----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Kompas, 5 Mei 2000

Nurcholish Madjid: Gus Dur Masih yang Paling Tepat

Den Haag, Kompas

Cendekiawan Nurcholish Madjid (Cak Nur) mengatakan, Presiden
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah orang yang paling pantas dan
tepat untuk memimpin Indonesia saat ini. Selain memiliki visi
yang luar biasa, karakter Gus Dur yang nonsektarian, inklusif,
toleran, dan melindungi kelompok minoritas, memenuhi kriteria
pemimpin yang dibutuhkan masyarakat Indonesia yang majemuk.

Meski demikian, human capital investment yang dilakukan Gus Dur
dalam membangun kehidupan demokrasi di Indonesia, perlu memakan
waktu lama, sehingga membuat banyak pihak tidak sabar.

Hal itu dikemukakan Cak Nur di hadapan masyarakat Indonesia di
Kedutaan Besar RI di Den Haag, Belanda, pekan ini, seperti
dilaporkan koresponden Kompas Denny Sutoyo Gerberding.
Kedatangan Cak Nur-yang sedang mengadakan kunjungan ke sejumlah
negara di Eropa-telah lama dinanti masyarakat Indonesia di
Belanda, yang haus akan berita terkini dari Tanah Air.

Menurut Cak Nur, apa yang dikerjakan Gus Dur pertama kali
setelah menjadi presiden adalah "membuldozer" apa yang telah
dibangun Soeharto-dengan kata lain mendeformasi-dan kemudian
menata kembali (reformasi). Cacat yang dimiliki Soeharto adalah
dalam etika dan moral sosial, serta tidak dihiraukannya nilai-
nilai kemanusiaan, yang bagaikan wabah, telah merambah dan
mengakar ke mana-mana selama puluhan tahun.

"Sayangnya, dalam menjalankan misinya itu Gus Dur masih suka
mengeluarkan ucapan-ucapan yang kurang terkontrol dan tidak ada
koordinasi dalam penjabaran visinya, sehingga sering
membingungkan masyarakat. Oleh karena itu, Gus Dur perlu secara
periodik menjelaskan visinya dengan jelas, yakni suatu komitmen
yang dikomunikasikan kepada rakyat secara efektif, sehingga
terbentuk kristalisasi visi," kata Cak Nur.

Cak Nur juga menilai, Gus Dur telah melakukan kesalahan dengan
menaikkan gaji pejabat negara secara radikal, sehingga membuat
rakyat marah. "Jadi, masalahnya, bagaimana agar soal-soal mikro
tidak menjadi batu kerikil yang mengganggu Gus Dur," katanya.

Ia juga mengingatkan, pemilu lalu telah dimenangkan oleh
kelompok yang protes (terhadap rezim Soeharto), sehingga peta
politik masih cair dan bisa berubah sewaktu-waktu. "Masih banyak
unsur marah di situ. Oleh karena itu, untuk meneguhkan dukungan
rakyat, Gus Dur perlu segera tegas menegakkan hukum, lewat
kerangka acuan nasional, kalau perlu dengan bench mark yang
keras," katanya.

Bersabar

Cak Nur mengimbau agar masyarakat bersabar, karena tidak ada
demokrasi yang instan dan sekali jadi. "Keindonesiaan kita belum
final, masih dalam pertumbuhan. Negara kita sedang bereksperimen
dengan demokrasi dan proses ini sangat panjang, melalui trial
and error. Bahkan, untuk mencapai demokrasi yang pas bagi
Indonesia, kita bisa memerlukan waktu satu generasi," ujarnya.

Menengok ke belakang, kata Cak Nur, bangsa Indonesia telah
mengalami demokrasi liberal di tahun 50-an, tetapi gagal. Para
pendiri republik ini mendesain demokrasi Indonesia dengan
mencontoh model AS, lalu diubah menjadi demokrasi parlementer
model Eropa. Karena ricuh juga, akhirnya Bung Karno ber-
eksperimen dengan demokrasi terpimpin, yang akhirnya berlanjut
dengan peristiwa G-30-S.*

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 9 May 2000 jam 06:39:37 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke