----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

JENDRAL FAISAL, LETJEN SYARWAN DAN LETJEN SUTIYOSO BELUM TERSENTUH

        JAKARTA, (SiaR, 25/4/2000). Jenderal (Purn) Feisal Tanjung, Letjen
(Purn) Syarwan Hamid, Letjen (Purn) Sutiyoso merupakan pejabat yang
disebut-sebut sejumlah saksi ikut bertanggung jawab dalam peristiwa 27
Juli 1996. Sebab menurut para saksi, ketiganya waktu peristiwa
mempunyai posisi penting dalam pengambilan keputusan keamanan negara.
Yaitu Jenderal Feisal Tanjung sebagai Panglima ABRI, Letjen Syarwan
Hamid menjabat Kassospol ABRI dan Mayjen Sutiyoso menjabat sebagai
Pangdam Jaya.

        Keterlibatan para pejabat penting itu juga dipertegas oleh mantan
Kepala Staf Umum ABRI Letjen TNI (Purn) Soejono kepada pers. Karena
menurut Soejono yang dipecat dari Kasum karena tidak mau terlibat
dalam pengambil-alihan kantor DPP PDI Jl Diponegoro itu, persoalan
pengambil-alihan kantor DPP sudah dibicarakan di tingkat pemerintah.

        Pengambilalihan kantor itu merupakan kelanjutan dari skenario merebut
kepemimpinan PDI dari tangan Megawati Soekarnoputri oleh Soerjadi
melalui konggres Medan. Dan, salah satu keputusan kongres tersebut,
DPP PDI terpilih yang dipimpin Soerjadi harus merebut kantor yang
dikuasai massa Megawati tersebut. Sementara itu konggres Medan
jelas-jelas merupakan skenario pemerintah.

        "Merekalah yang paling bertanggung jawab dalam kasus 27 Juli karena
peristiwa itu tidak terlepas dari konspirasi sospol saat itu," kata
Soejono menjawab pertanyaan wartawan di sela-sela seminar
'Rekonsiliasi Nasional' yang diselenggarakan Forum Wartawan Peduli
Bangsa di Hotel Sheraton Media Jakarta kemarin.

         Wakil Direktur Tindak Pidana Umum (Wakadir) Mabes Polri Kol Makbul
Padmanegara, mengatakan, ketiga orang mantan pejabat tersebut memang
akan segera disidik oleh Polri. Tetapi pemanggilan ketiganya hanya
sebatas sebagai saksi. Juga sejumlah perwira Kodam Jaya lainnya
seperti, Kapten Hadi Purwono dari Brigif I Kodam Jaya dan Lettu
Suharto serta Serma Rusli. Bahkan menurut Kadispen Polri Brigjen
Dadang Garnida, Mayjen Sutoyo NK, mantan Dirjen Sospol Depdagri dan
Kepala staf Sospol ABRI Mayjen Suwarno Adiwijaya, juga diperiksa
penyidik Mabes Polri dalam kasus tersebut.

        Sementara itu sejumlah aktifis PDI perjuangan maupun aktifis PRD
menilai, otak operasi peristiwa ini adalah Soeharto. Sehingga Soeharto
juga harus diadili sebagai tersangka utama.

        Syarwan Hamid sempat marah ketika dikonfirmasi wartawan tentang
keterlibatannya dalam peristiwa 27 Juli. "Saya tidak mau bicara soal
itu," kata Syarwan kesal.

        Di jaman Soeharto, penyidikan kasus 27 Juli justru ditujukan kepada
korban peristiwa itu, bahkan menciptakan kambing hitam yaitu PRD
sehingga aktifisnya banyak dipenjara karena peristiwa ini. Menurut
Syarwan Hamid waktu itu, PDI dijadikan sebagai "Kuda Troya" oleh
kelompok-kelompok komunis yang dipelopori Partai Rakyat Demokratik
(PRD) dengan berbagai faksinya yang dapat dipersamakan dengan PKI
jaman Orde Lama. PRD menggunanan: Kalangan Kampus melalui Solidaritas
Mahasiswa untuk Demokrasi yang identik dengan CGMI. Kalangan Budaya
melalui Jaringan Kesenian Rakyat yang identik dengan LEKRA. Kalangan
Buruh melalui Pusat Perjuangan Buruh Indonesia yang identik dengan
SOBSI. Kalangan Tani melalui Serikat Tani Indonesia yang identik
dengan BTI. Serikat Rakyat Indonesia yang identik dengan Gerwani.
Disamping itu Syarwan mengatakan PRD mempunyai Manifesto Politik yang
jika dicermati sama dengan Manifesto Komunis sebagai kebijakan dan
tujuan dasarnya.

        "Dengan melihat fenomena yang dimotori oleh PRD ini, Pemerintah dan
ABRI menilai adanya rencana embrio dasar suatu kudeta berdasarkan
beberapa alasan: Forum mimbar bebas yang bermaksud untuk membangun
opini terhadap pemerintah. Aksi unjuk rasa yang berusaha memancing
tindak kekerasan aparat keamanan. Spanduk-spanduk bertuliskan
kata-kata yang menyebarkan kebencian terhadap pemerintah," kata
Syarwan dihadapan para duta besar di Jakarta tanggal 5 Agustus 1996.
***

- --------------------------
SiaR WEBSITE:
http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 26 Apr 2000 jam 09:39:39 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke