----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

ISTIQLAL (11/5/2000)# BISAKAH DICEGAH GENERASI MUDA TERPENGARUH PAHAM
KOMUNISME?

Oleh: Alam Tulus

        Meskipun pendukung fasis suharto, tetap ngotot menentang Gus Dur yang
mengusulkan dicabutnya Tap MPRS No XXV/1966, bahkan malah tampil
dengan berbagai-bentuk ancaman, namun Gus Dur tetap pada pendiriannya.
Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sekali lagi menyampaikan
keteguhan hatinya, tentang perlunya pencabutan Tap No XXV/1966 karena
Tap tsb melanggar hak hukum orang dan besar kemungkinan telah
menghukum orang tidak bersalah secara sewenang-wenang.
        "Tap tsb jadi karena semata-mata hawa nafsu seseorang yang takut dia
namakan PKI. Saya ini lahir dari keluarga bukan PKI, tetapi saya tahu
hak orang." Mengenai soal orang-orang komunis, kata Gus Dur, ada dua
hal yang jarang dimengerti. Pertama, soal hak hukum. Kedua, menyangkut
perkembangan pandangan politik. Nah, dua hal itu terpisah, tapi
dipersatukan oleh Tap MPRS tsb, maka Tap itu harus dicabut.
Bayangkan bekas PKI, kalau benar mereka terlibat, anaknya tidak bisa
sekolah, tidak bisa bekerja. Apa-apa dikatakan bekas PKI. KTP-nya saja
ada eks TP (tahanan politik). Itu kan nggak adil namanya. Itu anak
ngerti apa sih urusan orang tua.
        Kemudian Gus Dur mengutip ayat Al Quran, bahwa orang yang paling
mulia dihadapan Allah adalah mereka yang bertaqwa. Bukan karena orang
tuanya PKI, atau tidak. Orang tua PKI, bisa saja anaknya menjadi orang
soleh. Jadi kita jangan semena-mena bikin Tap yang isinya adalah
menghukum orang padahal dia tidak bersalah. Ini maksud Gus Dur
mencabut Tap MPRS itu.
        Untuk menghadapi komunisme, Gus Dur mengatakan paling gampang adalah
mendidik masyarakat. Kalau tidak setuju, jangan jadi komunis. Untuk
menentukan boleh tidaknya seorang komunis berpolitik, menurut Gus Dur
harus ditentukan oleh DPR/MPR. Artinya boleh nggak mereka ikut pemilu,
atau bikin partai komunis. Kita punya DPR dan MPR. Mengapa tidak
disalurkan lewat sana. Karena itu saya minta Tap itu dicabut, bukan
mencabut soal politiknya, tapi jangan sampai hak hukum orang kita
langgar, karena kita jengkel itu bukan orang muslim. Seorang muslim
yang benar, apapun senang atau tidak senang kebenaran adalah
kebenaran. Gus Dur mengatakan dirinya banyak mendapat kritikan dari
para kiai, termasuk dari seorang kiai "besar" menyangkut persoalan Tap
ini. Namun dia tetap pada pendiriannya.

DAYA TARIK KOMUNISME
        Apa yang dikatakan Gus Dur adalah menarik bahwa untuk menghadapi
komunisme paling gampang adalah mendidik masyarakat. Jika tidak
setuju, jangan jadi komunis. Mengenai pendidikan masyarakat ini
mengingatkan penulis kepada apa yang dikatakan Tarmizi Taher, ketika
ia masih memangku jabatan Menteri Agama.
        Ketika itu Tarmizi Taher mengemukakan bahwa sebagian besar lembaga
pendidikan Indonesia dewasa ini, kurang menyajikan materi pengajaran
yang berbunyi " anti komunisme". Sikap waspada terhadap bahaya laten
komunisme perlu secara khusus dan sejak dini ditanamkan pada setiap
generasi muda melalui lembaga pendidikan. Kadangkala generasi muda
tanpa sadar telah dipengaruhi filsafat yang berakar pada paham
komunisme, Tarmizi Taher mengimbau kepada pihak yang terlibat dalam
lembaga pendidikan untuk menyusun materi pengajaran yang berisi daya
tangkal terhadap pengaruh filsafat komunisme.
        Secara sadar atau tidak sadar Tarmizi Taher mengakui bahwa daya tarik
komunisme jauh lebih kuat dari daya tarik filsafat yang dianut Tarmizi
Taher. Hal itu dibuktikan dengan kadangkala generasi muda tanpa sadar
terpengaruh oleh komunisme. Padahal telah 32 tahun PKI dilarang. Dan
selama masa itu dengan leluasa pihak yang berkuasa mencaci maki,
menfitnah, memojokkan komunisme tanpa dapat kaum komunis membela diri
untuk menjelaskan duduk persoalan yang sesungguhnya.

SESUNGGUHNYA DIMANA LETAK DAYA TARIK KOMUNISME ITU?
        Menurut Franz Magnis Suseno,  daya tarik komunisme ini terletak dalam
keprihatinannya kepada kaum buruh dan golongan tertindas lainnya. Dan
itu mudah dimengerti pengikat PKI itu adalah partainya kelas buruh
yang bersekutu dengan kaum tani.
        "Kita harus sangat menghindar cara berpikir yang melihat bahwa mereka
yang memperhatikan keprihatinan buruh adalah selalu marxis atau
komunis, jangan sampai ada pengertian bahwa hakikat komunisme adalah
perhatian pada buruh. Itu malah akan membuat komunisme menarik. Saya
kira kita berdasarkan Pancasila harus mengusahakan keadilan sosial.
Dan, itu berarti memberi perhatian khusus kepada mereka yang secara
ekonomi lemah. Apalagi yang banyak terhisap, seperti buruh. Jadi,
perhatian terhadap buruh sama sekali tidak seharusnya berkaitan dengan
marxisme. Mereka yang mengadakan perhatian sungguh-sungguh kepada
buruh bukanlah lalu dapat ditandakan sebagai kaum marxis. Gereja
Katolik misalnya, sejak pertengahan abad yang lalu sudah memberikan
perhatian khusus kepada kaum buruh. Ajaran sosialnya mulai dengan
ajaran keadilan untuk buruh. itu dapat kita lihat dalam Ensiklik
Sosial I pada tahun 1981".
        Memang, yang memperhatikan kaum buruh tidak hanya kaum komunis,
tetapi juga katolik, apalagi Islam. Cuma perbedaan dalam
memperhatikannya, terletak dalam hal: kaum komunis secara konkrit
memperjuangkan lenyapnya penindasan dan eksploitasi yang dilakukan
kaum kapitalis terhadap kaum buruh, tani dan rakyat pekerja lainnya,
sedangkan golongan lain baru dalam "taraf ide". Atau dalam istilah
Magnis Suseno "harus mengusahakan keadilan sosial, belum
mempraktekannya".
        Bila Franz Magnis mengemukakan bahwa Katolik sudah memberi perhatian
khusus kepada kaum buruh sejak pertengahan abad yang lalu, maka Islam
(Al Quran) lebih 1000 tahun sebelum Marx muncul dengan teori
perjuangan kelasnya juga sudah mengemukakan keberpihakkannya kepada
kaum yang tertindas (mustadhafin). Tetapi tarafnya seperti yang
dikatakan Franz Magnis: baru "ide".

1. Celakalah, azablah bagi tiap-tiap orang pengumpat dan pencela, yang
menumpuk-numpuk harta benda dan menghitung-hitungnya (Al Humaszafh).
Bagaimana prakteknya? Jarang terdengar ulama Islam yang mengutuk
kapitalis, yang menumpuk-numpuk harta benda yang didapatnya dari nilai
yang dicurinya dari tenaga kaum buruh yang bekerja padanya. Malah
dalam batas tertentu, banyak ulama yang bekerja sama dengan kaum
kapitalis untuk menindas dan melawan pihak yang menentang kapitalisme.

2. Tuhan tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum, kecuali bila kaum
itu sendiri mengubahnya (Ar Ra'du ayat 11). Bagaimana prakteknya?
Jarang terdengar ulama yang menekankan supaya kaum mustadhafin bangkit
membebaskan dlri dari belenggu penindasan yang dipasungkan kaum
mustakbirin (para tiran, angkuh dan kaya) atas diri mereka. Yang
banyak terdengar ialah berikanlah sedekah, infak, zakat, fitrah kepada
kaum mustadhafin, yang menyebabkan ketergantungnya kaum mustadhafin
pada kaum mustakbirin.

3. Kami bermaksud akan memberi karunia kepada orang-orang yang
tertindas di bumi; kami akan jadikan mereka pemimpin di bumi dan
mewarisi bumi (Al Qashash ayat 5). Bagaimana prakteknya? Sudah lebih
14 abad lamanya janji itu  dikemukakan Tuhan dalam Al Quran. dalam
kenyataannya kaum mustadhafin tetap tertindas dan miskin, sebaliknya
mustakbirin tetap mustakbirin. Janji dalam  Al Quran itu belum
membumi. Tentu karena ulama-ulama Islam belum berjuang untuk
melaksanakan ayat tsb.

4. Mengapa kamu tiada mau berperang sabililah untuk (membebaskan)
orang-orang yang lemah, diantara laki-laki, perempuan-perempuan,
anak-anak, padahal mereka berdoa: Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami
dari negeri yang aniaya penduduknya dan adakanlah untuk kami seorang
Wali dari sisiMu dan adakanlah untuk kami yang mengurus pekerjaan dari
Kamu (An Nissa  ayat 75). Bagaimana prakteknya? Jarang terdengar ulama
Islam yang mengimbau umat Islam untuk berperang sabilillah untuk
membebaskan ummat yang dizalimi, yang dianiaya, yang dieksploitasi di
bidang sosial, ekonom politik dan budaya. Karena itulah maka janji
Tuhan dalam surat Al Qashash ayat 5-6 belum membumi, meskipun jaraknya
sudah 14 abad lebih. Apa yang dikatakan "jihad" ke Maluku, itu
bukanlah jihad yang dimaksud Al Qashash ayat 5-6 tersebut.

BERIMAN KEPADA SEBAGIAN DAN INGKAR PADA SEBAGIAN LAINNYA
        Sesungguhnya daya tarik Islam kuat sekali, terutama jika para
ulamanya mengamalkan ajaran Al Quran secara menyeluruh, tidak hanya
mengamalkan sebagiannya saja yang menguntungkan dirinya dan tak
mengamalkan  bagian lain, yang dianggapnya tak menguntungkan baginya.
        Kecenderungan banyak yang hanya beriman kepada sebagian isi Al Quran
dan ingkar atas sebagiannya. Telah dikemukakan dalam surat Al Baqarah
ayat 85:" Adakah kamu percaya kepada sebagian Kitab dan ingkar akan
sebagiannya. Maka tiadalah balasan bagi orang yang memperbuat demikian
di antaramu, melainkan kehinaan dalam kehidupan dunia dan pada hari
kiamat mereka dimasukkan ke dalam siksaan yang berat".
        Selama masih banyak ummat, terutama ulama dan pemimpinnya, yang hanya
beriman kepada sebagian Kitab dan ingkar akan sebagiannya, selama itu
pulalah daya tarik komunisme tak akan dapat dilampaui, meskipun daya
tarik Islam lebih kuat, karena telah muncul 1000 tahun lebih dulu
sebelum Marx.

MEMBENTUK KADER ANTI KOMUNIS
        Jalan apakah yang akan ditempuh Tarmizi Taher dkk supaya generasi
muda jangan-tertarik kepada komunisme?
        Untuk membentuk kader anti komunis yang handal tentu Tarmizi Taher
perlu mengenalkan pelajarnya dengan filsafat komunisme itu sendiri,
yaitu materialisme dialektika dan histori. Sebab, kalau kader anti
komunisnya tidak mengenal apakah itu komunisme, sama artinya mereka
tidak mengenal medan. Sasaran tembaknya bisa keliru, malah bisa
menembak temannya sendiri. Persoalannya: siapa yang harus memberikan
pelajaran filsafat komunisme itu? Seorang komunis, yang benar-benar
komunis dan karena itu mengenal lika-liku komunisme, ataukah seorang
yang anti komunis? Sudah tentu  Tarmizi Taher tidak akan memilih yang
akan menjadi pendidiknya itu, yang benar-benar komunis. Ia kawatir,
Jika yang mendidiknya komunis, tentu kadernya tidak akan menjadi kader
anti komunis, malah bisa menjadi kader komunis. Tarmizi Taher akan
memilih pendidiknya itu seorang yang anti komunis tetapi dianggap
mengerti tentang ajaran komunis.
        Bila jalan terakhir ini yang ditempuh Tarmizi Taher, maka hasilnya
sudah bisa diperkirakan akan mengecewakan Tarmizi sendiri. Seorang
yang anti komunis mengajarkan tentang apa komunisme itu, sama saja
seorang penyembah berhala mengajarkan tentang isi Al Quran. Tentu yang
akan diajarkannya, Al Quran menurut visi berhala. Begitu pula seorang
anti komunis mengajarkan tentang komunisme, tentu yang akan
diajarkannya komunisme menurut visinya sendiri, visi kelas
penghisapnya.
        Misalnya, taruklah yang ditunjuk menjadi pendidik anti komunis itu,
ialah Prof. Dr Franz Magnis Suseno SJ. Dia adalah lulusan Universitas
Muenchen (1975), dengan disertasi "Pemikiran-pemikiran Normatif Marx
Muda (Vorausstsungen Denken des jungen Marx)". Jadi ia ahli tentang
marxisme dan anti marxisme-leninisme-komunisme. Itu dibuktikan juga
dengan tulisannya "Marxisme-Komunisme itu sudah Finish".
        Menurut Frans Magnis Suseno tersebut, ideologi sosialisme, komunisme,
marxisme, leninisme itu sekarang sudah finish... sudah masuk museum...
sudah usang.
        Benarkah demikian? Apakah kesimpulan Frans Magnis itu sesuai dengan
metode berpikir dialektika dari kaum marxis?
        Jauh panggang dari api. Menurut dialektika, komunisme itu belum
finish. Ia senantiasaa dimudakan oleh kaum kapitalis. Kaum kapitalis,
melalui penghisapan yang mereka lakukan atas kaum buruh, senantiasa
melahirkan calon-calon komunis yang baru. Bagaimana komunisme
ditatakan finish?
        Dengarlah Bung Karno, yang menggunakan dialektika dalam memandang
lahirnya komunisme 72 tahun yang lalu, melalui tulisannya "Berhubung
dengan tulisannya Ir A. Baarg" (DBR, hal:57-51) antara lain
mengatakan: "Sosialisme, sogial-demokrasi, Komunisme adalah suatu
reaksi, suatu paham perlawanan terhadap pada kapitalisme, suatu paham
perlawanan yang dilahirkan oleh kapitalisme itu juga. Ia adalah
anaknya kapitalisme, tapi ia adalah pula suatu kekuatan yang mencoba
menghancurkan kapitalisme itu juga. Ia tidak bisa berada dalam suatu
negeri dimana kapitalisme belum berdiri, dan ia tentu ada suatu
negeri, jikalau negeri itu mempunyai aturan kemodalan ia tentu ada di
suatu negeri, jikalau negeri itu susunan pergaulan hidupnya ada
kapitalis."
        "Ia dalam hakikatnya bukanlah bikinannya beberapa orang " penghasut
bukanlah anggotanya beberapa orang "penusuk" atau "pengadu", bukanlah
buah akalnya Karl Marx atau Friedrich Engels atau Saint Simon atau
Proudhon atau Lassalle, ia adalah bikinannya, buahnya kapitalinme
sendiri. Selama kapitalisme sendiri belum lenyap, selama sumber
asalnya sosialisme atau komunisme sendiri masih mengalir, selama
aliran yang memeras tenaga dan kehidupan buruh itu belum berhenti,
maka reaksi diatasnya yang berupa pergerakan kaum buruh itu tidaklah
bisa dihilangkan pula adanya".
        Frans Magnis Suseso juga akan gagal melahirkan kader-kader anti
komunis, atau mencegah generasi muda jangan terpengaruh komunis,
apalagi bila dikatakan "Marxisme-Leninisme-komunisme itu sudah
finish". Anak didik tentu akan tersenyum geli, hal yang sudah finish
kenapa ditakuti lagi. Bila sudah finish, buat apa dipersoalkan lagi.
Mencari-cari kerja saja.
        Singkat kata, meskipun Frans Magnis yang akan mengajarkannya, mereka
toh akan gagal mencegah terpangaruhnya generasi muda oleh paham
komunis, selagi kapitalisme belum di-finish-kan.
        Meskipun pendidikan anti komunis akan diintensifkan untuk mencegah
generasi muda jangan terpengaruh oleh ajaran paham komunisme, hal itu
akan merupakan pekerjaan sia-sia belaka. Selama kapitalisme belum
dibikin finish kebangkitan komunisme tidak akan bisa dicegah. Yang
membangkitkan komunisme bukan kaum komunis, tetapi eksploitasi manusia
atas manusia yang dilakukan kapitalis sendiri. ***

- ----------------------------
SiaR WEBSITE:
http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 12 May 2000 jam 07:35:42 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke