---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- ISTIQLAL (20/03/2000)# WIRANTO GAGAL, ATAU BERHASIL BINA BAWAHANNYA? Oleh: Abdi Tauhid Agus Wirahadikusumah, Panglima Kodam Wirabuana, mengatakan: sebaiknya Wiranto mengundurkan diri sebagai Menko Polkam, seperti yang disarankan Presiden Abdurrahman Wahid. Bahkan Agus juga menyarankan Wiranto bergabung saja dengan partai politik boleh juga Golkar untuk menjadi oposisi. Pernyataan Agus Wirahadikusumah ini muncul setelah melihat sikap Wiranto yang tak mengacuhkan, bila tidak akan dikatakan membangkang, terhadap imbauan Presiden Abdurrahman Wahid untuk mengundurkan diri sebagai Menko Polkam. Dengan demikian Wiranto menempatkan dirinya sebagai oposisi. Mendengar pernyataan Agus yang demikian, maka Wiranto, usai pelantikan Soerjadi Soedirja sebagai Menko Polkam ad interim, mengatakan kekecewaannya atas sikap Agus sebagai perwira tinggi. Wiranto kemudian sampai mengatakan dirinya gagal membina bawahannya. Benarkah Wiranto telah gagal membina bawahannya (termasuk Agus), hingga Agus sampai berani menyatakan seperti di atas? Ataukah sesungguhnya Wiranto telah berhasil membina bawahannya dengan baik? Untuk menjawab persoalan ini dapat dilihat dari segi garis komando yang berlaku di lingkungan militer dan juga dari segi demokrasi. Sebelum menjawabnya, baiklah kita amati reaksi Kepala Staf Umum TNI, Letjen Suaidi Marasabessy dan Presiden Abdurrahman Wahid. TAK LAZIM DI LINGKUNGAN MILITER Menurut pendapat Kepala Staf Umum (Kasum) TNI, Letjen Suaidi Marasabessy bahwa sikap Agus itu tidak lazim di lingkungan militer. Ya, kalau kita melihat dengan cara pandangan lama. Permasalahannya, kita sedang berada dalam transisi. Tentunya untuk hal itu memerlukan pengkaJian yang lebih cermat: apakah ini merupakan pelanggaran terhadap kode etik perwira. TNI memang tidak berharap ada perwira yang berkomentar di luar lingkungannya, sambung Marassabessy. Kalau memang ada perbedaan pandangan, itu sesuatu yang wajar di dalam organisasi TNI. Namun sebaiknya perbedaan pandangan itu disampaikan di lingkungan internal, karena akan berdampak pada anggota di tingkat bawah. Mereka menjadi bingung, mana yang harus menjadi panutan. TNI, kata Marasabessy, bukan tidak kenal demokrasi. Kami pun melakukan demokrasi dalam bentuk perbedaan-perbedaan pendapat dalam proses mengambil keputusan dan itu dilakukan secara intensif. Sebab, apapun yang kami hasilkan, itu menyangkut nyawa, sehingga pemerkayaan terhadap pandangan seseorang, bahkan keputusan pimpinan itu, susuatu yang harus dilakukan dan itu juga termasuk bagaimana mendengar pendapat bawahan. Persoalannya sekarang, sambung Marassabessy, dia muncul kepermukaan dilemparkan ke tengah-tengah masyarakat. Kita pun sedang berada dalam satu situasi seperti ini, sehingga TNI diwajibkan untuk menelaah lebih lanjut: apakah persoalan-persoalan itu merupakan suatu pelanggaran kode etik perwira atau tidak. AKIBAT ASPIRASI TERSUMBAT Bila Suaidi Marasabessy melihat persoalannya dari segi ada atau tidak pelanggaran kode etik perwira, mengenai pernyataan Agus Wirahadikusumah tersebut, maka Presiden Abdurrahman Wahid mengingatkan bahwa pernyataan-pernyataan seorang anggota TNI yang dilontarkan kepada pers dan bukan diselesaikan di dalam, secara internal, merupakan pertanda bahwa di dalam organisasi TNI sendiri, aspirasi itu sebenarnya tersumbat. "Mbok hilangkan tersumbatnya itu. Pasti tidak bicara lagi di luar. Saya tidak mbelani Agus. Bagi saya, kenal saja baru, kemarin. Saya ke Makasar kenal Pak Agus," kata Presiden. Menanggapi pernyataan Marasabessy, Gus Dur mengatakan: boleh saja kita menilai seseorang apa saja, tetapi hendaknya diingat bahwa Pak Agus terpaksa bicara pada pers, artinya di dalam organisasi TNI dia tersumbat. Gus Dur menyatakan, dia tidak ingin ikut campur urusan intern TNI, sejauh ini memberikan dukungan. Mengenai pernyataan Gus Dur bahwa ada yang tersumbat di tubuh TNI, KSAD Tyasno membenarkannya. Menurut KSAD sangat diperlukan berbagai bentuk untuk mengatasi ketersumbatan itu. Komunikasi itu kalau internal (TNI) antara pimpinan dengan yang dipimpin. Komunikasi horisontal antara teman dengan teman. Komunikasi yang dilandasi rasa kasih sayang akan menimbulkan kesetiaan. Kesetiaan pimpinan pada anak buahnya, kesetiaan sesama teman, kesetiaan anak buah dengan pimpinannya. Oleh karena itu komunikasi tidak boleh tersumbat. Ini harus dibuka. Keterangan KSAD Tyasno ini diberikan, sesudah KSAD mengadakan pertemuan tertutup dengan jajaran Kodam Wirabuana selama kurang lebih dua jam. Dengan kata lain, KSAD hendak mengatakan: kalau komunikasi tidak berdasarkan rasa kasih sayang, tetapi hanya berdasarkan garis komando, tentu tidak akan lahir kesetiaan dari bawahan kepada atasannya, pimpinannya. Komunikasi garis komando itulah tampaknya, yang menyebabkan tersumbatnya aspirasi. PERINTAH PIMPINAN, TANGGUNGJAWAB ATASAN Sistem komando yang pada umumnya berlaku di kalangan militer, tampaknya tak berbeda dengan apa yang dikatakan Hitler, melalui bukunya "Mein Kampf" yaitu: Perintahnya tiap-tiap pemimpin kepada yang di bawahnya dan pertanggunganjawab dari yang di bawah kepada yang di atas (Autoritat jeden Fuhrers nach unten, und Verantworlichkeit nach oben). Jika dilihat dari sistem komando ini, Wiranto benar, ia telah gagal dalam membina bawahannya, Agus Wirahadikusumah. Bawahannya telah berani mengecamnya, bukannya mematuhi apa yang digariskannya. Sesungguhnya apa yang dimaksud membina oleh Wiranto? Apakah membina itu hanya berupa pemberian petunjuk-petunjuk (baik dengan lisan atau tertulis) atau juga termasuk berupa suri teladan, melalui penampilan dirinya sebagai atasan atau pimpinan? Ataukah penampilan diri dari pimpinan atau atasan di tengah masyarakat tidak dianggap sebagai bagian dari bentuk pembinaan? Pembinaan bukan hanya melalui petunjuk dengan lisan atau tulisan, tapi yang lebih penting lagi justru melalui penampilan diri dari kehidupan nyata. Penampilan diri akan mudah diteladani oleh bawahan yang dibina. Karena Wiranto dalam penampilannya tak memperdulikan imbauan Presiden Abdurrahman Wahid (atasannya), agar dirinya mengundurkan diri sebagai Menko Polkam, bagi Agus, itu juga bisa berarti: Wiranto membinanya supaya berani pula berbeda pendapat dengan atasan. Karena itu wajar saja bila Agus mengemukakan pendapat yang berbeda dengan Wiranto. Sesungguhnya terdapatnya perbedaan pendapat antara bawahan dengan pimpinan dalam tradisi militer di Indonesia, bukan hal yang baru. Bukankah pada 17 Oktober 1952 Jenderal Nasution, KASAD ketika itu, menghadapkan meriam ke istana Presiden, untuk memaksa Presiden Sukarno membubarkan DPR? Presiden Sukarno menolaknya. Dan gagallah usaha bawahan untuk memaksa atasannya. Juga bukankah jenderal Suharto memanipulasi Supersemar untuk membubarkan PKI, meskipun Presiden Sukarno mengatakan: pemegang Supersemar tidak berhak membubarkan PKI. Supersemar bukan pelimpahan kekuasaan, melainkan perintah pengamanan. Jenderal Suharto tak memperdulikan sikap Presiden Sukarno tsb, Suharto berjalan terus atas tanggungjawabnya sendiri. Diamati dari segi penampilan Wiranto yang tak memperdulikan saran Presiden Abdurrahman Wahid, sesungguhaya Wiranto bukannya gagal dalam membina bawahannya, malah berhasil dengan baik. Wiranto baru bisa menyatakan gagal, sekiranya Agus tidak mengikuti langkah Wiranto "membangkang" kepada atasannya, yang kebetulan, yang "dibangkanginya" adalah pembinanya sendiri, Wiranto. Senjata makan tuan! Demikian pula bila pernyataan Agus itu diamati dari segi demokrasi. Agus telah di jalan demokrasi. Ia mengemukakan pendapatnya ataa sikap Wiranto yang tak mengacuhkan imbauan Presiden agar ia mengundurkan diri sebagai Menko Polkam. Ia memang berbeda dengan Wiranto. Justru dengan adanya perbedaan pendapat, pertukaran pikiran, kemajuan akan dicapai. Dengan pertukaran pendapat, pertukaran pikiran akan lahir satu kebenaran yang baru, yang lebih berkualitas. Dalam demokrasi tidak ada keharusan dalam semua hal ihwal harus seragam. Baik diamati dari sistem komando bawahan harus tunduk pada atasan, atau dari segi demokrasi, sesungguhnya tidak ada alasan bagi Wiranto untuk menyatakan kekecewaannya pada pernyataan Agus Wirahadikusumah di atas. Seharuanya Wiranto memuji Agus sebagai binaan yang cerdas dan kecerdasannya itu supaya dikembangkan. Akan tetapi karena Wiranto menyatakan kekecewaannya atas sikap Agus yang meneladani gaya penampilannya dalam berbeda pendapat, seharusnya Wiranto melakukan otokritik, atau menyesali dirinya yang keliru cara membinanya. Jangan diri yang keliru, orang lain yang disalahkan Jelas kiranya, bahwa sesungguhnya Wiranto bukan gagal membina bawahannya. Wiranto berhasil. Sebagai tanda dari keberhasilannya, juga ditunjukkan ia tidak pernah menegor atau menyetakan kekecewaannya atas pelanggaran HAM yang dilakukan bawahannya di Timtim, sesuai jajak pendapat, yang dimenangkan pro kemerdekaan. Pelanggaran HAM yang dilakukan bawahannya di Timtim itu merupakan hasil pembinaan yang dilakukan Wiranto selama ini. Sekiranya pelanggaran HAM yang terjadi di Timtim tsb, tak sesuai dengan isi pembinaannya, tentu akan ditegornya, akan ditindaknya. Dengan membiarkannya, tidak mempunyai arti yang lain, selain telah sesuai dengan isi pembinaannya. Malah Wiranto dengan tegas menyatakan kepada DPR bahwa bila ia, pada saat menjabat sebagai Panglima TNI menandatangani sejumlah keputusan mengenai penempatan perwira, adalah perwira yang dipilih dengan empat kriteria (moralitas, kualitas, akseptabilitas dan track record). Jadi, moral para perwira yang diangkatnya itu telah sesuai dengan moralnya Wiranto. Ya, moral pelanggar HAM. Karena itu wajar saja bila KPP HAM Timtim , menganggap Wiranto bertanggungjawab atas pelanggaran di Timtim di atas. Bukan itu saja yang menunjukkan keberhasilan Wiranto dalam membina bawahannya, juga ditunjukkan dengan diamnya Wiranto dalam seribu bahasa mengenai pelanggaran HAM yang terjadi di Trisakti, Semanggi dsb. Ya, Wiranto, adalah Wiranto. *** - ---------------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 21 Mar 2000 jam 03:35:47 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
