----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Media Indonesia , 28 April 2000

Kota Tumpuan Otonomi Daerah Demi Keutuhan Negara Kesatuan RI

JAKARTA (Media): Dasar pemikiran yang utama mengapa titik berat
otonomi diletakkan pada kabupaten dan kota adalah dalam rangka
memelihara Negara Kesatuan Republik Indonesia (RI).

Tidak dapat dinafikan, munculnya semangat micro-nationalism atau
nasionalisme sempit merupakan ancaman sangat kuat bagi
terpeliharanya nation-state bernama Indonesia. Lontaran
pemikiran itu disampaikan pakar pemerintahan dari UGM, Afan
Gaffar dalam seminar Sosialisasi Undang-Undang No. 22/1999 dan
No. 25/1999 di Hotel Sheraton Media, Jakarta, kemarin.

Menurut Afan Gaffar, yang terjadi di Aceh, Irian Jaya, dan Riau
adalah contoh-contoh "micro-nationalism". Dan hal itu merupakan
kenyataan yang sulit dinafikan. Karena itu, kata dia, titik
berat otonomi harus diletakkan di kabupaten dan kota, bukan di
provinsi.

"Kalau diletakkan di provinsi, akan terjadi proses akumulasi
tantangan terhadap keutuhan Negara Kesatuan," ujar Deputi Bidang
Peningkatan Kapasitas Registrasi Daerah pada kantor Menneg
Otonomi Daerah itu.

Dalam UU No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah, otonomi memang
dititikberatkan pada daerah kabupaten dan kota. Itu sangat ideal
bagi penerapan sebuah otonomi karena mendekatkan pemerintah
dengan rakyat.

Dengan demikian, pemberian pelayanan dan perlindungan kepada
rakyat akan dilakukan secara cepat, berdaya guna, dan berhasil
guna. Dalam bahasa Menneg Otonomi Daerah Prof. Ryaas Rasyid,
warga masyarakat yang membutuhkan pelayanan masyarakat tidak
harus pergi jauh ke ibu kota provinsi, tapi cukup dilakukan di
kabupaten atau kota.

"Anda bayangkan kesulitan orang-orang di pedalaman Irian sana
jika harus ke Jayapura hanya untuk mengurus sesuatu. Padahal,
sebenarnya itu bisa diselesaikan di daerahnya," kata mantan
Rektor IIP (Institut Ilmu Pemerintahan) tersebut kepada Media
belum lama ini.

Kendati begitu, menurut beberapa pengamat, penerapan otonomi
seperti itu akan membuat daerah bunuh diri. Sebab, tak banyak
kota atau kabupaten yang mampu mandiri untuk saat ini. Itulah
sebabnya, di awal-awal reformasi, pakar hukum tata negara Prof.
Yusril Ihza Mahendra (kini Menteri Hukum dan Perundang-undangan)
menganjurkan agar otonomi diterapkan di provinsi terlebih dulu.
Setelah sukses, barulah diterapkan di kabupaten atau kota.

Afan Gaffar menyatakan, pendapat di atas berkaitan erat dengan
pandangan yang telanjur melembaga, bahwa untuk menjalankan
otonomi daerah perlu uang. Sementara pendapatan asli daerah
(PAD) di sebagian kabupaten dan kota sangat kecil. Jadi,
bagaimana menyelenggarakan otonomi daerah bila PAD kecil.

Menurut Andi Alfian Mallarangeng, staf ahli Menneg Otonomi
Daerah, pandangan itu sudah ditinggalkan dalam UU No. 22/1999.
Kata kunci dari otonomi adalah pemberian kewenangan. Daerah
memiliki hak untuk memperoleh kewenangan apa saja. Rencananya, 7
Mei mendatang PP (peraturan pemerintah) kewenangan tersebut akan
dikeluarkan.

Memang, dengan kewenangan itu, urai Afan, daerah harus mampu
menciptakan peluang untuk pembangunan ekonomi bagi
masyarakatnya. Seperti disebut Abdul Karim Hanggi, pejabat
sementara Bupati Buol, Sulawesi Tengah, pelaksanaan otonomi
daerah adalah berkah, setelah sebelumnya daerah dikungkung oleh
sistem sentralisasi kekuasaan.

"Jadi, tentu saja siap melaksanakan otonomi," kata Karim.

Optimisme itu bisa jadi berlebihan. Beberapa peserta seminar
yang berasal dari daerah menyatakan kepada Media, masih banyak
persoalan yang belum dituntaskan menjelang penerapan otonomi.
Salah satunya adalah soal keamanan berinvestasi. "Bagaimana kami
bisa nyaman bekerja bila setiap hari granat meledak," ujar
peserta dari Aceh yang juga pegawai Mobil Oil, perusahaan asing
di Lhokseumawe, Aceh Utara.

Kepada Media, ia terang-terangan menyatakan, bila otonomi
diterapkan penuh, keamanan bisa bertambah parah. (Ref/P-2)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 1 May 2000 jam 05:27:48 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke