---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- KEKEJAMAN HENRY KISSINGER, SANG PENASEHAT PRESIDEN GUS DUR Oleh : Hussein Umar (Ketua Dewan Pimpinan KISDI/Sekjen DDII) Setelah mengangkat tokoh Cina Perantauan Lee Kuan Yew sebagai penasehatnya, hari Senin (28/2/2000), Presiden Abdurrahman wahid mengangkat Henry Kissinger sebagai penasehat pemerintahannya untuk bidang umum. Dalam kunjungannya ke Indonesia, hari Senin itu, Kissinger telah menerima permintaan Presiden Gus Dur tersebut. Menurut Kissinger, ia diangkat sebagai penasehat untuk bidang hubungan internasional. Hubungan dekat antara Gus Dur dengan Israel dan tokoh-tokoh Yahudi bukan hal yang asing lagi. Selain sudah berkali-kali ke Israel, ia juga merupakan seorang pendiri Simon Peres Foundation, bersama Simon Peres, yaitu seorang tokoh Partai Buruh penerus Yitsak Rabin. Siapakah Henry Kissinger? Kissinger dikenal sebagai tokoh Yahudi Amerika yang sangat berpengaruh. Ia juga mantan Menlu AS yang sangat populer. Harian New York Times, 5 Maret 1988, menyiarkan berita tentang nasehat Kissinger kepada sekelompok tokoh Yahudi Amerika untuk memadamkan gerakan intifadhah (perlawanan) Pemuda Palestina melawan Israel Harian itu melaporkan, bahwa dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh Yahudi di bulan Februari 1988, Kissinger memberi nasehat kepada Israel, agar menumpas intifadhah secepat mungkin, secara besar-besaran, dan brutal. "Pemberontakan itu harus dipadamkan cepat-cepat, dan langkah pertama yang diambil hendaklah memberangus televisi, ala Afrika Selatan. Tentu saja, akan timbul kecaman internasional atas langkah tersebut, tapi hal itu akan segera berlalu," demikian nasehat Kissinger. Bahkan, si tokoh Yahudi ini menegaskan, "Tidak ada penghargaan atas kekalahan karena kelemahlembutan!" (Findley, 1995:123). Nasehat Kissinger itu kelihatannya sangat didengar dan kemudian diaplikasikan oleh Pemerintah Israel, yang ketika itu dikendalikan oleh Yitsak Shamir (PM) dan Yitsak Rabin (Menhan). Sebagai Menhan, Rabin mengeluarkan kebijakan "patah tangan" terhadap pemuda Palestina. Segala cara dan kekejaman digunakan Rabin untuk mematahkan perlawanan Pemuda Palestina.. Kata Ytsak Shamir: "Tugas kami sekarang adalah menciptakan kembali benteng rasa takut antara orang-orang Palestina dan militer Israel, dan sekali lagi menyebarkan rasa takut untuk kematian pada orang-orang Arab di wilayah-wilayah itu untuk mencegah mereka agar tidak menyerang kami lagi." Dokter Jennifer Leaning melaporkan dari RS Al Shifa di Gaza, bahwa pasien-pasien kekejaman Israel seperti baru ditumbuk. Yang mengenaskan adalah keretakan dan patah tulang. Patahnya tulang-tulang tersebut dilakukan secara sistematis dan terdapat pola yang sama di berbagai daerah yang dikunjunginya. Jadi hal itu merupakan intruksi dari penanggungjawab keamanan. Israel dilaporkan membunuh, melukai, memotong anggota badan, menyiksa, memenjarakan, atau mengusir puluhan ribu orang Palestina. Pada tahun 1991, Pusat informasi Hak-hak Asasi Manusia Palestina di Yerusalem dan Chicago melaporkan data-data sebagai berikut: 994 orang dibunuh, 119.300 terluka, 66 dideportasi, dan 120.000 lebih pencabutan pohon-pohon. Laporan Kementerian Luar Negeri AS juga melaporkan sekitar 930 orang Palestina dibunuh dalam waktu empat tahun pergolakan intifadhah. Kebiadaban Israel itu dilaporkan oleh Angle William, pejabat Agen Pertolongan dan Pekerjaan PBB di Jalur Gaza, sebagai berikut: "Kami sangat terkejut melihat bukti kebrutalan pemukulan rakyat. Kami terutama kaget melihat dilakukannya pemukulan-pemukulan terhadap para pria tua dan wanita. Dana Penyelamatan Anak dari Swedia juga melaporkan adanya kekerasan dan kekejaman, tak pilih-pilih, dan berulang-ulang terhadap anak-anak Palestina. Dilaporkan, bahwa159 anak-anak telah terbunuh pada tahun pertama, dengan rata-rata usia mereka 10 tahun.. Juga dilaporkan sekitar 48.000 orang yang terluka karena tembakan (40 persen diantara mereka anak-anak berusia 10 tahun atau dibawah 10 tahun). Rabin juga memerintahkan pencarian dari rumah ke rumah, untuk menangkapi dan menculik siapa saja yang dapat dijadikan contoh. Pada tanggal 27 Desember 1987 lebih dari 2500 orang Palestina ditangkap, kebanyakan mereka baru berumur 12 tahun. Di akhir januari 1988, sudah 4000 orang ditangkap oleh Israel. Tentara Israel juga diperintahkan oleh Rabin untuk menangkapi orang-orang yang sakit di rumah sakit. Wartawan New York Times John Kifner melaporkan adanya penyiksaan-penyiksaan sadis yang dilakukan tentara Israel, termasuk dengan cara meremukkan tangan-tangan pemuda Palestina, Shamir dan Rabin mengatakan, bahwa tujuan penyiksaan-penyiksaan itu adalh untuk menanamkan rasa takut pada orang-orang Palestina terhadap pasukan Israel. Gas beracun yang mematikan juga digunakan oleh Israel. Begitulah kekejaman-kekejaman yang dilakukan oleh Israel dibawah PM Shamir dan Menhan Yitsak Rabin. Akan tetapi, ironisnya, Yitsak Rabin kemudian diberi hadiah penerima Nobel Perdamaian tahun 1993. Penasehat "penumpasan intifadhah" Henry Kissinger juga telah menerima penghargaan Nobel perdamaian pada tahun 1975. Melihat kekejaman Henry Kissinger dan Yitsak Rabin , mereka berdua kelihatannya termasuk pengikut tokoh Zionis garis keras Vladimir Jabotinsky. Jabotinsky dikenal dengan teorinya, bahwa untuk menduduki Palestina, maka harus dilakukan dengan kekerasan dan tanpa kompromi (dengan "besi"). Dia pernah mengatakan, "Kita tidak bisa memberikan kompensasi bagi Palestina_ Oleh sebab itu, persetujuan sukarela adalah tidak masuk akal." Karena itulah, Jabotinsky mengimbau agar seluruh kekuatan Yahudi dikumpulkan untuk mendapatkan "besi", yang dapat digunakan untuk mengusir, menumpas, dan melakukan kolonisasi atas Palestina. Ketika ada yang mengecam strategi dan kebijakannya tersebut tidak bermoral, Jabotinsky membantah: "Bagi kecaman yang berulangkali menyatakan bahwa titik pandangan ini tidak etis, saya jawab bahwa kecaman itu secara mutlak adalah salah. Inilah etika kita, tidak ada etika lain." (Ralph Schoenman, 1998). Adakah Nurani Sekarang Kissinger diangkat oleh Presiden Gus Dur sebagai penasehatnya. Tindakan Presiden itu sudah terlalu jauh dan seenaknya sendiri. Tidak lagi memperhatikan aspek-aspek moralitas dalam mengambil keputusan dalam mengangkat Henry Kissinger, yang juga seorang komisaris Frefort Mc Moran. Oleh sebab itu, kita patut bertanya, apakah Presiden Gus Dur menggunakan hati nuraninya, ketika mengangkat Henry Kissinger sebagai penasehatnya tersebut. Selain sebagai tokoh Yahudi, Kissinger juga dikenal sangat pro-Israel. Ketika menjadi Menlu AS, pada bulan Septenber 1975, Kissinger menandatangani sebuah MOU dengan Israel yang menjanjikan bahwa AS akan "melakukan segala upaya untuk menanggapi-untuk masa sekarang dan dalam jangka panjang-permintaann peralatan militer dan kebutuhan-kebutuhan pertahanan Israel lainnya, kebutuhan-kebutuhan energi, dan kebutuhan-kebutuhan ekonominya." Dalam masalah Israel, Presiden Gus Dur sepertinya bersikap "maju tak gentar". Meskipun rencananya untuk membuka hubungan dagang dengan Israel sudah ditolak oleh masyarakat dan DPR, Gus Dur tidak berhenti dan sekarang kelihatannya, ia menggunakan strategi memutar. Hubungannya dengan Shimon Peres dan tokoh-tokoh Israel lainnya terus dilanjutkan. Bahkan, ketika berbicara di Konferensi Agama dan Perdamaian di Amman, tahun lalu Gus Dur mengecam sikap kaum Muslimin Indonesia. Yang dia katakan telah salah dalam memahami agama (Islam) sehingga menolak hubungan dengan Israel. Kedatangan Henry Kissinger yang juga komisaris PT Freeport Mc Moran juga dimaksudkan untuk "menekan" pemerintah Indonesia agar jangan mengusik-usik keberadaan Freeport. Dalam pertemuannya dengan Presiden Gus Dur dan Ketua MPR Amien Rais, Kissinger meminta agar Indonesia menghormati kontrak-kontrak karya internasional yang telah dibuat, termasuk dengan PT Freeport. Presiden telah menyetujui untuk menghormati kontrak PT Freeport tersebut. Orang masih ingat, bagaimana Amien Rais dulu dengan berani menulis sebuah kolom resonansi di Harian Republika yang berjudul "Inkonstitusional", yang menjadi titik awal perseteruan Amien Rais dengan Soeharto, dan kemudian Amien mendapat julukan sebagai "Bapak Reformasi". Di dalam kolom itu, Amien Rais menulis : "Bisakah kita mengambil pelajaran dari PT Freeport Indonesia di Irian Jaya? Perusahaan tambang Amerika ini sejak 1973 telah menambang emas, perak, dan tembaga di Irian Jaya. Sekarang ini setiap hari, secara harfiah setiap hari, 125.000 ton bijih tambang diruntuhkan dari gunung-gunung di pegunungan Jaya Wijaya. Dari jumlah biji tambang sekian itu, diperoleh konsentrat sekitar 6000 ton. Setiap ton konsentrat mengandung 300 kg tembaga, 60 gram perak, dan 30 gram emas. Walhasil selama seper-empat abad, kekayaan bangsa yang sudah digotong ke luar negeri kurang lebih 1620 ton emas, 3420 ton perak, dan 162 juta ton tembaga. Sekian ton emas itu, kalau dirupiahkan dengan harga sekarang bernilai lebih dari 400 triliun rupiah. Tahun 1991 Freeport sudah mengantongi izin penambangan lagi untuk masa 30 tahun ditambah dua kali sepuluh tahun (dus, setengah abad) dengan wilayah eksploitasi yang lebih luas lagi. Mau dibawa ke manakah Indonesia yang kita cintai bersama?" Barangkali ungkapan Amien Rais tersebut masih relevan untuk kita renungkan, setelah "tekanan" Kissinger dipenuhi dan bahkan si tokoh Yahudi tersebut diangkat oleh Presiden Gus Dur sebagai penasehatnya. Dan kita juga bertanya, seperti Amien Rais dulu bertanya: "MAU DIBAWA KEMANAKAH INDONESIA YANG KITA CINTAI BERSAMA?" oleh Gus Dur dan juga oleh Amien Rais ?. Jakarta, 29 Februari 2000 Hussein Umar ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 15 Mar 2000 jam 15:09:17 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
