---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Calgary, 20 Maret 2000 SIKAP IGNORAN SEMENTARA CENDEKIAWAN YANG BERMUKIM DI NEGARA BARAT Eko W Raharjo University of Calgary - CANADA Semestinya amatlah menarik mendengarkan pendapat cendekiawan-2 dari Indonesia yang tinggal di negara barat (Eropa Barat atau Amerika Utara). Namun sangat ironis bahwa pendapat beberapa penulis justru mencerminkan sikap ignoran. Pendapat Padmanaba yang menyatakan bahwa di negara dimana dia hidup (Jerman) adalah bermayoritas Katolik Roma. (Dan meskipun demikian, masyarakat Katolik Roma) tidak memberlakukan CIC: Code Iuris Canocici (hukum Gereja Katolik) adalah suatu contoh dari sikap yang total ignoran terhadap fakta dari masa kini maupun fakta sejarah. Di Jerman, jumlah penganut Katolik Roma plus Kristen Protestan adalah minoritas; apalagi penganut Katolik Roma saja! Beberapa tahun yang silam, majalah terkemuka Jerman Der Spiegel melaporkan hasil surveynya, bahwa penganut agama Katolik Roma dan Protestan kurang lebih hanya 30 percent saja. Itu saja masih terbagi lagi dengan mereka yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan mereka yang tidak mempercayainya. Kenyataan lain adalah jumlah umat terutama kaum muda yang keluar (Austritt) dari gereja terus bertambah, baik oleh karena alasan Kirchesteuer (pajak Gereja) atau sebab lainnya. Belum lagi kalau orang lebih jeli, tokoh-2 dalam Gereja Roma Katolik sendiri seperti Hans Kueng, prof. theologi dari Uni Tuebingen, Eugen Drewermann, theolog dari Uni. Padeborn, und anderen sulit untuk digolongkan lagi sebagai penganut paham Katolik Roma. Situasi Jerman (dan negara-2 Eropa Barat serta Amerika Utara) sekarang, dimana mereka secara substansial mampu menjauhkan pengaruh Gereja, bukanlah suatu kebetulan melainkan adalah hasil dari pergulatan sejarah yang amat panjang. Sudah menjadi pengertian dari mayoritas masyarakat disana bahwa selama berabad-abad berada dibawah pengaruh Gereja, Eropa diliputi oleh kegelapan: kultur kekerasan, kebodohan dan kenistaan. Jaman medieval ditandai oleh persekusi-pembantaian terhadap kaum tak berdosa, para wanita, cendekiawan dan orang-2 yang dianggap kafir (Heiden) melalui inkuisisi. Perang salib telah menumbalkan anak-2 Eropa, kaum Muslimin yang tak berdosa, serta mengorbankan jutaan nyawa manusia lainnya secara sia-sia. Pembantaian orang-2 Yahudi, orang-2 Afrika, orang-2 protestan. Berlanjut sampai pada jaman kolonial, diantaranya adalah pemusnahan bangsa Indian. Menurut hitungan Karlheinz Deschner (dalam tulisannya:"Ueber die Notwendigkeit, aus der Kirche auszutretten", 1991), paling sedikit 15 juta bangsa Indian tumpas dalam satu generasi. Bahkan sudah pada jaman abad XX, Eropa masih menyaksikan pembantaian 700 ribu Ortodoks Serbia yang diantaranya dilakukan langsung oleh priests dari ordo Fransiskanes! Ketika saya menjadi turis di Salzburg, Austria, seorang guide lokal menunjukkan kepada saya satu Schloss megah dimana seorang Uskup, yang juga penguasa pemerintahan setempat pada jaman Kekaisaran Katolik Roma, menyimpan 'gembrik' nya. Rusaknya martabat kemanusiaan, dekadensi moral dan kultur Eropa dibawah Hukum Gereja adalah suatu fakta bukan fantasi. Berangkat dari kesadaran akan masa kegelapan tsb, bangsa-2 Eropa secara aktif membersihkan masyarakat dan negara mereka dari hukum, moralitas dan pandangan-2 Gereja Katolik Roma. Masyarakat dan pemerintahan negara barat yang makmur ekonomi dan demokratis yang kita saksikan sekarang adalah masyarakat dan pemerintahan yang menganut paham sekuler; artinya MEMBEBASKAN diri dari dasar-dasar hukum, moral dan ajaran agama/Gereja Katolik. Pernyataan Padmanaba yang mengesankan seolah-olah demokratisasi dan kemakmuran negara-2 barat muncul dari masyarakat Katolik Roma, (dan secara besar hati) hukum Katolik Roma tidak diberlakukan, adalah pandangan yang total ignoran dan menyesatkan. Bukan karena Katolik Roma tidak mau menerapkan hukum-2nya, melainkan hukum, moralitas serta paham Katolik Roma yang non-sekuler telah secara sadar dan aktif ditolak mentah-mentah oleh mayoritas masyarakat Eropa barat dan Amerika Utara! Dengan kata lain sekularisasi negara-2 barat yang makmur ekonomi dan demokratis BUKANLAH akibat dari penolakan terhadap paham non-sekuler Islam seperti yang berusaha ditampilkan oleh Padmanaba dan beberapa penulis lainnya, melainkan konsekuensi dari penolakan terhadap paham non-sekuler Gereja Katolik Roma! Dari sana dapat terlihat pula betapa rancu paradigma yang berusaha disuapkan oleh penulis-2 tsb kepada pembaca; yakni sekuler diidentikan sebagai Barat, Kristen, moderen, makmur dan demokratis; sedangkan non-sekuler diidentikkan sebagai Islam, anti Barat, anti Kristen; oleh karena itu identik dengan primitif, miskin, bodoh dan biadab. Tidak disadari bahwa munculnya Renaissance di dunia Barat adalah akibat persinggungan dengan Dunia Islam. Pada waktu Eropa masih Kristen dan berada dalam Dark Ages, dunia Islam telah dipenuhi oleh pemikir-2 besar seperti Avicenna (Ibnu Sina, 980-1037). Bagai suluh yang menerangi kegelapan, budaya Islam membawa pembaruan dunia Kristen Eropa. Diantaranya sejak itu filsafat mulai ditambahkan dalam kurikulum universitas-2 di Eropa. Barulah setelah itu kemudian muncul pemikir-2 seperti Thomas Aquinas (John L. Esposito, 1998). Pertanyaan kritisnya, apakah phenomena kemakmuran ekonomi dan kemajuan sains dan teknologi dari Dunia Barat yang muncul seiring dengan pemisahan dengan Gereja/ agama Kristen sedemikian rupa sehingga pengaruh ajaran, moral dan hukum Gereja lenyap dari mainstream masyarakat dan pemerintah dapat dianalogikan dengan situasi di Dunia Islam?. Dengan kata lain apakah mayoritas masyarakat dunia Islam merelakan kepercayaan kepada Allah SWT, kehidupan transendental yang berdasar kepada revelation (wahyu) lenyap demi kesuksesan ekonomi dan kemajuan sains dan teknologi?. Ataukah ada suatu jalan keluar lain dimana kemajuan sains, teknologi dan kemakmuran ekonomi bisa kompatibel dengan kehidupan transedental yang berbasis pada revelation, yakni Quran, Hadits dan Syaria? Seperti apapun tanggapan yang muncul, adalah amat penting terutama bagi para cendekiawan untuk membuka mata lebar-2 akan fakta yang ada. Hormat saya, Eko W Raharjo University of Calgary [EMAIL PROTECTED] >Padmanaba: >Dinegara dimana saya hidup, negara yang sangat makmur ditengah Europa, >dan berstandard sosial yang tinggi, adalah bermayoritas Katholik Roma. >Namun, tetap saja, Hukum Gereja Katholik Romawi - CIC atau Code Iuris >Canonicii - tidak diberlakukan diatas semua warga. Kehidupan berbangsa >diatur menurut Hukum Perdata yang sangat beradab. Juga pemberlakuannya >dan praktik hukumnya.(Padmanaba, [EMAIL PROTECTED] , Tentang >negara Islam..,Mon, 13 Mar 2000, http://www.indopubs.com/archives/0210.html ). ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 20 Mar 2000 jam 22:09:55 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
