----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Republika, 20 Maret 2000

Gus Dur ke Australia?
Oleh: Dr Nasir Tamara MA

Hubungan Indonesia-Australia hampir setahun ini telah mencapai
titik yang paling rendah. Padahal di zaman Soeharto-Keating
]hubungan kedua negara begitu mesra. Berbagai usaha telah
dilakukan oleh Pemerintah Australia untuk memperbaikinya baik di
zaman Presiden BJ Habibie maupun sekarang.

Delegasi Australia-Indonesia Institute (AII) yang berkunjung ke
Presiden Abdurrahman Wahid pekan lalu adalah bagian dari usaha
informal Australia untuk mengembalikan lagi hubungan yang mesra
seperti dulu. Setelah pertemuan, ada harapan dari delegasi bahwa
Presiden akan bersedia mengunjungi Negara Kanguru itu pada Mei
tahun ini.

John Reid AO, seorang pengusaha yang dulu lama bisnis di
Jakarta, kini memimpin Australia-Indonesia Institute, sebuah
lembaga yang didirikan tahun 1989. Meskipun dibiayai oleh
Department Of Foreign Affairs and Trade (DFAT), organisasi ini
berusaha bersikap independen.

Tujuan lembaga ini antara lain untuk mempererat hubungan
Indonesia Australia melalui 'the promotion in Australia of a
greater understanding of Indonesia and by the promotion in
Indonesia of a greater understanding of Australia',

Proram AII cukup luas, mencakup media, pemuda dan olahraga,
visual, kesenian, iptek, bahasa dan kebudayaan Indonesia,
kebudayaan Australia, dan studi bahasa Inggris serta yang
terbaru adalah "Civil Society'. Dana yang disediakan per tahun
sebesar satu juta dollar Australia.

Dalam jamuan makan malam bersama pimpinan media di Jakarta,
tampak perbedaan pandangan terbuka antara wakil pemerintah di
organisasi itu dengan beberapa anggota lainnya. John Dauth LVO,
pejabat tinggi di Deplu Australia, terkesan "kasar dan angkuh"
dalam sikap dan pernyataan-pernyataannya. Dia tidak mengerti
mengapa Indonesia mesti murka terhadap Australia? Apakah ini
cerminan dari bosnya yang juga sikapnya begitu naif. Ataukah
karena ada "input' dari para pejabat seperti dia maka PM
Australia membuat kesan yang arogan itu?

Sebaliknya, para anggota AII yang bukan dari pemerintah tetapi
terdiri atas orang bisnis, akademisi, profesional, budayawan,
wartawan, terlihat lebih memahami nuansa-nuansa sebab-sebab
amarah besar di pihak Indonesia. Mungkin karena pendekatan
mereka adalah pada hubungan antara "people to people". Dan,
kepedulian mereka adalah pada hubungan jangka panjang Indonesia.

Sikap dingin Indonesia baru dimulai dengan kekecewaan terhadap
sikap Australia dalam menangani masalah Timor Timur melalui
pamer kekuatan senjata. Ditambah lagi dengan kesan ikut campur
dalam berbagai usaha disintegrasi wilayah termasuk pula
pengintaian wilayah Indonesia melalui udara. Ternyata kemudian
dari studi tiga negara ('Transition Indonesia: Perspectives of
American, Japanese, and Australian Observers'), apabila
Indonesia pecah maka ketiga negara itu akan dirugikan. RRC yang
akan mendapat keuntungan.

Ironisnya pula,ternyata bahwa yang menikmati keuntungan besar
dari penyelesaian Timor Leste adalah Portugal. Negara mantan
penjajah yang sumbangan dan pengorbanannya bagi kepentingan
bangsa Timor kecil sekali dibanding Australia. Mata uang Timor
Leste dan bahasa mereka akan disamakan dengan Portugal yang jauh
di sana. Sementara Australia telah mengorbankan hubungan
strategisnya yang begitu penting dengan Indonesia.

Maka, kunjungan Kepala Negara RI ke Canberra akan dimanfaatkan
oleh Australia sebagai suatu momentum untuk membangun kembali
hubungan RI-Australia. Yang sejak Abdurrahman Wahid menjadi
Presiden terkesan sengaja dilupakan. Terbukti dari tiadanya
Australia dalam daftar kunjungan kerja beliau ke beberapa puluh
negara, termasuk yang begitu kecil dan tak punya hubungan
strategis dibanding tetangga selatan kita. Mungkinkah itu
setelah kunjungan ke Libya dan Cuba? Hanya beliau yang tahu.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 27 Mar 2000 jam 04:32:57 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke