----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

SYARWAN HAMID TENTANG 27 JULI 1996

        JAKARTA, (SiaR, 25/4/2000). Tanggal 5 Agustus Kasospol ABRI Letjen
TNI Syarwan Hamid memberikan penjelasan tentang peristiwa 27 Juli di
depan para Dubes negara sahabat. Penjelasan itu sekarang tersimpan
rapi dalam situs Departemen Luar Negeri. Berikut salinan lengkap
dokumen itu seperti dimuat detikcom.

Pokok-Pokok Penjelasan Kasospol ABRI:
1. Kasospol dalam pengantarnya menyatakan bahwa era
globalisasi/transparansi sekarang ini bagi bangsa yang sedang
membangun merupakan ambivalensi karena di satu sisi memberikan peluang
baru bagi akselerasi/distribusi hasil-hasil pembangunan dan di sisi
lain merupakan tantangan yang menimbulkan iritasi terhadap tatanan
nasional bangsa Indonesia. Disinilah sebenarnya letak bahaya laten
komunisme yang tidak akan pernah berhenti sampai tujuannya tercapai.

2. Meskipun Imperium USSR sudah hancur dan dilanjutkan dengan
menyebarnya era globalisasi, bahaya laten komunisme belum berakhir.
Negara-negara tertentu seperti China, Cuba dan Korea Utara tetap
mengibarkan bendera komunisnya. Kondisi-kondisi tertentu di Indonesia
masih memungkinkan komunisme hidup lagi. Berdasarkan TAP MPRS
XXV/MPRS/1966 tanggal 5 Juli 1966 secara resmi komunisme telah
dilarang hidup di Indonesia. Larangan tersebut ditetapkan tidak secara
"apriori" setelah Indonesia mengalami dua kali pemberontakan PKI yang
bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

3. Paham komunisme menyebarkan benih perpecahan dan permusuhan yang
bertentangan dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan berbahaya bagi
persatuan dan kesatuan bangsa. ABRI menyadari bahwa untuk menghapus
ideologi/alat fikir komunisme tidak semudah menghapus wadah formal
PKI. Sehubungan dengan itu maka kewaspadaan nasional terhadap
bangkitnya kegiatan PKI perlu ditingkatkan dan diperlukan suasana yang
kondusif melalui pembangunan nasional.

4. Berdasarkan pengamatan sejak kira-kira delapan bulan yang lalu,
telah muncul indikasi awal untuk menghidupkan komunisme baik di bawah
permukaan yang merupakan pembentukan metamorfosa dan di atas permukaan
sebagai upaya intensif untuk memperbaiki citra G.30 S/PKI. Hal
tersebut antara lain dilakukan dengan pemutarbalikan fakta melalui
pembentukan opini masyarakat berusia muda di bawah 30 tahun bahwa G.30
S/PKI bukan merupakan penghianat dan tidak pernah melakukan perebutan
kekuasaan. Hal tersebut dapat dilihat dari:

Kecongkakan Pramudya A. Toer yang menyatakan diri tidak bersalah,
ketika menjabat sebagai pengurus LEKRA, melakukan pemberangusan
terhadap karya-karya tulis yang berasaskan Pancasila. Terbitnya memoir
beberapa tokoh PKI serta buku "Dibawah bayang-bayang PKI" serta
tulisan Tokoh-tokoh PKI di Luar Negeri. Penyebarluasan
provokasi/agitasi/selebaran gelap yang menjurus pada SARA seperti yang
terjadi di NTB, Medan, Purwokerta dan Pekalongan serta demonstrasi
yang berkaitan dengan kaum buruh di Jabotabek, Sumatra Utara dan
Surabaya.

5. Mencermati fenomena tersebut, masyarakat diminta untuk tetap
waspada, mawas diri dan memperkuat integritas. ABRI terus mengikuti
perkembangan dengan cermat agar kehidupan masyarakat tidak terganggu.
Namun demikian, fenomena tersebut semakin menguat berbarengan dengan
konflik intern PDI yang mencapai puncaknya pada saat permusuhan
semakin kuat antara kubu Soerjadi dan kubu Megawati yang menunjukan
sikap memaksakan kehendak dan tidak loyal kepada keputusan Kongres PDI
Medan dengan tetap menduduki Kantor PDI yang sah.

Pasca Kongres PDI Medan, Kantor DPP PDI tidak berfungsi sebagaimana
mestinya karena digunakan sebagai mimbar bebas yang tidak sewajarnya
dan dimanfaatkan untuk sarana agitasi dan mendeskreditkan
pemerintah/ABRI beserta aparatnya secara tidak etis dan tidak
bertanggung jawab.

6. Kubu Megawati, disamping memperoleh dukungan dari kalangan internal
PDI, juga memperoleh dukungan antara lain dari PUDI, PIJAR, AJI,
WALHI, GRM, LSM bermasalah dan individu-induvidu yang selama ini
bertentangan dengan Pemerintah.

Melalui dukungan/aliansi tersebut kelompok Megawati semakin kuat
mempertahankan kantor DPP PDI sebagai pusat kegiatannya. Soerjadi yang
merupakan DPP yang sah dan konstitusional bermaksud menghentikan
kegiatan kelompok Megawati dan penyalahgunaannya yang dapat
menimbulkan citra buruk pada PDI dan karena itu bertekad untuk
mengambil alih Kantor DPP PDI sehingga bentrokan fisik antara kedua
kelompok pendukung tidak dapat dihindarkan.

7. Pertanyaan yang muncul adalah, mengapa PDI dijadikan sebagai "Kuda
Troya" oleh kelompok-kelompok tersebut? Jawaban terhadap pertanyaan
ini adalah karena:
        * PDI menyimpan konflik internal yang dapat
          dieksploitasi dan diprovokasi.
        * Visi kepemimpinan PDI mempunyai persamaan
          dengan visi kelompok-kelompok tersebut yang
          dapat diakomodasikan dengan kepentingan
          mereka yang bersifat sementara.
        * PDI merupakan lembaga politik formal,
          sehingga kelompok-kelompok yang bermain
          politik praktis dengan mengatas-namakan PDI
          tidak dicurigai.

8. Diantara kelompok ekstrim tersebut adalah Partai Rakyat Demokratik
(PRD) dengan berbagai faksinya yang dapat dipersamakan dengan PKI
jaman Orde Lama. PRD menggunakan:
        * Kalangan Kampus melalui Solidaritas Mahasiswa
          untuk Demokrasi yang identik dengan CGMI.
        * Kalangan Budaya melalui Jaringan Kesenian
          Rakyat yang identik dengan LEKRA.
        * Kalangan Buruh melalui Pusat Perjuangan Buruh
          Indonesia yang identik dengan SOBSI.
        * Kalangan Tani melalui Serikat Tani Indonesia
          yang identik dengan BTI.
        * Serikat Rakyat Indonesia yang identik
          dengan Gerwani.

Kelima faksi tersebut merupakan basis PRD yang dikembangkan sebagai
suatu kekuatan "People Power" yang basisnya buruh, tani dan nelayan
yang identik dengan PKI. Disamping itu PRD mempunyai Manifesto Politik
yang jika dicermati sama dengan Manifesto Komunis sebagai kebijakan
dan tujuan dasarnya.

9. Dengan melihat fenomena yang dimotori oleh PRD ini, Pemerintah dan
ABRI menilai adanya rencana embrio dasar suatu kudeta berdasarkan
beberapa alasan:
* Forum mimbar bebas yang bermaksud untuk membangun opini
  terhadap pemerintah.
* Aksi unjuk rasa yang berusaha memancing tindak kekerasan
  aparat keamanan.
* Spanduk-spanduk bertuliskan kata-kata yang menyebarkan
  kebencian terhadap pemerintah.
* Selebaran-selebaran yang berisi:
        - Anjuran untuk melakukan mogok nasional;
        - Tahun 1965 sebanyak 2 juta buruh telah
          dibantai/dibunuh oleh Angkatan Darat.
  Selebaran ini jelas dimaksudkan untuk menumbuhkan
  rasa sakit hati/dendam kaum buruh dan permusuhan
  terhadap ABRI.

10. Kekuatan PRD tidak besar, di kampus Yogya kira-kira 100 orang,
Diponegoro 50 orang dan di Jakarta 50 orang tetapi mereka sangat
militan. Demikian pula organisasi buruh yang mendukungnya tidak
terlalu banyak. Namun demikian mereka tidak bisa dibiarkan karena akan
dapat berkembang terus untuk mencapai tujuannya.

11. Pengrusakan tanggal 27 Juli dan upaya teror melalui telpon
(ancaman bom) merupakan bagian dari pola yang dilakukan untuk
menimbulkan ketakutan dan ketidak-percayaan terhadap aparat dan
pemerintah yang sah. Hal ini tidak bisa didiamkan. Situasi sekarang
sudah sepenuhnya dapat dikendalikan.

12. Tindakan yang dilakukan Pemerintah adalah:
* Prioritas untuk mengamankan ibukota negara dan
  kota-kota besar lainnya seperti Medan, Semarang,
  Surabaya dan Bandung yang sekarang situasinya
  sudah terkendali.
* Menemukan tokoh PRD dan otak pengrusakan 27 Juli
  baik secara langsung maupun tidak langsung.
* Mengupayakan agar rakyat Indonesia mengutuk
  gerakan PRD.

