----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 10/III/27 Maret-2 April 2000
- --------------------------------

ISEMINASI ULANG TRAUMA KOMUNIS

(POLITIK): Komunisme bisa subur kembali ke Indonesia andai Tap MPRS yang
melarangnya dicabut. Bagaimana caranya? Kepulangan orang-orang di luarnegeri
pun ditolak.

Mari bertrauma ria". Begitu bunyi 'iklan layanan masyarakat' di balik
sehimpun kekhawatiran elit politik dan pimpinan organisasi massa terhadap
kemungkinan tumbuh ulang eksisitensi komunisme. Tap MPRS tahun 1966 tentang
Pelarangan Partai Komunis Indonesia (PKI) pun diwanti-wanti jangan dicabut.
Alasannya, masyarakat Indonesia masih trauma dengan sepak terjang kaum
komunis. Tambahan, "ajaran komunis harus tetap dilarang di Indonesia," tukas
Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo KH Maksum.

Suara-suara senada berdatangan dari DPR dan mantan para perwira TNI. Gagasan
Presiden Abdurrahman Wahid agar peristiwa holokaus pasca G30S diungkap
ditolak. Ketua DPR Akbar Tanjung khawatir, "nanti kasus sebelumnya juga
minta dibuka". Malah Koordinator Kontras, Munir mempertanyakan kesiapan
masyarakat bila persidangan kasus tersebut digelar. Menurut Munir mengungkap
peristiwa pembunuhan masal 1965 dirasa masih riskan.

Belakangan, kemungkinan pulang para political exile Orde Baru dari
luarnegeri ikut-ikutan ditangkal. Paling tidak hingga kotroversi soal ini
mereda. Padahal pemerintah, melalui Menkumdang Yusril Ihza Mahendra dan
Men-HAM Hasballah M. Saad terlihat tengah mencari upaya memulangkan mereka.
Keduanya telah melakukan lawatan ke Belanda guna bertemu muka langsung,
Januari lalu. Tidak ada tentangan berarti kala itu. Masyarakat seperti
bersikap monggo kerso.

Lantas kenapa kini muncul kebalikan? Belakangan sebagian orang menaruh
curiga pada permintaan maaf Presiden. Pasti ada ruang di balik pintu dari
pernyataan itu. "Jangan-jangan Gus Dur sendiri punya kekhawatiran serupa".
Ada sedikit ngeri pemerintahan populisnya ditempel atau disusupi
kecenderungan komunis. Laun tapi pasti orang tidak lagi menganggap komunisme
suatu "barang berbahaya".

Betapapun, ambruknya rejim komunis di banyak negara tidak sama dan sebangun
dengan kematian cita-cita komunisme. Masyarakat tanpa kelas, masyarakat adil
nihil eksploitasi. Masyarakat di mana negara adalah institusi masa lalu.
Alias: masyarakat tanpa negara. Tumbangnya negara-negara komunis di hadapan
kapitalisme dibaca sebagai semata kegagalan di tingkat strategi. Bersebab
dari kesalahan interpretasi prinsip-prinsip Marxisme yang dipraktekkan
menjadi etatisme.

Bisa jadi ada benarnya. Mana ada cita-cita menyurut padam? Seorang remaja
gagal menjadi bintang sinetron bukan lantas cita-citanya yang disalahkan.
Pasti karena ia kurang berlatih, kurang menarik, atau kurang mencari
pengetahuan ke-sinetron-an. Bisa juga lantaran akses ke produser lemah dan
sebagainya. Andaikan kesalahan remaja tadi menjadi bahan pelajaran remaja
lain niatan membintangi sinetron bisa saja bukan khayalan.

Orang-orang NU, bahkan Gus Dur bukan tak menangkap analogi semacam. Apalagi
perseteruan NU-PKI lebih dari sekedar sebab "PKI mencoba melakukan kudeta".
Sejatinya dimensi ideologis amat kuat mengakar kental. Tidak terutama faktor
RPKAD (sekarang Koppasus) sukses memprovokasi. Meski peran elemen Angkatan
Darat ini tidak kecil dalam melatih, mempersenjatai dan 'mempersilahkan'.
Konflik di antara kedua partai telah terjadi sejak lama. Program pemerataan
kepemilikan tanah oleh PKI dianggap merugikan NU. Buntut-buntutnya ajaran
materialisme komunis balik dimaklumatkan sebagai atheis oleh para kyai.

Simak saja tudingan KH Jusuf Hasjim, mantan Komandan Banser Pusat pada kurun
1965. "Saya ini mengalami sendiri, orang-orang komunis lebih dulu menyerang
orang Islam". Kakak Gus Dur ini menyebut beberapa peristiwa "penyerangan"
semenjak Peristiwa Madiun 1948. "Kiai-kiai mereka bunuhi waktu itu,"
tandasnya. Sebagai Komandan Banser Kiai Hasjim tidak menyangkal menggerakkan
santri NU untuk melakukan "pembalasan".

Cuma, apa iya Gus Dur yang dikenal sebagai intelektual punya kengerian
seperti kiai-kiai dan santri lainnya? Punya kebiasaan menyirami pohon
traumatik politik seperti pemerintahan Orde Baru dan sederet angkatan militer?

Munir memahami pernyataan Gus Dur sebagai menggali kenyataan masyarakat.
Terutama para elit politiknya, tentu saja. Dari situ, "Gus Dur mencari tahu
apakah rekonsiliasi bisa berlangsung mulus atau tidak".

Menilik beberapa literatur sejarah "tak resmi" seputar peristiwa tersebut
memang mengerikan. (Naskah "sejarah resmi" di sekolah tak satu pun
menyebutkan). Ratusan ribu --ada menyebut jutaan- orang digelandang ke
lapangan atau pinggir sungai. Di sana nasib mereka sudah bukan lagi
ditentukan oleh Tuhan. Melainkan arah tajam mata parang dan senjata lainnya
di genggaman para eksekutor. Hermawan Sulistiyo melukiskan Kali Brantas
seperti disepuh merah. "Tiap pagi saya menyaksikan mayat-mayat mengapung".

Satu 'sukses' pemerintah Orde Baru terbukti. Melumuri tangan banyak orang
dengan darah lewat satu peristiwa. Maka, menyingkap kasus pasca G30-S dapat
menggugah kepentingan banyak pihak. Reka cipta trauma politik terhadap
komunisme boleh dibilang gemilang besar. Rekonsiliasi bisa jadi terapi bisa
juga pembuahan ulang. Tergantung pendekatan yang digunakan. Sebatas
mengatasi simptom atau langsung ke sumber masalah.

Pastinya, suatu terapi mental disorder tak berniat melenyapkan peristiwa
trauma dari ingatan. Melainkan menerima sebagai peristiwa yang memang pernah
terjadi di masa lalu dan perlu penjelasan. (*)

- -----------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- ------------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 28 Mar 2000 jam 06:58:27 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke