---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Terbitnya Surya di Balik Mendung MENGAPA seorang Bondan Gunawan mau datang menjumpai Teungku Abdullah Syafi'ie? Kenapa Pjs Sekretaris Negara itu diterima dengan ramah oleh Panglima Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM)? Seorang anak muda di Kecamatan Glumpang Tiga, Kabupaten Pidie, berkali-kali bertanya soal itu. Abdullah Syafi'ie selama ini dikenal tak mau menemui siapa pun pejabat Indonesia. Sikapnya tegas, tak ada tawar-menawar. Indonesia dianggapnya warisan kolonial Belanda. Pejabat, apalagi yang namanya pejabat militer, jelas sangat tidak mungkin menemui tokoh GAM ini. Abdullah Syafi'ie malah dicari-cari, bahkan dikabarkan sebelumnya telah sekarat, tertembak pasukan TNI. Kabar inilah yang kemudian ternyata terbantah dengan sendirinya setelah Abdullah Syafi'ie muncul di media massa. Maka ketika dia berpelukkan dengan Bondan, anak muda tadi pun terheran-heran. Tetapi ia segera mengatakan, "Teungku orang bijak. Dia bukan saja panglima yang dipatuhi anak buahnya, tetapi jadi panutan banyak orang di sini". Orang-orang desa datang beramai-ramai melihat pertemuan itu di sebuah dangau, agak jauh dari pemukiman penduduk. Mereka keluar dari rumah-rumah sederhana, berjalan kaki membawa anak istri. Pengawalan Abdullah Syafi'ie ekstra ketat. Belasan orang siaga dengan senjata laras panjang plus pistol di pinggangnya, dan seorang di antaranya siap dengan penembak roket. Sebuah pemandangan yang mungkin dapat menjelaskan bagaimana sesungguhnya kondisi dan warna pertemuan itu. Bondan Gunawan sendiri hanya datang ditemani dua stafnya. Menggunakan sebuah mobil carteran dari Bandara Sultan Iskandarmuda, Banda Aceh, ia rela menunggu sejak sehari sebelumnya, Rabu hingga Kamis (16/3), hanya untuk menemui Panglima AGAM tersebut. Di balai sebuah pesantren, ia duduk dan minum kopi yang dibeli para santri dalam sebuah kantung plastik. Menjelang petang, ia dengan senang hati memenuhi permintaan seorang tokoh masyarakat setempat untuk datang ke rumahnya. Di sana, ia mandi dan duduk berbincang dengan orang-orang setempat, tanpa banyak yang tahu siapa sebenarnya Bondan tersebut. Begitu juga ketika harus bermalam di Sigli, ibu kota Kabupaten Pidie. Penginapan fasilitasnya, dan tidak adanya lagi toko yang buka pada malam hari untuk membeli berbagai kebutuhan, tidak menjadi keluhan Bondan. Sama seperti dia tak mengeluh ketika harus menunggu lama datangnya mobil carteran di Bandara Sultan Iskandarmuda di Banda Aceh. Duduk lama di antara sejumlah orang yang sama sekali tak mengenalnya dengan pakaian tak resmi. Abdullah Syafi'ie seperti diakuinya bukan tidak mau menemui Bondan pada hari Rabu itu. Tetapi, ia mengatakan kondisi setempat yang tak memungkinkan ia melakukan hal tersebut hari itu. Baru pada hari Kamis setelah Shalat Idul Adha, pertemuan itu dapat dilaksanakan. "Alhamdulillah, sahabat saya datang menemui saya selaku sesama muslim," tutur Bondan. Bondan pun menyampaikan salam seorang muslim yang lain sekalian menitipkan amanah berupa dua ekor sapi untuk kurban Idul Adha. Muslim itu tak lain adalah Gus Dur (Presiden Abdurrahman Wahid), yang meminta Abdullah Syafi'ie membagikan daging kurbannya untuk fakir miskin yang berhak menerimanya di daerah itu. Dangau di pinggir jalan dekat persawahan itu pun kian ramai didatangi orang-orang desa, tak terkecuali orang tua dan anak-anak. Mereka mendengarkan apa saja yang dibicarakan Bondan dan Abdullah Syafi'ie dengan saksama. Meski dengan latar belakang berbeda, mereka sesungguhnya adalah satu, bahwa mereka berbicara dalam satu visi yaitu kemanusiaan. Ada rasa keakuratan yang kental berbagai pendapat mereka tentang kemanusiaan. Apakah ini merupakan titik sejarah baru dalam perjalanan Aceh ke depan? *** SEORANG penasihat Thaliban (organisasi santri di Aceh) melihat kesungguhan Bondan sebagai sesuatu hal yang luar biasa. Ini terjadi di tengah "tak beraninya" sejumlah pejabat lain, termasuk pejabat di Aceh, yang mau datang dengan segala risiko menemui Panglima AGAM tersebut. Ada indikasi bakal adanya kecerahan yang patut dicermati dengan saksama. Teungku Baihaqi, yang juga ulama pesantren tersebut, menyatakan keyakinannya bahwa persoalan-persoalan yang muncul selama ini di Aceh adalah menyangkut kemanusiaan dan harga diri. Oleh karena itu pula, bila sisi ini kemudian diangkat dalam pertemuan itu oleh Bondan dan Abdullah Syafi'ie, maka persoalannya menjadi sangat pas dan komplet. Lihatlah bagaimana Abdullah Syafi'ie menyatakan, betapa rakyat Aceh selama puluhan tahun harus hidup menderita dalam kesewenang-wenangan. Tercermin pula kekecewaannya terhadap berbagai perilaku tidak manusiawi aparat negara terhadap rakyat tak berdosa. Betapa dia dengan suara bergetar menyebut nama Baharuddin Lopa yang dalam kacamatanya adalah sebagai pendekar yang menyingkap berbagai pelanggaran HAM rakyat Aceh ke mata dunia. "Kirim salam hormat saya untuk beliau. Jasa-jasa Lopa untuk bangsa Aceh tak pernah kami lupakan," katanya. Lalu, Bondan pun sependapat bagaimana sebuah sisi kemanusiaan harus dikedepankan. Ia juga dengan baik mencermati bagaimana lancarnya Abdullah Syafi'ie melemparkan kegeramannya terhadap perilaku aparat negara yang menginjak-injak rasa kemanusiaan rakyat. Maka ketika keduanya berbicara soal kemanusiaan, mereka pun harus larut dalam rasa yang mendalam itu. Persoalan-persoalan kemanusiaan tampaknya menjadi titik temu yang baik yang harus diperbincangkan lebih lanjut antara mereka atau siapa pun yang mau melanjutkan lagi hal-hal semacam ini. Bondan dan Abdullah Syafi'ie telah melakukan hal itu. Meskipun keduanya berbeda pada sisi pandang yang lain, tetapi mereka tetap satu bahasa dalam masalah kemanusiaan. Seperti dikatakan Otto Syamsuddin Ishak, ketua LSM Cordova, GAM maupun Pemerintah Jakarta selanjutnya harus mampu menghilangkan egoisme masing-masing untuk menyelesaikan persoalan seperti yang sudah dilakukan dua tokoh tadi. Kembalilah ke persoalan kemanusiaan, sebab empat juta lebih orang Aceh ingin menikmati arti hidupnya sebagai manusia yang hidup di negeri yang mampu menghargai manusia sebagai manusia. Ke depan tampaknya ada cahaya cerah yang segera terbit manakala semua pihak menyadari pentingnya rasa kemanusiaan itu dikedepankan dalam menyelesaikan masalah. Ibarat cahaya itu adalah surya yang segera terbit, maka Matahari itu selama ini sebenarnya terlindung di balik mendung. (nj) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 24 Mar 2000 jam 17:12:13 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
