----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Antara, 2 Mei 2000

PEMULIHAN HUBUNGAN TIDAK TERGANTUNG PERTEMUAN GUS DUR-HOWARD

Canberra, 2/5 (ANTARA) - Pemulihan hubungan RI-Australia yang
memburuk karena masalah Timtim, tidak hanya tergantung pada
keberhasilan mempertemukan Presiden RI Abdurrahman Wahid atau
Gus Dur dengan PM John Howard. "Hubungan itu seharusnya
diperluas mencakup lebih banyak orang dan lembaga-lembaga yang
ada di kedua negara," kata Direktur Centre for Strategic and
International Studies (CSIS) Yusuf Wanandi ketika berbicara
dalam seminar "Rebuilding Bridges to Indonesia" di Sydney,
Senin.

Yusuf Wanandi yang menjadi pembicara bersama Pemred Majalah
Tempo Bambang Haryamurti mengingatkan Australia untuk banyak
belajar memahami karakter masyarakat Indonesia. "Australia harus
belajar mengurusi lebih banyak orang (Indonesia) ketimbang hanya
Soeharto, Gus Dur atau militer yang diakui dalam 10 tahun
terakhir berperilaku buruk," katanya dalam diskusi yang
diselenggarakan Masyarakat Australia-Asia.

Yusuf Wanandi mendesak Australia tidak hanya meminta Indonesia
memahami demokrasi yang berlaku di negara kanguru. Sebaliknya
Australia sekarang juga harus menghormati beragamnya pandangan
dalam demokrasi di Indonesia, katanya. Menurut dia, Australia
terlalu banyak meributkan soal perubahan waktu kunjungan Gus Dur
ke Australia. Ia tidak membantah jika dikatakan Gus Dur sering
berubah-ubah sikapnya, tetapi diingatkan pula bahwa Presiden RI
itu juga menerima banyak masukan informasi. Ia justru mengritik
cara pemimpin Australia PM John Howard yang tidak akrab dalam
melakukan pendekatan dengan Asia termasuk Indonesia.

Ia menyamakan John Howard seperti pria dari kota kecil Inggris
yang berlagak melihat ke regional (Asia), padahal tidak
melihatnya. "John Howard memahami dengan baik, tetapi tidak
peduli dengan regional itu. Mengapa saya harus (memahami)? Ini
kan Inggris di abad ke-19," katanya menebak cara pandang Howard
kepada Asia. Lebih parah lagi Howard yakin bahwa apa yang ia
lakukan selama ini adalah benar, sehingga sikap tersebut tidak
menjadi masalah buat dirinya, tambahnya.

Dikatakan pula bahwa pemerintah Australia terlalu reaktif dalam
menanggapi insiden penyergapan pesawat Angkatan Udaranya (RAAF)
oleh jet tempur TNI-AU, beberapa hari lalu. Ia percaya bahwa
insiden penyergapan pesawat RAAF bukan disengaja oleh Jakarta,
tetapi lebih karena kesalahan komando wilayah. (U.LCB-01/10:02
AM 2/05/2000/ND-05/ 2/05/:0 09:05)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 4 May 2000 jam 06:57:16 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke