---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- ISTIQLAL (11/5/2000)# MEMPERTAHANKAN TAP MPRS XXV/1966 = KEMBALI KE ZAMAN JAHILIAH Oleh: Alam Tulus Berbagai cara telah dilakukan kaum fasis Indonesia guna menentang dicabutnya kembali Tap MPRS No XXV/1966, yang melarang berdirinya PKI dan penyebaran ajaran marxisme-leninisme-komunisme. Di antaranya ada yang melalui pernyataan pada media massa, ada yang melalui demo sampai membakar bendera palu arit. Membakar bendera palu arit dalam hal ini, sesungguhnya mereka membakar bendera Gus Dur (NU) yang mengusulkan dicabutnya Tap MPRS tsb, serta bendera PKB yang mendukung pencabutan tsb. Kaum fasis mengharamkan komunisme, itu sudah hal yang umum. Suharto sebagai seorang fasis, besar sekali sumbangannya bagi pengembangan ideologi fasis di Indonesia. Di mulainya dengan melahirkan Tap MPRS No XXV/1966 dan kemudian ditingkatkannya ke penggulingan Presiden Sukarno dari kekuasaannya. Setelah kekuasaan berada di tangannya, maka siapa saja yang berani terang-terangan mengecam akal-akalan Suharto untuk memperkaya diri serta anak-anaknya melalui KKN, akan dijebloskannya ke dalam penjara. Dengan Tap MPRS yang melarang komunisme itu, Suharto leluasa untuk menuduh setiap orang sebagai komunis, subversif bila berbeda pendapat dengan dirinya, terutama bila berani menentang perbuatannya yang tidak adil. Dan orang-orang yang diuntungkan oleh Tap MPRS tsb selama 32 tahun Suharto berkuasa, berkepentingan benar untuk mempertahankan tetap berlakunya Tap MPRS teb. Kaum fasis dan pendukung fasis Suharto itulah yang kini bergerak menentang pencabutan tap MPRS tsb. Kefasisannya Tap MPRS itu diakui Sekneg melalui "buku putih "(G.30-S pemberontakan PKI), bahwa fasisme adalah ideologi otoriter yang memuja superioritas nasional! Anti komunisme dan liberalisme. Marilah kita menoleh kebelakang sejenak. TIGA DIMENSINYA SUKARNO Sebelum meletus apa yang dinamakan Peristiwa G.30-S, masalah perbedaan ideologi politik tidaklah begitu gencar dipermasalahkan. Bahkan NASAKOM-nya Bung Karno, Presiden pertama RI, yang awalnya dicetuskan pada tahun 1926, tidak diberi label ideologi sekuler dan menganut atheisme. Karena Bung Karno memiliki tiga kualifikasi sekaligus, yaitu: 1. Kehidupan kerohaniaannya (spritual way of lifenya) adalah seorang muslim taat, jadi agamis, Theis, bahkan menjadi anggota Muhammadiyah Bengkulu, yang Konsul PB-nya seorang muslim Tionghoa, Oei Cheng Hien; 2. Seorang nasionalis, yang bercita-cita memerdekakan bangsa dan tanah air, dan anti penjajahan (kolonialisme dan imperialisme); 3. Filsafat visi politik, ekonomi, menganut paham demokrasi dan sosialisme, yang memakai senjata sosial ekonomi paham marxisme, yaitu filsafat dialektika, ideologi mazhab sejarah materialisme, dan teori ekonomi politik evolusisme Darwin. Dalam dimensi spritual, Bung Karno adalah mukmin, bertauhidi, mengakui Keesaan Tuhan, jadi penganut monotheimse. Sebagai insan kelahiran dan putera Nusantara yang mengalami penjajahan dan penindasan kolonialisme dan imperialisme, Bung Karno berjiwa nasionalisme. Untuk memerdekakan rakyat, masyarakat, bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan dan mendirikan negara RI yang ber-Pancasila. Dalam dimensi politik ekonomi, sosial, Bung Karno memakai metode analisa ilmiah filsafat dialektika, yang dirintis oleh Hegel, Fauerbach (thesa, anti thesa dan synthesa). Dalam menganalisa perkembangan masyarakat (sosiologi), Bung Karno memakai metode yang dikembangkan oleh Darwin, yaitu historis materialism (dari primitif komunisme, pemilikan budak, feodalisme, kapitalisme, imperialisme, sosialisme dan modern komunisme). Ketiga-tiganya dijadikan trilogi (Nasamar-Nasionalisme, Agama dan Marxisme). Teori-teori itu adalah lahir di Eropa barat, setelah era Pencerahan dan Kebangkitan (renaisance) dan pemisahan bidang antara gereja dan Negara, atau antara agama dengan politik, antara masalah ukhrowi dan duniawi sehingga dipakai istilah profaan (agama) dan sekuler untuk urusan keduniaan. Bila mengatur dan mempermasalahkan ukhrowi memakai filsafat Theisme dan jika mempermasalahkan duniawi, memakai filsafat Non Theisme (Atheisme), tanpa mempermasalahkah urusan ilahiah. NON THEISME TIDAK ANTI TUHAN DAN AGAMA Di Jawa, sebelum peresmian pemakaian istilah Santri dan Abangan oleh Clifford Geertz, oleh rakyat biasa dipakai folklore "Mutihan", yang berasal dari bahasa Arab "Muthii" atau man athaa'a dan qauman atau ummatan/kaumatan. Sedang istilah Abangan dipakai untuk mereka yang non muthi yaitu Abaa Ya'baa, mengabaikan tidak mentaati, tidak menjalankan penuh syariah agama. Para Santri biasanya menyenangi pakaian yang berwarna putih, sehingga juga disebut kaum yang berpakaian putih. Walaupun kaum Abangan tidak menjalankan syariah, namun mereka tetap merasa sebagai muslim, karena ketika menginjak dewasa, dikhitan (diislamkan), atau nikah di serambi masjid, dengan menirukan pembacaan syahadatain sebagai pernyataan muslimin, berkeimanan kepada Allah dan rasulullah Muhammad Saw. Mereka disebut muslim cacah jiwa (statistik). Mereka yang diindikasikan, dengan praduga-salah, sebagai terlibat G.30-S, pada umumnya percaya kepada hal-hal yang ghaib dari hari kemudian (kiamat) atau yukminuuna bil ghaibi wabil akhirati hum yuqginuun. Jadi, tidak benar bahwa para penganut ideologi politik marxisme adalah didentikan dengan atheis atau penganut atheisme, hanya karena mereka mempermasalahkan masalah politik, sosial, ekonomi, dianggap sebagai murni "kedaulatan" dan bukan masalah agama atau Ketuhanan. Padahal mereka itu berpedoman kepada sabda Nabi Muhammad Saw:" Antum A'lamu biumuuri dunyakum" (Kalian lebih mengerti utusan keduniaan atau masalah sekuler). Jadi, bukan anti Tuhan dan anti agama. Jika dikaji lebih mendalam teori-teori marxisme, ternyata yang dinamakan atheisme adalah paham yang memilah antar bidang agama dan bukan agama, antara negara dan gereja, sehingga ada teori dua pedang atau dua kedaulatan. Yaitu kedaulatan Tuhan/Agama/Gereja dan kedaulatan Negara/sekuler. Gods sovereignity dan Kings sovereignity dan teori Teocratis dan Aristocratis. Jadi huruf "A" dalam atheisme adalah tidak mengkait-kaitkan dalam pemecahan masalah politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan, dengan hal-hal yang berada dalam bidang keagamaan dan Ketuhanan. Tetapi adalah salah kaprah yang terjadi di ndonesia, yaitu non theisme (atheisme) dinyatakan sebagai pandangan hidup anti dan tanpa Tuhan. Bukti sejarah empirik menunjukkan titik temu (kalimatin sawaa) antara Sosialisme dan Islam: 1. Buku karangan HOS Tjokroaminoto, pimpinan Pusat Partai Syarikat Islam yang berjudul "Islam dan sosialisme"; 2. Semaun, Darsono, Alimin dan Musso adalah mantan-mantan anggota SI dan murid HOS Tjokroaminoto, demikian pula Bung Karno, salah satu diantara founding fathers RI. Tentu dalam ajaran sekuler yang dianut para marxis dan ajaran Islam yang bermazhab kultural, yaitu persamaan, keadilan, kemanusiaan, kemerdekaan politik, sosial, ekonomi dan budaya. 3. Pernyataan-pernyataan almarhum pemimpin-pemimpin Masyumi pada era RI Yogyakarta (1946-1948) Mr Muhammad Roem, Mr Syafruddin Prawiranegara, Mr Yusuf Wibisono bahwa Masyumi dan Islam kultural dan substansial berasaskan Sosialisme religius. Tentang Syafruddin Prawiranegara menganggap dirinya sosialis Religius, dapat diketahui dengan membaca dalam sebuah buku kecil yang berjudul "Politik dan Revolusi Kita", Yogyakarta 1948. Dalam buku Syafruddin itu antara lain dikatakan: "Apabila unsur-unsur sosialisme tidak ada, revolusi Indonesia tidak ada artinya bagi kami, karena ia tidak memberikan harapan baru kepada kami. Bersama dengan para pemimpin partai-partai lain, ia menganggap pasal 33 UUD 45 sebagai pernyataan sosialisme. Karena itu mengkait-kaitkan para mantan tapol/napol G.30-S digebyah uyah sebagai atheist, anti Tuhan, anti Pancasila adalah kezaliman dan tirani mental dan character assasination. ARTI MEMPERTAHANKAN TAP MPRS XXV/1966 Sesungguhnya mempertahankan tetap berlakunya Tap MPRS XXV/1966, adalah untuk membela lembaga MPRS yang cacat hukum, karena dikotori oleh 136 orang anggota MPRS yang diangkat Suharto dari kalangannya sendiri, tanpa hak. Ia bukan Presiden, 136 anggota MPRS yang diangkat Suharto itu, ialah untuk mengganti anggota MPRS dari PKI dan PNI yang dipecatnya. MPRS yang cacat hukum itulah yang mengeluarkan Tap MPRS No XXV/1966 itu. Mempertahankan Tap MPRS No XXV/1966 adalah untuk mempertahankan suatu Tap yang bertentangan dengan UUD 1945 (pasal 27 dan 28), bertentangan dengan Pancasila. Menurut pidato Bung Karno dalam "Lahirnya Pancasila", negara RI didirikan bukan untuk satu golongan, melainkan dari semua buat semua. Jadi termasuk bagi kaum komunis. Dengan kata lain Tap MPRS tsb isinya menentang UUD 45 dan Pancasila. Jadi, tidak konstitusional. Mempertahankan Tap MPRS XXV/1966 adalah dengan tujuan untuk kembali ke zaman Suharto berkuasa, yang atas nama Demokrasi Pancasila dibunuhnya demokrasi, diinjak-injaknya hak-hak asasi manusia. Lihatlah diantaranya pembantaian di Tanjung Priok, di Aceh dsb. Mempertahankan Tap MPRS No XXV/1966, sama artinya dengan kembali keabad pertengahan (zaman jahiliah), dimana tidak ada kebebasan pikiran, keinsyafan batin (human consience) dan hati nurani manusia. Perbedaan cara berpikir, keinsyafan batin, hati nurani, ideologi, politik semestinya memperkaya khazanah alam pikiran dan budaya sprituai dan menjadi rahmat bagi bangsa dan Negara Republik. Tentu saja harus dia dakan dialog, komunikasi, rekonsialisasi atas dasar saling memahami dan mengerti, mencari titik temu (platform) untuk menegakkan keadilan, kemerdekaan dan meniadakan penindasan, penghisapan manusia oleh manusia. *** - ---------------------------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 12 May 2000 jam 06:53:14 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