13. Tindakan yang dilakukan untuk mengatasi kejadian 27 Juli
berdasarkan hukum yang berlaku dan bahwa kejadian ini bukan merupakan
hal yang luar biasa. Pembangunan demokrasi dan proses keterbukaan yang
telah dilaksanakan selama ini tidak akan terpengaruh oleh kejadian 27
Juli tersebut. Indonesia menghormati demokrasi yang
ditumbuh-kembangkan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

14. Berdasarkan pemberitaan di media massa, nampaknya ada keterkaitan
antara kelompok yang melakukan gerakan tersebut yang dinamakan
"kelompok pelangi" dengan NGOs di luar negeri yang mampu bergerak dari
satu tempat ke tempat lain dan mengerahkan massa yang jumlahnya cukup
besar.

Pokok-Pokok Acara Tanya Jawab
1. Menjawab pertanyaan Dubes Jepang tentang berapa jumlah korban yang
mati dan cedera serta perintah tembak di tempat, dijawab sbb:
Seperti yang telah disampaikan kepada wartawan luar negeri, jumlah
yang meninggal adalah 3 orang, luka ringan 26 orang dan pelaku
pengrusakan yang ditahan sebanyak 171 orang.

Memang tersebar isu tentang dikuburnya 40 orang korban di markas PDI.
Para wartawan telah diundang datang ke tempat lokasi dan tidak
menemukan apa-apa. Selain itu ada pula isu bahwa Megawati mengalami
luka parah, dan ternyata isu tersebut tidak benar. Isu-isu tersebut
dibuat untuk memberikan gambaran buruk pada pemerintah dan ABRI dan
salah pengertian yang merupakan pola-pola yang dikembangkan.

Perintah tembak ditempat yang disampaikan ABRI tujuan utamanya adalah
untuk mencegah tindakan brutal lebih lanjut. Pelaksanaan perintah
tembak ditempat sesuai dengan prosedur dan bersifat selektif yang
dilakukan oleh penembak mahir yang ditempatkan didalam pasukan dengan
sasaran selektif. Penembakan dilakukan dengan peluru karet dan atas
dasar perintah.

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, sewaktu terjadinya "long march"
pendukung Megawati pada tanggal 20 Juni 1996, anggota ABRI memang
diserukan untuk bertindak menahan diri dan jangan sampai jatuh korban
jiwa. Sebagai akibatnya sebanyak 37 anggota pasukan keamanan masuk
Rumah Sakit.

2. Utusan Kedubes Inggris menanyakan tentang briefing dari salah
seorang Deputy BAKIN kepada para Atase Pertahanan di Jakarta hari
Jumat yang lalu yang menyatakan bahwa jumlah yang meninggal adalah 5
orang dan kemungkinan pendukung PRD akan melakukan berbagai kegiatan
di Kedubes-kedubes di Jakarta seperti aksi protes, aksi duduk dan
masuk secara paksa ke Kedubes.

Dalam keterangannya Kasospol tetap menyatakan bahwa jumlah yang
meninggal adalah 3 (tiga) orang. Tentang kemungkinan pendukung PRD
akan melakukan kegiatan tersebut, Kasospol tidak bisa memberikan
klarifikasi dan tidak mengetahui apakah PRD akan mendatangi
Kedubes-kedubes Asing di Jakarta. Namun demikian, diduga bahwa
sebelumnya ada usaha gerakan ini untuk menarik perhatian pihak luar
negeri dan Megawati sendiri selama ini aktif melakukan hubungan dengan
wartawan asing.

Kasospol juga membenarkan pernyataan Dubes Irak bahwa ketiga orang
yang meninggal tersebut bukan merupakan korban tembakan oleh pasukan
ABRI. Perincian yang meninggal adalah: satu orang (pengikut Soerjadi)
meninggal karena serangan jantung; seorang satpam meninggal karena
melompat dari sebuah gedung yang terbakar, dan korban ketiga diketahui
meninggal karena terbakar.

3. Menjawab pertanyaan Dubes Kanada tentang apakah kepada mereka yang
ditahan diberikan akses untuk memperoleh penasehat hukum, Kasospol
menyatakan bahwa pada dasarnya tindakan yang dilakukan dalam
menyelesaikan kasus ini didasarkan pada upaya penegakan hukum. Kepada
mereka yang ditahan dilakukan prosedur sesuai hukum pidana dan kepada
keluarganya diperbolehkan untuk meninjau mereka sepanjang peraturan
yang berlaku.

Pelaku-pelaku di lapangan yang tertangkap basah melakukan pengrusakan
akan diberlakukan hukum positif yang berlaku di Indonesia. Namun
sampai sekarang belum ada satupun yang diproses. Upaya yang dilakukan
sekarang adalah mencoba menemukan tokoh-tokoh pelaku kerusuhan.

4. Dubes Palestina, yang tempat tinggalnya kebetulan berseberangan
dengan kantor DPP PDI pada kesempatan ini menyatakan kesaksiannya
bahwa apa yang terjadi selama 6 minggu berlangsungnya "mimbar bebas"
bukan demokrasi tetapi anarkhi dan proses "brain washing", karena
merasa sangat terganggu dengan kebisingan yang ditimbulkan.

Pada waktu terjadinya peristiwa 27 Juli, dimana banyak para demonstran
yang memasuki halaman Kedubes-nya sambil menyatakan bahwa ini
merupakan gerakan Intifadah, ybs menegaskan bahwa gerakan Intifadah
adalah untuk menentang kaum Jahudi bukan untuk melawan ABRI.
Disampaikan pula bahwa selama kejadian 27 Juli tak satu pelurupun
terdengar diletuskan.

5. Menjawab pertanyaan utusan Kedubes Korea Selatan tentang berapa
unit gas air mata yang digunakan dalam kejadian 27 Juli tersebut,
Kasospol menjelaskan bahwa ABRI tidak mempunyai cukup banyak sarana
untuk gas air mata dan sebagian yang dimiliki sekarang dibeli dari
Korea Selatan.

Demikian pula halnya dengan alat-alat pengendalian huru hara ABRI
tidak banyak memilikinya sehingga banyak prajurit ABRI yang terluka.

6. Dubes Vatikan, berkaitan dengan isu komunisme, mengajukan
pertanyaan apakah ada kesan bahwa situasi Indonesia sekarang sama
dengan situasi tahun 1965, dan apakah upaya yang dilakukan untuk
mengatasinya adalah dengan memerangi komunisme itu sendiri atau
kondisi yang membuat subur paham komunisme. Kasospol, sebagai seorang
perwira ABRI yang pernah dididik mengenai subversi komunis, menyatakan
sbb:

Situasi tahun 1965 secara kualitas tidak dapat disamakan dengan
keadaan sekarang, tetapi fenomena yang disimak sejak setahun terakhir
ini mempunyai kemiripan yaitu digunakannya teori kontradiksi dengan
mengangkat isu pertentangan antar umat beragama, kaya miskin, buruh
majikan serta adanya upaya-upaya yang dilakukan untuk memojokkan
posisi pemerintah dan melecehkan pemerintahan yang sah. Disamping itu
ada kesan tentang upaya untuk menggambarkan G 30S/PKI tidak seperti
gambaran dalam sejarah yang dibuat pemerintah. Juga ada upaya untuk
mencabut UU anti Subversi yang dianggap sebagai kendala bagi gerakan
kelompok-kelompok ini. Untuk mengatasi hal ini ABRI tidak ingin
melakukan tindakan represif.

Indonesia sedang berada dalam proses membangun bangsa dimana
kemajuan-kemajuan yang dicapai juga dibarengi dengan adanya
kesenjangan-kesenjangan yang sangat peka untuk diadu-domba, dan
kesenjangan sosial ekonomi merupakan lahan yang subur bagi tumbuhnya
komunisme. Sementara itu bekas anggota PKI yang masih hidup tidak
dengan sadar menghilangkan idealismenya dan kelompok muda muncul
mungkin bukan disebabkan karena idealisme tetapi karena dendam.

Upaya-upaya yang dilakukan ABRI antara lain dengan masuk kampus dan
berdialog dengan para cendekiawan, dialog dengan para pemuka agama dan
dengan kelompok masyarakat agar mereka tetap waspada terhadap bahaya
komunisme. ABRI yakin bahwa salah satu upaya untuk mencegah
berkembangnya marksisme-komunisme adalah melalui penolakan masyarakat.
Jika dalam pelaksanaannya ada kesan bahwa ABRI bertindak represif, hal
itu bukan merupakan pola umum ABRI.

7. Menjawab pertanyaan utusan Kedubes Belanda tentang rumor
orang-orang hilang, Kasospol menyatakan bahwa sejak kejadian 27 Juli
banyak rumor yang dilancarkan untuk menimbulkan rasa resah,
intimidasi, teror dan untuk menumbuhkan rasa tidak percaya kepada
pemerintah. Rumor itu tidak benar. Seandainyapun ada yang dinyatakan
hilang adalah anggota PRD yang setelah kejadian 27 Juli tidak kembali
karena bersembunyi dan takut ditangkap. Fenomena orang yang tidak
berada di tempat tidak bisa dikacaukan dan dikaitkan dengan korban
kejadian 27 Juli.

8. Penyampaian keterangan Kasospol ini melalui penerjemah dan tidak
diliput oleh wartawan.

Dmk ump ttkhbs (Demikian untuk menjadikan periksa.)

Jakarta, 5 Agustus 1996

- --------------------------
SiaR WEBSITE:
http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 26 Apr 2000 jam 10:40:06 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke