---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Calgary, 26 Maret 2000 PERMASALAHAN MASYARAKAT DEMOKRASI SEKULER Eko W Raharjo University of Calgary - CANADA KRISIS MORALITAS DI SEGALA BIDANG DI NEGARA SEKULAR Kritik pihak komunis terhadap negara-2 yang berpaham demokrasi sekuler seperti Amerika adalah bahwa di negara tsb terdapat kelompok penduduk yang amat miskin, penindasan terhadap minoritas, dan praktek demokrasi yang dobel standard. Negara-2 berpaham komunis boleh dikata sudah lemah dan kalah, namun tidak berarti kritik mereka adalah salah. Ditengah kemakmuran ekonomi dan keunggulan sains dan teknologi di Amerika, ketidak-adilan sosial, masalah rasial (diskriminasi terhadap kelompok minoritas, baik native Indian, kulit hitam ataupun kelompok minoritas lainnya) dan keterpihakan hukum serta pemerintahan kepada kelas elite ekonomi merupakan isu yang amat besar. Lebih dari itu, seiring dengan meningkatnya praktek sekulerisasi, masyarakat disini diresahkan dengan semakin menggejalanya krisis moralitas dalam segala bidang dan aspek kehidupan. DARI RAKYAT UNTUK INDUSTRI Banyak orang tidak menyadari bahwa dalam sistem negara demokrasi sekuler terjadi transformasi hukum dan pemerintahan. Common law yang merupakan dasar dari perlindungan hak-2 dari pemilikan rakyat dan lingkungan hidup sehat semakin digeser oleh undang-2 dan peraturan-2 pemerintah yang mengabdi kepada industri dan bisnis. Apakah itu Railways Acts (1845) atau Nuclear Liability Acts semua pada dasarnya mengacu kepada hal yang sama yakni pihak industri memperoleh otoriti untuk merampas hak milik dan menyebarkan polusi kepada rakyat dan lingkungan hidup mereka. Konsekuensi dari undang-2 tsb adalah terjadinya kolusi antara pihak aparat pemerintah dan industri dalam menghadapi pihak rakyat yang menentangnya. Penindasan brutal yang pernah menimpa native Indian pada jaman railways meskipun tercampur masalah rasial adalah contoh klasik dari konflik tersebut. Prinsip negara "dari rakyat untuk rakyat" dalam negara demokrasi sekuler telah terganti menjadi "dari rakyat untuk industri". Konflik-2 semacam itu sekarang mulai lagi bermunculan. Ludwig dan Boonstra adalah petani-2 di Alberta, Canada, yang bersama komunitinya menentang eksploitasi minyak bumi yang telah menyebarkan polusi ke farm dan keluarga mereka. Respons dari pemerintah yang diwakili oleh aparatnya (RCMP) adalah khas, yakni berkolusi dengan pihak industri untuk memojokkan dan memenjarakan Ludwig dan Boonstra. Contoh yang lebih nyata justru mudah kita temukan di negara-2 seperti Indonesia yang mengcopy-cat sistem negara demokrasi sekuler. Kasus Marsinah adalah potret nyata dari penumpasan rakyat lemah oleh kolusi antara aparat pemerintah dan industri. Jadi kasus Marsinah merupakan konsekuensi yang tak terhindarkan dari bentuk negara sekuler. Penaggulangan masalah-2 seperti itu tidak cukup hanya dengan penghukuman pelaku dan penggantian rezim Suharto saja, melainkan menuntut pula pembongkaran dasar pemerintahan negara Indonesia yang sekuler. PEMERINTAH NEGARA SEKULAR BERTEKUK LUTUT TERHADAP INDUSTRI Akselerasi dari kemajuan sains dan teknologi diawal milenia ketiga merupakan harapan besar bagi umat manusia dalam mencapai kehidupan yang sehat dan beradab. Namun dalam kendali negara sekuler, situasi tsb bisa berbalik sebagai boomerang yang memporak-porandakan nilai-2 kehidupan manusia dan lingkungan hidupnya. Salah satu konsern nyata masyarakat saat ini adalah dampak dari pesatnya perkembangan bidang biosains dan bioteknologi. Tersedianya teknologi kloning, informasi komplit mengenai human genome dan kerakusan industri biotek merupakan kombinasi yang potential lethal bagi nilai-2 kemanusiaan. Tidak kurang dari kepala negara Amerika dan Inggris sendiri telah mengeluarkan statement yang pada prinsipnya menjaga human genome dari exploitasi pihak industri biotek. Namun dari sejarahnya, dimana pemerintah negara sekuler selalu bertekuk-lutut terhadap industri, maka seruan tsb terdengar sumbang. Terlebih dari itu, pemimpin-2 negara sekuler tidak bisa diharapkan untuk mempunyai komitmen moral dalam pernyataan-2 politiknya. Survivenya presiden William Jefferson Clinton dalam "skandal cerutu" merupakan bukti bahwa kehidupan dalam masyarakat di Amerika telah sedemikian jauh terkompartemen. Kompartemen politik terpisah tegas dari kompartemen moral. Sebagai presiden, Clinton bertanggung-jawab terhadap keamanan negara dan kemakmuran ekonomi tetapi tidak bertanggung-jawab terhadap penisnya sendiri. Bahkan tidak pula dianggap bertanggung-jawab untuk memberikan teladan moral dan akhlak yang baik kepada anak-2 sekolah yang dididik untuk selalu membanggakan the President of the United States!. Memang merupakan hal yang tidak benar, tetapi itulah konsekuensi logis dari negara berpaham sekuler. Oleh karena itu pula pembelaan Clinton justru tidak mengandalkan pernyataan-2 jujur di depan pengadilan melainkan dengan aksi-2 pengamanan negara seperti pemboman rakyat tak berdosa di Irak. Bisa ditarik kesimpulan bahwa sistem sekuler merupakan surga bagi industri dan pejabat pemerintah tetapi neraka bagi rakyat lemah. PEMIHAKAN HUKUM DAN PEMERINTAHAN TERHADAP INDUSTRI Pemihakan hukum dan pemerintahan terhadap industri dan ambrolnya moral pejabat pemerintah bukanlah satu-2nya konsern dari masyarakat di negarA sekuler. Sistem peradilan pidana yang memberikan jaminan kesejahteraan terhadap pelaku kejahatan tetapi menyia-nyiakan pihak korban dan keluarganya merupakan pula sumber keprihatinan masyarakat disini. Disamping itu kultur kekerasan dan alkohol abuse yang bertanggung-jawab terhadap begitu banyak pembunuhan dan kecelakaan fatal lalulintas; sistem bisnis yang semakin berdasar kepada gambling dan spekulasi; perbankan yang rakus, legalisasi lifestyle yang bizzare yang mengancam nilai-2 kekeluargaan, dst, dst, adalah beban nyata sehari-hari yang dihadapi oleh masyarakat demokrasi sekuler. GEREJA DENGAN STRATEGI APOLOGYNYA Gereja telah lama mengidentifikasi keresahan masyarakat negara demokrasi sekuler, oleh karena itu dengan strategi apologynya mereka berharap bisa merebut kembali kepercayaan dari masyarakat barat. Namun tidak saja pertobatan mereka terlihat cekak dan tak tulus, melainkan juga tidak menyentuh pada persoalan-2 pokok yang ada. Sehingga atas pinangan Gereja untuk rujuk kembali, masyarakat disini menjawab: "in your dreams". Disamping itu, sampai hari ini pemerintah Canada misalnya masih harus membayar kompensasi kepada penduduk native atas perbuatan Gereja yang melakukan cultural, physical and sexual abuse di sekolah-2 residential. Ketika revolusi industri berdampak pada eksploitasi kelas proletar, manifesto komunisme dari Karl Marx dan Friederich Engels pernah menjadi harapan kaum tertindas. Namun dengan praktek intimidasi dan kekerasan terhadap rakyat sendiri dan propaganda anti kehidupan beragama, paham komunis tidak lagi dipikirkan sebagai pilihan alternatif. MASYARAKAT INDONESIA MASIH PUNYA ALTERNATIF BARU Berbeda dengan masyarakat barat yang terjerat oleh sekulerisme dan terhadang oleh paham non-sekuler theokratis Gereja yang telah terbukti lebih parah, masyarakat Indonesia masih memiliki jalan yang terbuka untuk menjangkau suatu alternatif baru. Mayoritas penduduk yang Muslim dan tradisi keIslaman yang hidup ditengah masyarakat, secara alamiah telah menyajikan Qur'an, Hadits dan Syaria sebagai suatu alternatif dari dasar negara Indonesia yang demokratis non-sekuler. Secara nalar Syaria akan mampu memandu masyarakat Indonesia untuk bebas dari konspirasi penumpasan kaum Marsinah dan menuju ke masyarakat yang beradab dan bertakwa kepada Allah. Meskipun demikian, realisasinya sangat tergantung kepada kualitas intelektual, moral dan spiritual dari pemimpin-2 Muslim Indonesia sekarang ini. Wassalamu'alaikum Eko W Raharjo University of Calgary [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 27 Mar 2000 jam 07:15:29 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
