---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- POLISI TAK MAMPU HADIRKAN TENTARA YANG TERLIBAT 27 JULI 1996 JAKARTA, (SiaR, 18/4/2000). Mabes Polri gagal menghadirkan mantan pejabat dan aparat militer yang trerlibat dalam penyerbuan kantor DPP PDI, Jl. Diponegoro 27 Juli 1996. LGagalnya pemanggilan tersebut, menurut Kadispen Polri Brigjen Pol Dadang Garnida karena sikap Mabes TNI yang tidak pro-aktif dalam masalah ini. Alasan yang dikemukakan oleh Mabes TNI tidak jelas, seperti yang dikemukakan Wakapuspen TNI Brigjen Tono Suratman kepada Dadang. Secara spekulatif pihak Mabes TNI mengatakan, ketidakhadiran anggotanya karena mungkin ada halangan atau sedang sakit Menurut rencana, Senin (17/4) itu mantan petinggi militer dan aparat militer dipanggil Mabes Polri dalam rangka penyidikan kasus 27 Juli. Mereka yang diperiksa itu antara lain Mayjen (Purn) Syamsir Siregar mantan KaBIA, Kolonel Syamsiar, Kolonel Haryanto, Kolonel Marinir Rusli, Kapten Soeharto dan Serma Yatiman. Sementara itu dalam perkembangannya, penyidikan kasus 27 Juli telah menyeret ketua Pemuda Pancasila Yorrys Raweyai sebagai tersangka. Namun sejumlah petinggi dan mantan petinggi negeri ini belum disentuh sama sekali. Mereka antara lain, mantan Panglima ABRI Jenderal (purn.) Feisal Tanjung, mantan Kassospol ABRI Letjen (purn.) Syarwan Hamid, mantan Kapolri Jenderal Dibyo Widodo, mantan Kapolda Metro Jaya Mayjen Hamami Nata serta mantan Pangdam Jaya yang kini menjadi Gubernur DKI Jakarta Letjen (purn.) Sutiyoso. Bahkan Sutiyoso bagai the untouchable atau orang yang tak tersentuh. Padahal, semua orang tahu pada waktu terjadi penyerbuan terhadap markas PDI itu, Sutiyoso yang masih menjabat sebagai Pangdam Jaya, adalah penanggung jawab keamanan ibu kota. Nyatanya, ia tidak "diapa-apakan." Setelah Presiden Soeharto mundur digantikan Habibie, ia malah menjadi Gubernur DKI menggantikan Surjadi Sudirdja, hingga saat ini. Ketidakberanian polisi memanggil orang-orang tersebut untuk disidik, hal itu akan semakin meyakinkan bahwa Soeharto tak akan tersentuh. Padahal, waktu itu menurut sumber-sumber istana, melalui sekretaris militernya Mayjen. Saukat Banjaransari, Soeharto sengaja memotong garis komando militer ABRI dan memilih sendiri personil-personil yang dapat dilibatkan dalam operasi penyerbuan kantor PDI itu.*** - ------------------------ SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 19 Apr 2000 jam 01:49:49 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
