----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Jumat, 17 Maret 2000

Panglima AGAM Bertemu Bondan Gunawan
Tonggak Sejarah Baru dalam Konflik Aceh

Kompas/nadjmuddin oemar

 Medan, Kompas
Pjs Sekretaris Negara Bondan Gunawan melakukan kunjungan silahturahmi kepada Panglima 
Perang Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM)
Teungku Abdullah Syafi'ie, di pinggiran sebuah desa di Kecamatan Glumpang Tiga, 
Kabupaten Pidie, Kamis (16/3) pagi. Meskipun
pertemuan ini sifatnya informal, namun bisa merupakan tonggak sejarah baru dalam 
konflik di Aceh yang berlangsung sejak 24 tahun
silam. Abdullah Syafi'ie, yang mengenakan seragam loreng dan dikawal oleh puluhan 
anggota pasukan bersenjata, tampak haru saat
bertemu dengan Bondan Gunawan. Keduanya saling berpelukan dan menanyakan kabar 
masing-masing. Ketika akan berpisah, Abdullah
Syafi'ie didampingi Komandan Operasi AGAM Abu Razak, masih sempat membicarakan sesuatu 
di dalam kendaraan yang ditumpangi Bondan
Gunawan.
Pertemuan itu berlangsung sekitar 30 menit di sebuah dangau dan disaksikan oleh tokoh 
LSM, ulama, dan masyarakat sekitar yang datang
berbondong-bondong. Dalam kesempatan itu Bondan Gunawan menyampaikan salam dari 
Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Selain itu,
keluarga Gus Dur juga menyumbang dua ekor sapi kurban bagi warga desa tersebut.
Pertemuan yang baru direncanakan dua hari sebelumnya, nyaris batal akibat situasi 
keamanan yang masih mencekam. Bahkan, pertemuan
itu mundur satu hari dari jadwal yang telah disepakati, yakni Rabu petang.
Tanpa pengawal
Bondan Gunawan hadir di tengah kerumunan massa dan pasukan gerilya AGAM tanpa 
pengawalan aparat keamanan. Ia malah naik kendaraan
Kijang carteran dari Bandara Blang Bintang, Banda Aceh menuju lokasi pertemuan, yang 
berjarak 140 km atau ditempuh 2,5 jam. Bondan
Gunawan menolak dikawal aparat keamanan ke daerah yang sangat rawan itu. "Toh mereka 
itu juga saudara kita. Mengapa kita harus takut
dan berbeda dengan mereka," ujarnya.
Situasi di Kabupaten Pidie, basis terkuat GAM, tampak tidak seperti biasanya. 
Penempatan pasukan TNI maupun Polri di beberapa tempat
strategis diikuti oleh mobilisasi unit-unit gerilya AGAM.
Situasi lengang tampak menyelimuti wilayah ini. Jarang kendaraan melintas, sementara 
aparat keamanan tampak siaga di pos
masing-masing. Masyarakat Pidie sempat khawatir akan pecahnya perang besar di daerah 
itu.
Pada hari pertemuan yang dijadwalkan, Farida (21), mahasiswi Universitas Malikulsaleh, 
Lhokseumawe, tewas terkena peluru saat
berbelanja pada pagi hari di Pasar Meureudeu.
Peristiwa yang terjadi 20 km dari tempat pertemuan itu, sempat menimbulkan berbagai 
spekulasi. Baik TNI/ Polri maupun GAM membantah
sebagai pelakunya. Hingga sekarang motif peristiwa penembakan itu belum jelas.
Memberi harapan
Berbagai pihak yang hadir dalam pertemuan itu mengatakan, peristiwa ini membuka 
harapan baru bagi penyelesaian konflik berdarah di
Aceh yang sudah berlangsung begitu lama. Namun demikian, hal tersebut harus diikuti 
dengan langkah-langkah konkret berikutnya dengan
menghentikan segala tindak kekerasan.
Drs Otto Syamsuddin Msi dari LSM Cordova memuji pertemuan ini sebagai langkah maju. 
Oleh karena, demikian tambahnya, pendekatan yang
dilakukan adalah kemanusiaan. Masing-masing pihak mengutamakan kepentingan rakyat 
sebagai kerangka acuan.
Menurut aktivis ini, konflik di Aceh tidak akan bisa diselesaikan jika masing-masing 
pihak yang bertikai melihat semua persoalan
dari kaca mata masing-masing. Dalam keadaan seperti ini, rakyat akan menjadi korban. 
Dan, inilah yang terjadi terus di Aceh.
Pendapat senada juga dikemukakan Kepala Perwakilan Komnas HAM Aceh Iqbal Faraby. Ia 
berpendapat, kedua belah pihak harus mengekang
diri dan mengutamakan kepentingan rakyat.
Dalam jumpa pers di Hotel Tiara, Medan, malam harinya, Bondan Gunawan mengakui, tidak 
mudah meyakinkan Panglima AGAM Teungku
Abdullah Syafi'ie bahwa sikap pemerintahan sekarang ini tidak sama dengan pemerintahan 
Orde Baru. Karena, pengalaman pahit selama 32
tahun di bawah pemerintahan Orde Baru tidak dengan mudah terhapus begitu saja dalam 
waktu seketika.
Menjawab pertanyaan wartawan, Bondan Gunawan tetap yakin Panglima AGAM bersama seluruh 
pengikutnya lambat-laun akan menyadari
kesungguhan dan kejujuran pemerintahan di bawah Presiden Abdurrahman Wahid, serta 
tidak mengulangi apa yang pernah dilakukan
pemerintahan Orde Baru. Artinya, kesejahteraan dan keamanan rakyat Aceh menjadi tujuan 
utama dari pemerintahan sekarang ini.
Menurut Bondan Gunawan, dalam pembicaraan dari hati ke hati, Teungku Abdullah Syafi'ie 
berterus-terang bahwa pihaknya sampai saat
ini masih merasa seperti dijajah oleh pemerintahan "kolonial" baru. Namun, jika terus 
dilakukan pendekatan-pendekatan yang bersifat
kekeluargaan, yang kemudian diikuti langkah-langkah konkret, konflik berdarah di Aceh 
akan bisa diselesaikan, kendati masih
membutuhkan waktu.
Bondan Gunawan juga mengritik sikap banyak aparat yang kurang simpatik. Bahkan ada 
yang memberi kesan menyeramkan. Seperti rambut
gondrong, pakai anting, dan berpakaian sipil. Belum lagi jalan dipalangi dengan balok 
dan drum. Keadaan seperti ini malah
memperkokoh kecurigaan terhadap itikad baik pemerintah pusat.
"Mereka bukan musuh kita, sehingga tidak perlu membentengi diri dengan cara-cara 
demikian. Mereka adalah saudara kita juga," ujarnya
kembali. (mt/sp/nj)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 17 Mar 2000 jam 05:01:47 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke