---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- BRIGJEN EDDI BUDIANTO CALON KASDAM SILIWANGI JAKARTA, (TNI Watch! 15/4/2000). Sesaat seusai pembubaran Bakorstanas, Panglima TNI Laksamana Widodo AS mengatakan, bagi perwira yang berpangkat pati dan kolonel, akan menjadi tanggung jawab Panglima TNI. Janji Panglima tersebut, segera diberlakukan kepada Brigjen TNI Eddi Budianto, mantan Kepala Sekretariat Bidang Umum Bakorstanas. Karena Brigjen Eddi Budianto rencananya akan ditempatkan di Bandung, sebagai Kasdam III/Siliwangi. Jadi Brigjen Eddi bisa bernafas lega, tak perlu "diparkir" terlalu lama di Mabes TNI. Brigjen Eddi adalah salah satu perwira terbaik dari generasi baru TNI. Pendidikannya pun meyakinkan, Sesko-nya ia selesaikan di Amerika Serikat (Fort Leavonworth, Kansas). Demikian juga dengan bidang intelijen, yang diperoleh saat mengikuti kursus intelijen di Arizona. Saat mengikuti pendidikan Seskoad di Amerika, pengiriman Mayor Inf Eddi Budianto terbilang kasus unik. Karena dia adalah perwira generasi terakhir dari AD, yang belajar di Amerika, dalam program IMET. Setelah generasi Mayor Eddi, tidak ada lagi perwira militer Indonesia yang belajar di sana, sehubungan AS memutuskan program IMET karena kasus Timor Timur. Namanya mulai dikenal publik, saat masih berpangkat letkol, ia diangkat sebagai Komandan Garuda XIV ke Bosnia Herzegovina, dalam misi UNPROFOR (United Nations Protection Force), pada tahun 1993. Pada tahun 1996, namanya "muncul" kembali, ketika Kolonel Budi dipercaya sebagai pembaca "Sapta Marga" pada Hari ABRI ke 51 di Parkir Timur, Senayan, Jakarta. Saat itu (1996), jabatan sehari-harinya adalah Danrem 061/Suryakencana, Bogor. Brigjen Eddi Budianto lahir di Magelang, 21 Oktober 1950. Ia lulus dari Akabri (Darat) tahun 1974. Setelah lulus Akmil, Eddi bertugas di Yonif 201/Jaya Yudha selama lima tahun. Dalam kesatuan inilah, Eddi terjun dalam Operasi Seroja Timtim. Tahun 1985, Eddi mengikuti pendidikan di Arizona. Sepulangnya dari Arizona, Eddi bertugas di Satgas Intel Kopkamtib (1985-1988). Pada tahun 1989, Eddi kembali bertugas di pasukan, saat menjadi Komandan Yonif 113/Jaya Sakti, Bireun, Aceh. Saat bertugas di Aceh inilah, ia mengikuti Sesko di Amerika. Tak lama setelah kembali ke tanah air, Eddi dipercaya sebagai Dan Konga XVI, kontingen yang berfungsi sebagai military observer. Seusai dari Bosnia, Eddi kembali bertugas di Jakarta, tepatnya sebagai Asops Kasgar I/Ibu Kota. Kemudian pada Juli 1995, ia kembali ke pasukan, dengan menjadi Komandan Brigif 1/Jaya Sakti. Sekitar setahun kemudian, ia dipindahkan ke Bogor, selaku Danrem setempat. Selepas menjabat Danrem Bogor, Kol Inf Eddi ditarik ke Bakorstanas, dengan posisi sebagai Kepala Sekretariat Bidang Umum Bakorstanas, pada Juni 1998. Dengan jabatan ini, sekaligus Eddi memperoleh promosinya sebagai Brigjen. Kalau melihat tahun kelulusan Eddi dari Akmil, yakni tahun 1974, orang akan mengasosiasikan dirinya dengan Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto, yang juga lulusan Akmil 1974. Perkiraan itu tidak terlalu meleset, mereka berdua memang berkawan akrab. Namun pertemanannya dengan Prabowo, dari segi politik, tidak terlalu mengkhawatirkan, karena kenyataannya mereka memang teman sejak lama di Akmil. Justru yang dikhawatirkan dari Eddi, adalah "persahabatannnya" dengan kalangan non-militer, dalam hal ini adalah dr. Hariman Siregar, mantan tokoh gerakan mahasiswa, yang kini sedang mencari identitas dan pijakan baru. Jangan sampai Brigjen Eddi "tertelan" bujuk rayu dari mulut berbisa Hariman. Meski berteman akrab, diharapkan Eddi bisa mengambil jarak dengan Hariman, terutama bila Hariman ada gelagat politicking. Asal tahu saja, soal politicking, Hariman adalah jagonya. Eddi dan Hariman sudah berteman sejak remaja, sebagai sesama anak keluarga elite di Jakarta. Selain itu, Eddi juga lumayan berteman dekat dengan "raja preman" RM Yapto Suryosumarno, seorang keturunan Yahudi, tokoh Pemuda Pancasila, ormas pemuda yang kini sudah mulai dilupakan, karena terlalu "jenaka". Perilaku Yapto dan PP yang sering bikin onar, kini "diteruskan" oleh anaknya, yaitu RM Sahid Abisholom (Abi). Demikianlah untuk diperhatikan Brigjen Eddi Budianto, agar berhati-hati berteman, demi karir anda di masa depan. Kedekatan Eddi dengan Prabowo, masih bisa ditolerir. Namun masyarakat akan menyayangkan, bila Eddi terlalu dekat dengan Hariman dan Yapto. Selamat bertugas Brigjen Eddi Budianto, jangan lupa ambil jarak dengan Hariman dan Yapto. *** _______________ TNI Watch! merupakan terbitan yang dimaksudkan untuk mengawasi prilaku TNI, dari soal mutasi di lingkungan TNI, profil dan catatan perjalanan ketentaraan para perwiranya, pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan, politik TNI, senjata yang digunakan dan sebagainya. Tujuannya agar khalayak bisa mengetahuinya dan ikut mengawasi bersama-sama. - ------------------------ SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 16 Apr 2000 jam 07:05:19 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
