----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

SIARAN PERS MTI TANGGAL 21 MARET 2000
"Pengangkatan Pejabat Publik Harus Transparan dan Tidak Dipolitisasi"

http://www.transparansi.or.id/pers/pers210300.html

Dalam Acara Seri Dialog Transparansi:
Transparansi Pengangkatan Pejabat Publik:
Akomodasi Politik atau Profesionalisme Birokrasi
Financial Club, Graha Niaga Lt. 2 Multifunction Room, Jakarta
Jam 09.00 - 13.00 WIB

======================================================

SIARAN PERS MTI TANGGAL 21 MARET 2000

Rangkaian pergantian pejabat publik dewasa ini sangat menyita perhatian masyarakat. 
Elite politik baru tampil mengisi berbagai
posisi strategis di Departemen atau Kementerian Negara. Posisi basah di Badan Usaha 
Milik Negara juga menjadi incaran kader-kader
partai. "Kita harus menghindari politisasi birokrasi, terutama untuk jabatan karir dan 
profesional,karena hal itu kontraproduktif
bagi masa depan pemerintahan," tegas Ketua MTI, Mar'ie Muhammad dalam acara tersebut, 
Selasa (21/3) di Graha Niaga, Jakarta.

Penegasan itu didukung penuh oleh Nurcholis Madjid (Yayasan Paramadina) yang tampil 
bersama Menteri Negara Pekerjaan Umum, Rozik B.
Soetjipto pada sessi pertama.

Salah satu fungsi pemerintahan yang diredefinisi adalah perubahan Departemen Pekerjaan 
Umum menjadi Kementerian Negara. Menneg PU
Rozik B. Soetjipto menjelaskan telah menangkap misi yang diamanatkan Presiden, namun 
tak mudah mewujudkannya dalam realita. Perlu
penyesuaian internal, disamping koordinasi dengan Departemen lain.

Cendekiawan Nurcholis Madjid berupaya membingkai perlunya netralitas dan 
profesionalitas birokrasi dengan tuntutan akomodasi politik
yang mengemuka. "Tak adil, bila kita tak memberi kesempatan kepada pemain baru untuk 
memimpin dan mengelola negara," kata Nurcholis.
Namun, peluang itu jangan sampai membuat pemerintah tak efektif dan kabinet koalisi 
mengalami intrik kepentingan.

Pada sessi kedua berbicara Yasril Ananta Baharuddin (Ketua Komisi I DPR), dan Pradjoto 
(pengamat ekonomi yang baru saja diangkat
sebagai Anggota Komisi Ombudsman Nasional). Secara umum, para pembicara sepakat 
perlunya menghindari politisasi birokrasi, serta
keharusan transparansi dalam proses pengangkatan dan pergantian pejabat publik. Setiap 
calon pejabat harus mengalami tes kelayakan
dan diketahui masyarakat luas track record-nya.

Disamping menggelar Dialog Transparansi, MTI menyampaikan tanggapan umum terhadap 
keputusan pemerintah yang menetapkan Komisi
Ombudsman untuk mengawasi perilaku para pejabat negara. MTI memandang, fungsi 
Ombudsman semata tak cukup. "Harus dikoordinasikan
dengan Komisi Pemeriksa Kekayaan Pejabat Negara dan Komisi Independen Pemberantasan 
Tindak Pidana Korupsi yang diamanatkan
undang-undang," ungkap Sekjen MTI, Erri Riyana Hardjapamekas dalam rilis resmi.

Jakarta, 21 Maret 2000

*******************************************************
Masyarakat Transparansi Indonesia
The Indonesian Society for Transparency
Jl. Ciasem I No. 1, Kebayoran Baru
Jakarta Selatan 12180
Telp: (021)724-8848 ; 724-8849
Fax : (021)724-8849
email:  [EMAIL PROTECTED]
http://www.transparansi.or.id
*******************************************************

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Mar 2000 jam 16:15:49 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke