----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

<><><><><><><><><><><>
Perjalanan Ke Barat
Satu Fenomena Pro-vokator
<><><><><><><><><><><>

Hallo semua para sahabat dan para musuhku,
Maafkan jika aku mengganggu ketenangan kalian berdebat disini, aku tidak
pandai berdebat, aku hanyalah seorang Tirani yang ingin berbagi cerita
ditengah-tengah orang-orang terhormat dan ahli agama.

Ini bukan cerita mengenai "Sun Go Kong" si Kera Sakti yang ada di televisi
hanya karena aku mempergunakan judul "Perjalanan Ke Barat" atau yang bahasa
kerennya "Going to The West", namun  ini adalah asli cerita pribadiku
sendiri yang ada dimilis ini.

Aku dilahirkan ditanah Indonesia yang sangat subur, penuh dengan hasil bumi
yang melimpah ruah yang karena timpangnya kebijakan pemerintah akhirnya
seluruh pendapatan daerah mesti diberikan lebih dari separuh kepusat
pemerintahan, kota Jakarta yang agung.

Sejak kecil aku dididik dalam lingkungan orang-orang yang agamawis,
orang-orang yang berkecimpung dalam adat-istiadat dan orang-orang yang
berkecimpung ditengah kemilaunya takhayul dan mistikisme. Namaku cukup
priyayi, Ahmad Basiruddin Husien, dari kecil aku dibesarkan disalah satu
kota berpenduduk Islam terbesar di Indonesia.

Terus terang aku jenuh dengan lingkungan disekelilingku yang menurutku
penuh dengan kemunafikan, aku bosan memandangi orang-orang setiap harinya
dalam 5 kali waktu bersiram air dan berdiri, rukuk dan sujud untuk kemudian
menjerit-jeritkan suaranya berdoa dimikropon masjid hingga terdengar dari
Aceh sampai ketanah Toraja seolah Tuhan dalam pandangan matanya adalah satu
sosok yang tuli.

Aku muak, betapa mereka seolah mengagungkan Islam dalam perbuatan akan
tetapi pada kenyataannya mereka lebih banyak menjungkir balikkan agama
tersebut sampai-sampai adat dan tradisi melebihi pimpinan al-Qur'an dan
al-Hadist.

Untuk mengubur rasa jengkelku, aku lebih banyak menghabiskan waktu didepan
MTV, menyaksikan lagu-lagu maupun film-film produksi Barat yang sangat
seronok dalam pandanganku waktu itu. Tetapi lama kelamaan aku akhirnya
justru menyukai mereka.

Inilah kebebasan, pikirku.
Yah, aku selama ini dibelenggu dengan segala macam doktrin keagamaan dan
pantangan-pantangan, aku selalu dibuat pusing dengan hafalan-hafalan Qur'an
dalam setiap sembahyangku. Aku merasa tidak memiliki kebebasan jika
berhadapan dengan kitab suci umat Islam tersebut.

Akhirnya kuberanikan diri untuk pergi merantau.
Kota pertama tujuanku adalah Jakarta, kota suci pertama orang-orang Indonesia.
Tempat dimana setiap tahunnya manusia selalu bertambah untuk melakukan
umroh maupun tawaf ditengah keramaian manusia demi mencari sesuap nasi.
Kota yang selalu menjadi harapan dan gantungan orang-orang pedesaan.

Selama di Jakarta aku banyak mendapat pelajaran, setidaknya aku pernah
belajar untuk mencopet, merampok maupun menodong manusia, dari mulai
pejalan kaki hingga kepada taksi. Pada musim kampanye yang lalu, aku
kembali belajar untuk menjadi seorang juru bicara, menjual janji-janji
bohong dan mulut besar kepada rakyat, yach, aku belajar menjadi seorang
pendusta.

Satu pelajaran yang kudapat dan terus kuamalkan sampai saat ini adalah
"Bagaimana menjadi seorang provokator yang baik".

Ditengah maraknya teriakan mahasiswa untuk menjatuhkan Soeharto, aku pun
marak mempraktekkan ilmu ku ditengah-tengah mereka dan juga ditengah-tengah
pemerintah. Kadangkala kuhujat Soeharto dan keroco-keroconya, namun disisi
lain ku cemooh pula para mahasiswa.

Pada saat kerusuhan berbau SARA merebak, aku terpanggil untuk membela
agamaku yang meskipun sudah lama kutelantarkan namun seruan para kiyai
sewaktu dikampung masih menggema dibenakku, "Kita harus melakukan Jihad,
musnahkan kaum kafir."

Ditengah-tengah semangat juangku membela Islam, tiba-tiba aku terpikat
dengan seorang gadis manis yang justru berasal dari pihak musuhku, yach,
wanita tersebut tidak seagama dengan ku. Kami berlainan keyakinan.

Kecantikannya telah mampu membuat diriku tergila-gila padanya, perlahan
namun pasti, semangat ke-Islamanku mulai pudar, apalagi setelah dia
memasukkan berbagai cerita dan fitnahan yang menimbulkan keraguanku atas
kebenaran keyakinanku selama ini.

Aku benar-benar telah terbius, otakku dicuci oleh wanita muda ini.
Tapi "Persetan", itulah jawabku.
Aku ini hidup diatas dunia yang nyata, aku ada dan aku tidak mau melewatkan
kesenangan yang bisa kudapatkan dalam kesempatan hidupku ini, urusan
akhirat ... entahlah, aku sudah tidak lagi tertarik dan tidak pernah lagi
memikirkannya.

Agama bagiku saat ini tidak lebih daripada candu, opium bagi orang-orang
yang goblok.
Yach, aku sudah menjadi sosok manusia bertempramen kasar dan tidak mau
perduli lagi.

Akhirnya aku menikahi gadis bekas musuhku itu dan melakukan hijrah kekota
kebebasan, kota-nya hak asasi manusia, kota dimana tidak ada keterikatan
apapun untuk manusia. Tempat dimana orang bebas melakukan sex sejauh yang
disukai olehnya, orang juga bebas menelan dan memperdagangkan obat-obatan
dan juga orang bebas melakukan kritikan kepada kaum agamawan tanpa harus
khawatir apalagi takut diancam hukuman oleh pemerintah yang berkuasa.

Aku tiba di Amerika Serikat.
Saat pertama keluar dari pesawat, kuhirup dalam-dalam udara New York
sehingga paru-paruku menjadi sesak, dan kuhempaskan napasku dibarengi
dengan rasa kebahagiaan yang mendalam, betapa tidak ... sekarang aku
menjadi orang bebas.

Dikota inilah akhirnya aku mendalami agama istriku dan mencoba melakukan
perbandingan dengan keyakinan lamaku, hasilnya sungguh-sungguh mengagetkan,
aku meragukan semua agama !

Aku tidak bisa menerima Jesus sebagai Tuhan yang penuh kefatalan dan kitab
suci penuh kesemrawutan, tetapi aku juga tidak begitu percaya lagi kepada
ajaran Muhammad yang berdasarkan cerita-cerita orientalis dipenuhi dengan
sejarah menyeramkan dan ketidak beradaban.

Akhirnya kuhujat semua agama.
Kuhujat Jesus, kuhujat Musa dan kuhujat Muhammad.
Istriku marah besar, dia adalah seorang Kristen yang taat. Setiap minggunya
dia minta diantarkan pergi kegereja untuk melakukan bakti kepada Tuhan
Jesusnya. Dia memintaku untuk berhenti melakukan hinaan terhadap
keyakinannya atau dia akan meninggalkanku.

Aku terlalu mencintainya.
Dialah segala-galanya dalam hidupku.
Akhirnya kucoba untuk tidak bersikap ketus kepada orang-orang Kristen dan
keyakinannya meski aku juga merasa tidak menyukai doktrin agama ini.

Perang urat syaraf antar agama tiba, Islam mulai menjadi besar dinegri
McDonald ini, diskusi-diskusi keagamaan pun digelar, Kristen mulai
terpojokkan. Para Pastur dan Misionaris tidak pernah mampu menangkis
serangan-serangan orang-orang Islam mengenai Kristen.

Istriku menangis, gereja tempat dia biasa menyembah Jesus saat ini sudah
mulai kosong oleh para jemaat yang hijrah satu demi satu keagama Islam, dan
konon kabarnya gereja tersebut sudah mulai ditawar oleh orang-orang Islam
untuk dibeli dan dijadikan Masjid.

Aku yang buta oleh rasa cinta dan sayangku kepada istri akhirnya mencari
akal untuk membantunya dan meredam kemajuan Islam yang ternyata tidak hanya
pesat di Amerika namun juga semakin menjadi mercu suar diseantero dunia,
apalagi ditanah Indonesia ku dulu.

Seorang Pastur memberikan ide agar aku bergabung di Internet dengan
memanfaatkan jasa layanan Provider terbesar di Amerika untuk meloloskan
maksudku tersebut. Dan demi memuluskan misi ini, sejumlah buku-buku
orientalis diberikan kepadaku dan dimasukkan kedalam pemikiranku untuk
menyerang balik kepada Islam.

Lama kelamaan namaku menjadi besar di Internet.
Kutanggalkan nama Ahmad didepan namaku karena aku sudah kudu benci kepada
Muhammad, namun untuk mengelabui umat Islam aku tetap mempertahankan nama
belakangku, Basiruddin Husien.

Terus terang aku kesulitan menuliskan namaku yang panjang ini dalam setiap
signature emailku, sehingga kusingkat saja menjadi BH.

Belum lama kupakai singkatan ini, aku ditertawakan orang yang
mengkonotasikannya dengan pakaian dalam wanita. Akhirnya karena malu, aku
balik namaku dan memberikan perubahan sedikit kepadanya, sehingga menjadi
"Husin Basir" dibaca HB.

Saat ini aku sudah dikenal luas oleh semua orang.
Pada puncak karir misiku, ku dirikan milis perdiskusian khusus sedangkan
aku sendiri juga masih aktive melakukan kecaman-kecaman terhadap Islam
disejumlah milis lainnya. Sedapat mungkin kuhindari kalimat-kalimat yang
bisa mengarah pada hinaan atas agama istriku.

Kutantang semua pemikir Islam dengan artikel-artikel hujatan, akan tetapi
setiap kali mereka memberikan tanggapan aku-pun berlagak pilon, reaksi
mereka hanya kuanggap gonggongan anjing yang marah karena terinjak buntutnya.

Istriku senang melihat kemajuan ini dan akupun semakin bersemangat.

Pernah beberapa kali aku dikeluarkan dari beberapa perdiskusian, tapi
dengan kehebatan diplomatisasi yang kumiliki, aku berhasil mempengaruhi
pemikiran sejumlah orang-orang Islam agar mau menerima kembali kehadiranku
ditengah-tengah mereka.

Kukorek-korek ayat-ayat Qur'an mengenai kebebasan menyalurkan pendapat dan
kubuang jauh-jauh ayat-ayat yang berisikan kecaman orang-orang munafik dan
fasiq yang keberadaannya ditengah kaum Muslim dapat merusak agama dengan
sejumlah pemikiran barat.

Aku berhasil bertahan disejumlah milis.
Dan melihat keberhasilanku itu, sejumlah pengikut Jesus pun mulai berani
untuk ikut tampil dalam setiap perdebatan.

Aku dengan gemilang mencapai kesenangan istriku, sampai hari tersebut tiba.
Seorang bocah tengik yang bernama Anton masuk kesalah satu milis dan
memberikan respon yang menyinggung perasaanku dan memberikan serangan telak
pada argumen-argumen kemunafikanku.

Duduk terdiam aku, terhempas dalam gelombang emosi, aku terhina, bahkan
saking sakitnya hatiku, kencingpun aku tidak konsentrasi.

Ketika sarapan pagi tiba, ku racik pikiran sedemikian rupa untuk membalas
komentar bocah tua nakal itu, kususun paragraph demi paragraph dalam otakku
yang jenius ini kalimat demi kalimat namun sayangnya semua itu buyar sebab
memang aku tidak mampu mencari kesalahan yang mampu mempermalukan bocah tua
nakal ini.

Aku takut, kalau jawabanku justru akan semakin menelanjangi ketololanku
sendiri.
Akhirnya aku duduk diam saja membaca posting-postingnya yang dengan
gagahnya berlalu lalang menggantikan posisiku.

Karena ulah bocah itu, aku terpaksa menjaga jarak dan mulai bertapa
kembali, membungkar-bungkar buku-buku tua yang mungkin bisa kujadikan
senjata baru untuk kugabungkan kembali dengan keahlian provokasiku.

Hanya ini dulu yang bisa kuberikan dan kuceritakan pada tuan-tuan yang
terhormat sekalian, berhati-hatilah tuan-tuan. aku akan datang
sewaktu-waktu untuk memberikan sentuhan brutal kepada anda, hanya saja
kuharap, emakku dikampung tetap dalam keteguhan sikapnya yang taat kepada
Tuhannya orang-orang Islam, untukmu emak, aku tahu aku sudah terlalu jauh
melangkah dan sudah salah dalam bertindak, tapi mak, demi cinta ku kepada
harta dan wanita, aku rela menendang dikau mak.

Selamat tinggal semuanya.
Washington DC, millenium 2000.

Ttd.

- HB -

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 14 Mar 2000 jam 15:45:02 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke