----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 09/III/20-26 Maret 2000
- ------------------------------

POLITIK GABAH NAN GEGABAH

(EKONOMI): Tarif impor beras tidak bisa tak naik. Nasib 110 juta jiwa
dipertaruhkan benar. Memangnya siapa pula IMF/WB sampai urusan perut kita
pun diaturnya.

Bisakah membayangkan kalau petani melakukan mogok tanam? Tanah-tanah
ditinggal bajak dan rumah-rumah penggilingan tutup. Akankah kita kelaparan?
Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) dan Kepala Bulog Jusuf
Kalla menjamin: "Tidak". Menurutnya, jika bisa mengimpor beras bermutu
seharga Rp1.500/kg, "Kenapa harus mati-matian mempertahankan swasembada
pangan?" Demikian ditegaskan Kalla (15/2), seraya membanding harga beras
lokal di pasar yang mencapai Rp2.500/kg.

Acuan Kalla tentu berangkat dari perspektif perdagangan. Lebih tepat lagi:
pola pikir pasar bebas. 'Wajar' jika titik tilik melulu soal untung. Meski
begitu, perlu ditelusuri apakah Kalla menyadari penuh terdapatnya 22 juta
keluarga yang menggantungkan hidup pada hasil pertanian. Andaikan tiap
keluarga beranggota 5 orang, total jiwa paling sedikit berjumlah 110 juta.
Pertanyaannya: apakah mereka pun turut diuntungkan? Lebih jauh lagi, apakah
110 juta manusia tadi termasuk kategori "pemain" dalam caturan pasar bebas?
Jangan-jangan malah kian termarginalisasi.

Sekarang saja, di sepanjang sisi bentaran sawah mulai terdengar jerit panik
petani. Hasil panen mereka anjlok dari patokan harga gabah yang ditetapkan
pemerintah. Pedagang hanya bersedia membeli pada kisaran harga Rp700-850 per
kg. KUD pun mengaku tak berdaya melakukan pembelian dengan harga standar.
Akibatnya, petani merugi sampai Rp250 per kg-nya. Kalau produksi per hektar
mencapai 4,5-5,2 ton, berarti derita rugi bisa sebesar Rp11,2 juta-13 juta
per hektar.

Di sisi lain Inpres No. 32/1998 telah mematok harga dasar gabah
masing-masing Rp1.050-1.200 per kg untuk gabah kering pungut/panen (GKP),
Rp1.200 per kg untuk gabah kering simpan (GKS) dan gabah kering giling (GKG)
Rp1.400 per kg. Standar harga gabah basah berkualitas (kadar air sampai 25%)
adalah Rp1.020 per kg. Sedang gabah berkadar air di atas 25% harga berkisar
Rp1.000 per kg dan gabah kualitas apa adanya atau berkadar air di atas 32%
berkisar Rp900 per kg. Kisaran harga terjadi pada gabah basah di luar
kelompok kualitas karena pemerintah tidak mematok harga untuk keduanya.

Apa pasal hingga terjadi demikian? Alasan pertama mengemuka adalah lantaran
turunnya kualitas gabah sendiri. Hujan terus menerus saat panen raya
berlangsung mengakibatkan petani sulit menjemur padi. Kian hari harga pun
kian turun merunut logika tawar-pasokan.

Sementara saat ini beras impor berkualitas baik banjir ruah dengan harga
murah sejak dua tahun belakangan. Dengan kata lain, titik jenuh tengah
merayapi pasar dan bertengger beberapa lama. Akibat lanjutan mudah ditebak.
Yakni kian lemahnya posisi tawar petani di hadapan pedagang dan (terlebih)
spekulan. Kecuali berharap produksi mereka dibeli Dolog, tak ada pilihan
selain buntung. Apa lacur stok di gudang Dolog pun seperti diakui Menteri
Pertanian M Prakosa melebihi cukup untuk kebutuhan pangan sampai semester
depan.

Belakangan muncul gagasan agar pemerintah menaikkan tarif masuk beras dari
para negara penghasil. Bea impor sebesar 30% seperti sekarang ditengarai tak
memberi manfaat berarti bagi proteksi pertanian. Malah akibat manipulasi
dokumen impor di pelabuhan, disinyalir jumlah beras beredar dan stok
sebenarnya melebihi dari data tertera. Istilah beras "sepanyol" alias separo
nyolong dipastikan bukan guyonan dalam politik beras Indonesia.

Celakanya, pemerintah tak segera menelorkan kebijakan radikal guna
melindungi petani. Pernyataan Jusuf Kalla di atas setidaknya mewakili
sebagian pandangan dalam pemerintahan. Padahal sejauh soal pangan para
negara maju pun senantiasa memberi perlindungan hukum yang kuat. Komitmen
GATT/WTO sendiri memberi toleransi tarif sampai 60% untuk negara pengimpor
hingga 70 ribu ton per tahun.

Berangkat dari ketentuan ini, Indonesia sudah selayaknya memberlakukan tarif
maksimum. Sebab, selama dua tahun terakhir impor beras kita telah mencapai
9,8 ton. Sementara riil kebutuhan hanyalah sebanyak 4 juta ton atau 2 ton
per tahunnya. Andai kacamata Menperindag dipakai, tanpa beras lokal pun
rakyat Indonesia tak bakal kekurangan pangan. Kalla seperi setuju impor
beras dibebaskan dari tarif sampai nol seperti tekanan Dana Moneter Keuangan
(IMF).

Belajar dari kasus perbankan kita semestinya curiga dengan gaya main atur
IMF, Bank Dunia atau negara maju pendonor lainnya. Paket November 1988 yang
memberi kemudahan membuka bank berawal dari ide badan-badan pemodal itu.
Mereka pula yang datang menggilas, membuat defisit dan lantas mengambil alih
kepemilikan. Suatu hari tanpa sawah, padi, pernyataan gegabah Menperindag
bisa menjerumuskan kita pada "aturan" baru IMF.

Tanpa sawah, gerakan penghancuran sendi ekonomi ala IMF beroleh sukses
besar. Sebab, sejatinya di sana pokok kegiatan subsisten berlangsung.
Hancurnya lumbung subsistensi berarti kehilangan daya survival. Jumlah 110
juta jiwa dipastikan membengkak sampai hitungan letih gumam. (*)

- ---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- ----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Mar 2000 jam 04:25:11 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke