----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

WUJUDKAN KEDAMAIAN DAN PENGOKOHAN PERJUANGAN
RAKYAT ACEH MELALUI MOMENTUM IDUL ADHA

PENDAHULUAN
Pembiaran-pembiaran negara terhadap penyelesaian
konflik politik vertical antara Aceh dan Pemerintah
Jakarta telah menyebabkan terjadinya berbagai krisis
yang berkepanjangan. Hingga saat ini pihak Jakarta
belum menunjukkan niat baik dan kehendak nyatanya
untuk menyelesaikan permasalahan Aceh secara
menyeluruh, kecuali sebatas janji-janji dan sejumlah
penindasan baru yang tidak manusiawi. Sedangkan rakyat
Aceh sendiri masih tetap komitment untuk penyelesaian
krisis politik dan krisis kemanusiaan melalui solusi
damai yang telah ditnjukkan secara kolektif pada
Sidang Umum Masyarakat Pejuang Referendum (SU MPR)
Aceh 8 November lalu. Meskipun suatu realitas
menyedihkan seperti penghancuran nilai-nilai
kemanusiaan, peradaban dan demokrasi diorganisir
secara rapi oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan
penyelesaian komprehensif lewat instrument referendum.
Tidak jelas, kapan pengacauan, penindasan dan
penjajahan itu akan berakhir.

Mungkin banyak diantara kita orang Aceh, apakah
aktivis pejuang kemanusiaan, pejuang demokrasi dan
referendum, intelektual kampus, ulama, santri,
pengamat, kalangan LSM, politikus, wakil rakyat,
pemerintah setempat dan masih cukup banyak yang
lainnya, yang harus memahami tentang Aceh, rakyat dan
nasibnya; tentang aspirasi riil dan keinginan rakyat
yang sebenarnya; tentang  keamanan dan kedamaian,
serta segala yang menyangkut dengan permasalahan
Aceh-khususnya sejak Aceh dijadikan bahagian dari RI
(sah atau tidak). Bahkan kita juga bisa melakukan
sejumlah introspeksi dan kontemplasi dan eavalusi
dengan apa yang telah, sedang dan akan terjadi; lalu
apa pula yang telah, sedang dan akan kita
lakukan.untuk Aceh dan rakyatnya itu.

Juga tidak kalah pentingnya siapa sebenarnya selama
ini yang telah menjadi gerakan pengacau keamanan,
provokataor, orang tidak dikenal dan istilah-istilah
yang buktinya tidak bisa kita lihat dengan mata.
Kenapa pula perjuangan rakyat sipil yang damai, tanpa
senjata, demokratis dan berperadaban menjadi sasaran
pembungkaman oleh otoritas dan kekuasaan negara.
Apakah rakyat Aceh sebagai manusia yang berhak
diperlakukan sebagai manusia, umat yang berhak
dihargai sebagai kaum beragama, dan etnis minoritas
yang perlu diselamatkan oleh yang lainnya, tidak
berhak berjuang untuk nasib diri dan negeri yang
dicintainya.

Sedangkan hal lain yang perlu kita cerdasi bersama
apakah kebebasan dan kemerdekaan hanya menjadi milik
kaum pemerintah dan pihak-pihak tertentu, sedangkan
rakyat yang memiliki wilayah, harta dan keluarga
mereka sendiri selalu menjadi sasaran penindasan dan
penjajahan.  Sehingga sesuatu yang jarang didengar dan
menjadi aspirasi rakyat dianggap sebagai hantu yang
menakutkan, serigala buas dan harimau ganas yang perlu
diburu serta dihabisi sampai ke sarang-sarangnya.

Lalu apakah kita semua harus diam, pasrah dan menyerah
dengan realitas-realitas yang telah, sedang dan akan
mematikan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, peradaban
dan demokrasi yang sering dikampanyekan oleh banyak
pihak. Insya Allah kita semua akan menjawab tidak,
sebab apapun yang terjadi kedukaan dan kegembiraan
harus dirasakan dan diselesaikan secara bersama. Sebab
apapun yang coba kita bicarakan tentang Aceh dan
nasibnya, semua terserah kepada rakyat Aceh sendiri
sebagai pemilik bumi Aceh, sedangkan perlindungan,
bantuan dan petunjuk kita mohon kepada Khaliq yang
menciptakan seluruh bumi, langit dan lengkap dengan
isi-isinya.

Berpijak dari hal itu, Sentral Informasi Referendum
Aceh (SIRA) dalam momentum hari Raya Idil Adha sangat
menginginkan semua komponen rakyat Aceh, termasuk para
pejuang rakyat Aceh baik di Aceh maupun luar Aceh agar
memanfaatkan bulan Zulhijjah ini untuk menegakkan
kedamaian, mengokohkan perjuangan damai dan menguatkan
semangat pembelaan rakyat. Mari kita meyakini bahwa
Allah SWT akan memberikan perlindungan, bantuan dan
petunjuk Nya kepada semua yang mau membela dan
mengupayakan pelepasan rakyat dari penindasan,
ketidakmerdekaan, penghinaan, penghancuran dan
penjajahan.
Kita semua mendoakan agar semua pengacau kedamaian,
provokator, penghancur dan pembasmi rakyat dikeluarkan
dari bumi Aceh dan dihukum dengan hukuman Khaliq yang
maha kuasa dan maha perkasa. Sehingga kedamaian, upaya
penyelesaian dan kehendak mulia rakyat dalam
perjuanganya akan terwujud dengan adil, damai,
demokratis dan berperdaban. Karenanya Sentral
Informasi Referendum Aceh (SIRA) menyampaikan,
sekaligus mengajak dan menyerukan kepada semua rakyat
Aceh dimanapun berada untuk melakukan
aktivitas-aktivitas damai relegius mulai Hari Arafah
(9 Zulhijjah) Hari Raya Idil Adha sampai hari Tasyrik
yang terkhir.

Aktivitas-aktivitas dalam beberapa hari tersebut Insya
Allah menjadi permulaan yang baik untuk kemudian semua
kita harus melanjutkannya dengan aktivitas-aktivitas
relegius damai lainnya yang bisa membantu dan
memberdayakan kedamaian, penyelesaian menyeluruh,
perwujudan aspirasi rakyat serta pengembalian
nilai-nilai demokrasi, kemanusiaan, keadilan dan
peradaban. Sekali lagi pada momentum mulian ini kita
semua akan bisa melihat siapa yang telah, sedang dan
akan mengacaukan kedamaian Aceh, menggagalkan aspirasi
dan perjuangan rakyat, melakukan
penghalangan-pengahalangan brutal dan provokasi.

AKTIVITAS-AKTIVITAS DAMAI RELEGIUS
Adapun aktivitas-aktivitas yang sangat bermakna untuk
kita lakukan bersama dalam momentum Idil  Adha ini
adalah :
1.  Melakukan Muhasabah (introspeksi diri) pada pada
malam 9 Arafah (sehari sebelum hari raya Idil Adha).
a.  Sasaran; Muhasabah ini diserukan, ditujukan dan
dilakukan oleh seluruh rakyat Aceh dan para aktivis
pejuang referendum baik di Aceh maupun luar Aceh.
b.  Tujuan; Muhasabah sangat penting untuk menilai diri
kita sendiri dan negeri Aceh. Apa yang telah, sedang
dan akan kita lakukan dalam penyelesaian kasus Aceh.
Serta bagaimana pula nasib Aceh masa lalu, sekarang
dan akan datang. Semua bisa kita nilai dan kita
selidiki oleh diri kita masing-masing.
c.  Tempat; Muhasabah ini dapat dilaksanakan seluruh
Aceh ataupun di luar Aceh pada malam 9 Arafah, yaitu
di tempat-tempat yang aman seperti mushalla, meunasah,
mesjid, kampus dan lain-lain secara bersama-sama.
Dalam acara ini pula kita bisa memanjatkan doa bersama
secara ikhlas dan khusyu' untuk kedamaian,
keberhasilan perjuangan dan penyelesaian permasalah
Aceh.
2.  Melakukan Puasa Sunnat Arafah pada tanggal 9
Zulhijjah.
a.  Sasaran; Puasa sunat ini bisa dilakukan oleh orang
atau masyarakat yang mampu berpuasa di manapun berada.
b.  Tujuan; Puasa Sunnat pada hari Arafah ini sangat
baik dilakukan untuk membendung segala hawa nafsu yang
merugikan rakyat serta memetik hikmah-hikmah yang
bermanfaat untuk perjuangan damai, seperti perlu
kesabaran, menahan diri, menghindari segala provokasi,
komitment dengan janji dan lainnya.
3.  Melakukan Takbir Pada Malam hari Raya sampai hari
Tasyrik yang terakhir
a.  Sasaran; Pelaksanaan takbir ini diserukan,
ditujukan dan dilakukan oleh seluruh rakyat Aceh,
termasuk aktivis pejuang referendum baik di Aceh
maupun luar Aceh.
b.  Tujuan; Takbir massal ini diadakan untuk
membesarkan Allah SWT, sebab tiada lain yang lebih
besar dan kuat selain Allah. Sehingga Takbir ini mampu
mengokohkan komitment perjuangan dan pembelaan rakyat,
memberdayakan dan membentuk mental semua elemen rakyat
dalam penciptaan perdamaian, perjuangan damai,
lingkungan yang kondusif dan deteksi segala bentuk
provokasi yang masih terjadi hingga saat ini.
c.  Tempat dan tata cara; Takbir bisa dilaksanakan di
seluruh Aceh secara bersama-sama di tempat-tempat aman
seperti mushalla, meunasah, mesjid, kampus dan
lain-lain secara bersama-sama. Sedangkan takbir
keliling boleh saja dilakukan apabila memungkinkan dan
disepakati bersama, tergantung dengan kondisi. Sebab
apabila ada yang mengancam, mengganggu dan
menghalang-halangi pelaksanaan acara-acara agama
semacam ini, itulah pengganggu atau pengacau wilayah
Aceh dan rakyatnya.
4.  Para khatib yang akan menyampaikan khutbah pada
Idil Adha di seluruh tempat di Aceh, agar dapat
memberdayakan kedamaian, perlunya kemerdekaan dan
kebebasan dalam memperjuangkan nasib sebuah bangsa,
serta apa yang diperjuangkan oleh rakyat Aceh untuk
negeri mereka bukanlah sesuatu yang haram.

Pelaksanaan acara-acara mulia itu khususnya muhasabah
dan takbir juga akan diadakan oleh Sentral Informasi
Referendum Aceh (SIRA) sendiri dan elemen-elemen
lainnya secara khusus di Banda Aceh, serta akan
memantau aktivitas-aktivitas di seluruh daerah.
Sedangkan di daerah-daerah dan luar Aceh
dikoordinasikan dengan perwakilan SIRA yang ada serta
elemen-elemen lainnya

PENUTUP
Sebagaimana diketahui bersama salah satu hikmah
pewahyuan agama adalah untuk memberikan kedamaian,
meningkatkan perjuangan, mengokohkan keikhlasan dan
komitment. Bahkan yang sangat penting lagi adalah
memberikan suatu kekuatan lahir batin dalam
menghindari diri dari segala hawa nafsu penindasan,
penajajahan, ketidakadilan, kekejaman dan
pekerjaan-pekerjaan syaithan lainnya yang selalu
nampak dalam diri banyak penguasa. Hal ini salah
satunya disebabkan penguasa rakus kepada tanah dan
wilayah, harta dan jabatan. Karena itulah, pada hari
yang sangat  mulia dan suci, yakni Idul Adha--
upaya-upaya untuk penciptaan kedamaian, pengokohan
perjuangan bersama yang mulia demi martabat dan
kedaulatan rakyat, kita mohon kepada Yang Kuasa agar
terwujud di bumi Aceh.

Banda Aceh, 11 Maret 2000

Muhammad Nazar
Ketua Dewan Presidium

Office : Jl. T. Panglima Polem No. 62 Banda Aceh 23122
Telp. 0651 24043
Fax. 0651 24043
E Mail : [EMAIL PROTECTED]
     [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 14 Mar 2000 jam 15:45:39 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke