----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Media Indonesia, 2 Mei 2000

GUS DUR JANGAN BUKA KRP. KARENA HANYA KEINGINAN SEBAGIAN RAKYAT
PAPUA

JAKARTA (Media): Presiden Abdurrahman Wahid diimbau tidak
membuka Kongres Rakyat Papua (KRP) akhir Mei ini. Karena hal itu
bukan perhelatan dan aspirasi seluruh rakyat Papua.

"Sebaiknya, Gus Dur mengundurkan niatnya untuk membuka Kongres
Rakyat Papua itu," kata Ketua PBNU Solahuddin Wahid saat
berbicara sebagai pembicara kunci dalam memperingati `Kembalinya
Irian Barat (Papua) ke Pangkuan RI` di Jakarta, kemarin.

Beberapa waktu lalu, pimpinan perhelatan akbar KRP seusai
diterima Presiden di Istana Negara mengungkapkan bahwa Gus Dur
menyatakan kesediaannya untuk membuka kongres tersebut. Bahkan,
saat itu Gus Dur menyatakan agar rakyat Papua menentukan sendiri
nasibnya melalui kongres tersebut.

Menurut Solahudin, niat menyelenggarakan kongres tersebut, bukan
aspirasi seluruh rakyat yang berada di provinsi paling timur
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini. Karena kongres
itu dimaksudkan untuk menentukan nasib mereka sendiri. Bahkan,
mereka menginginkan untuk melepaskan diri dari Indonesia.

"Itu hanya keinginan sebagian kecil yang mendukung kongres itu.
Padahal, sebagian besar rakyat di sana, ingin tetap bersatu
dengan Negara Kesatuan RI," tegas Solahudin lagi.

Oleh karena itu, Solahudin yang adik kandung Gus Dur ini,
menilai sebagai kepala negara, sangat tidak tepat Gus Dur
membuka kongres tersebut, karena tujuannya ingin melepaskan diri
dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Gus Dur harus menimbang perasaan masyarakat di provinsi yang
ingin menyatu dengan RI, apabila membuka kongres tersebut," kata
Solahudin yang juga Ketua DPP Partai Kebangkitan Umat (PKU).

Kongres Rakyat Papua ini menurut rencana akan diselenggarakan 29
Mei mendatang di Papua. Namun, sebelumnya akan diselenggarakan
prakongres di Jakarta yang melibatkan seluruh masyarakat Papua
di Jakarta pada 22 Mei mendatang.

Sementara itu, salah seorang putri Bung Karno, Sukmawati
Soekarnoputri menyatakan ketidaksetujuannya dengan rencana Papua
untuk menentukan sikap dan melepaskan diri dari Indonesia.
Pertimbangannya, sebagai bangsa Indonesia jangan sampai
melupakan sejarah pembebasan Irian Barat itu.

"Kita jangan melupakan sejarah. Banyak pejuang-pejuang kita yang
mati merebut dan mempertahankan Irian Barat yang kini berganti
nama menjadi Papua. Sebagai generasi penerus kita harus
menghargai mereka yang sudah menumpahkan darahnya dan
meninggalkan anak-istrinya demi tegaknya Sang Saka Merah Putih
di sana," kata Sukmawati yang juga tampil sebagai pembicara
dalam kesempatan tersebut.

Meski begitu, dia berharap dalam persoalan Irian Barat ini,
jangan saling menyalahkan, terutama kepada generasi pendahulu.
Namun, yang lebih penting, bagaimana kita bisa bersikap dan
menghargai bentuk-bentuk keadilan dan menghilangkan
ketidakadilan yang masih terjadi.

"Bagaimana caranya kita ini memperbaiki keterpurukan yang tengah
melanda bangsa Indonesia dan kembali meningkatkan kesejahteraan,
keadilan, dan pemerataan untuk seluruh rakyat Indonesia dari
Sabang sampai Merauke," katanya.

Sedangkan tokoh PNI 1928, Ny Supeni menilai tindakan melepaskan
diri dari negara RI bukan menjawab persoalan yang kini sedang
dihadapi masyarakat atau penduduk Papua. Karena masalah yang
sesungguhnya adalah bagaimana menghargai orang-orang Irian ini.

"Dulu Bung Karno berjanji kepada rakyat Irian untuk
menjadikannya `Anak Emas`. Tapi, perjalanan berikutnya,
jangankan menjadi `Anak Emas`, bahkan perasaannya telah terluka
akibat berbagai tindakan pemerintah yang sama sekali tidak
menghargai keberadaan mereka. Ini persoalan yang harus ditangani
pemerintah dan kita semua," katanya.

Memang harus diakui, menurut Ny Supeni, pembangunan fisik di
sana juga berjalan, tapi yang lebih penting bagaimana
pembangunan mental spiritual mereka.

Sementara itu, mantan anggota DPR-RI, Simon P juga kurang
sependapat kalau Papua melepaskan diri dari Indonesia. Untuk
itu, dia menganjurkan dialog antarperwakilan rakyat Papua dengan
pemerintah.

Dengan dialog akan diketahui, apa yang sesungguhnya diinginkan
rakyat Papua. "Saya yakin keinginannya untuk merdeka bukan satu-
satunya cara, tapi alternatif lainnya merealisasikan otoritas
khusus di sana bisa diusahakan. Kasihlah mereka kesempatan untuk
memimpin dan mengatur daerahnya sendiri. Pemerintah pusat cukup
memberikan dukungan penuh ke arah peningkatan kesejahteraan dan
kemajuan mereka," tegas Simon kemudian. (Win/P-4)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 4 May 2000 jam 06:57:28 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke