----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

MUHAIMIN NILAI YUSRIL IHZA MAHENDRA NAIF

        JAKARTA, (SiaR, 15/4/2000). Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar menilai
tindakan Menkumdang Yusril Ihza Mahendra yang menantang Presiden
Abdurrahman Wahid untuk berdebat soal pencabutan Tap MPRS No. XXV/1966
sebagai naif karena ingin sekadar mencari popularitas.

        "Ngapain berdebat. Saya kira Yusril cari popularitas. Naiflah sebagai
menteri kok cari popularitas dengan cara menantang presidennya
(berdebat). Itu kan naif," ujarnya kepada para wartawan di gedung DPR,
Selasa (11/4) kemarin.

        Menurut Muhaimin masih banyak cara lainnya untuk mencari popularitas
diri, tetapi bukan dengan cara seorang menteri menantang presidennya
berdebat. Bagi Muhaimin yang juga Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa
(PKB) itu, baik Gus Dur maupun Yusril sebagai eksekutif tidak berhak
menentukan soal perlu tidaknya pencabutan Tap MPRS No. XXV/1966,
karena yang berhak untuk itu adalah MPR sebagai badan legislatif.

        "Kita-kita yang ada di MPR yang seharusnya berdebat, jangan menteri
dengan presidennya dong. Itu hak kami di MPR untuk berdebat soal itu.
Itu kalau ngerti konstitusi," katanya. Yusril sendiri merupakan Guru
Besar UI bidang hukum tata negara.

        Muhaimin menganggap Yusril sebagai seorang menteri tidak tahu aturan,
ketika menyatakan siap menantang Gus Dur untuk berdebat. "Mestinya
soal Tap MPR itu kan soal MPR, kalau Yusril (yang saat ini juga Ketua
Umum Partai Bulan Bintang -red) tidak setuju terhadap gagasan
pencabutan Tap MPRS No. XXV/1966) mengapa minta berdebat dengan
presiden. Suruh saja ketua fraksi PBB di MPR membuat argumentasi
penolakan dan segala macam," ucapnya.

        Ia menambahkan, kalau Yusril ingin berdebat, maka baiknya ia
menantang berdebat anggota MPR saja.

        Sementara itu, pengamat politik UI Arbi Sanit mensinyalir, sikap
Yusril itu sebagai manifestasi penolakan Poros Tengah terhadap wacana
yang dilemparkan Gus Dur. Yusril, lanjut Arbi, ketika melontarkan
tantangan tersebut, tidak menempatkan dirinya sebagai menteri yang
pembantu presiden, tapi sebagai tokoh Poros Tengah.

        "Itulah susahnya kalau kabinet dibangun atas dasar kompromi-kompromi,
jaminan-jaminan, dan politik dagang sapi. Kan baru terasa sekarang
ini. Termasuk juga soal isu perlu tidaknya resuffle kabinet.
Semestinya dulu, kita semua dewasa dalam berpolitik untuk memberi
kesempatan pertama kepada pemenang pemilu untuk memerintah. Yang
lainnya ya jadi oposan yang baik," kata Arbi panjang lebar. ***

- ------------------------
SiaR WEBSITE:
http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 16 Apr 2000 jam 06:50:25 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke