, karena soal Aceh dan Jakarta adalah
soal kepercayaan yang sudah patah. (Tim).

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 14 Mar 2000 jam 15:44:45 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke